Hari-Hari Ziarah Haji (9)

Mengkafirkan Syiah

Namanya Iskandar. Ia masih sangat muda untuk menjadi seorang ustaz namun ia semacam punya sekolah tingkat SMP-SMA yang program pesantrennya adalah tahfiz Quran (menghafal Quran sampai hafiz) di sebuah kampung Quran. Ia bertemu dengan saya pada hari-hari menjelang kepulangan saya ke tanah air. Kami bertemu di Masjid Nabawi, Madinah.

Ia mempunyai pengalaman yang istimewa yang kurang saya pahami. Ia ikut kloter Lampung padahal ia berdomisili di Sumedang. Ia juga tidak ikut program haji reguler pemerintah yang besarnya untuk tahun 2018 sekitar 35,5 juta termasuk 6 juta biaya hidup (living cost).

Menurutnya, biaya haji yang paling murah adalah haji reguler. Itu karena biaya makan di Mekah, Madinah relatif tinggi. Bila orang Indonesia harus makan nasi, maka satu kali makan tak kurang dari 10 riyal (sekitar 40 ribu), minumnya 5 riyal (sekitar 20 ribu). Bila orang indonesia beli roti saja, mungkin ia bisa beli roti itu dengan harga 5 riyal dan minumnya juga 5 riyal.

Biaya hotel tak kurang dari 1 juta semalam. Mungkin kamar hotel bisa digunakan oleh lima orang sehingga biayanya tidak terlalu besar. Ustaz Iskandar juga ikut menginap di jemaah reguler (dari Lampung) untuk menekan biaya hidup.

Ketika kami sedang berbincang-bincang, lewat seseorang dengan pakaian mullah (ulama Iran). Pakaian itu sangat khas dan tak pernah saya jumpai ulama negeri lain menggunakan pakaian itu. Saya langsung mengisyaratkan mullah itu kepadanya. Respons darinya sungguh mengejutkan (atau seharusnya begitu?).

Ia merespon dengan mengatakan bahwa syiah sesat. Lalu ia mengemukakan argumennya. Katanya Qurannya berbeda. Padahal tak mungkin Quran syiah itu dia temukan berbeda dengan Quran lainnya.

Ia juga mengatakan bahwa syiah meyakini 12 imam. Saya membenarkan bahwa syiah meyakini kemaksuman 12 imam. Namun kemaksuman itu harus terbukti, misalnya lewat sejarah, kumpulan ucapannya, dialognya, nasehatnya, perilakunya, dan sebagainya. Kemaksuman nabi saja ada yang mempertanyakan dan meragukannya. Jadi kemaksuman bukan masalah penting.

Isyarat saya kepadanya adalah bahwa orang Syiah juga bebas salat dan berhaji. Itu menandakan bahwa orang syiah adalah orang Islam. Banyak orang Iran bertebaran di Masjidil Haram (Mekah) dan Masjid Nabawi (Madinah). Orang Syiah melakukan salat dan haji dengan bebas.

Bagi saya respon Ustaz Iskandar adalah tipikal respon orang Indonesia. Ia mengkafirkan Syiah. Ia mengatakan bahwa akidah syiah berbeda. Syiah bukan mazhab dari Islam melainkan keluar dari Islam. Ia akui juga di kawasan tempat tinggalnya juga banyak orang Syiah. Entah ancaman apa Syiah bagi Sunni menurut Ustaz Iskandar?

Saya tahu bahwa Syiah berhaji. Mereka juga salat di dalam barisan muslimin. Itu sudah cukup membuktikan bahwa Syiah adalah Islam.

Adapun orang yang teriak-teriak dan menuduh Syiah di luar Islam itu pasti orang bodoh. Dia tak tahu bahwa orang Syiah bebas beribadah di Masjidil Haram (Mekah) dan Masjid Nabawi (Madinah). Atau dia akan menjadi ulama bodoh jika berhadapan dengan ulama Syiah. Karena eksistensinya terancam, itulah sebabnya ia berkoar mengkafirkan Syiah (?).

Ada beberapa contoh sederhana tentang kebodohan Sunni menurut saya yaitu umat mazhab Sunni tidak perhatian terhadap mazhab. Jika ditanya mazhab kamu apa? Ia akan bingung dan mengklaim bahwa dia Islam titik. Namun ketika melihat perbedaan akidah atau fikih, ia terkejut dan menolak perbedaan mazhab. Ini sebenarnya benih intoleransi di negeri ini. Ini kebodohan mazhab Sunni yang harus diberantas.

Bertahun-tahun saya mengikuti pengajian Sunni dan Syiah. Syiah sejak awal diperkenalkan sebagai mazhab, diperkenalkan kepada ulama yang saleh. Syiah juga didorong untuk toleran pada mazhab lain dan agama lain. Syiah juga mendorong umatnya untuk memghormati ulama lain, orang tua yang mungkin mazhabnya berbeda. Tidak ada dorongan untuk memaksakan mazhab kepada orang lain. Syiah juga mendorong umatnya untuk meninggalkan ulama yang buruk.

Menurut saya Ustaz Iskandar harus belajar tentang Syiah dari sumber yang otentik (asli, benar, sahih). Jangan belajar Syiah dari pembencinya. Sunni juga harus dipelajari dari sumber otentiknya (asli). Ia harus menggunakan akalnya untuk mempertimbangkan kebemaran. Kebencian harus didasarkan pada suatu alasan yang jelas. Menurur saya, Syiah tak pantas dibenci. Perbedaan mazhab dalam Islam tak bisa dihindari lagi. Lebih jauh para imam mazhab pun menghormati perbedaan ijtihad imam mazhab lain. Sayangnya di Indonesia masih ada yang menganggap Syiah sebagai sesat.

Saya sering bertemu dengan orang Iran. Video pertemuan saya dengan seorang ulama Iran adalah sebagai berikut.

Hari-Hari Ziarah Haji (3)

Mazhab-mazhab Islam dan Kesesatannya

Judul ini terlihat ekstrem karena acap demikianlah pemahaman picik penganutnya. Orang yang berada di luar mazhabnya dianggap sesat. Orang ini belum tahu mazhab lain lalu mazhab lain itu dianggapnya sesat.

Kali ini saya gembira ketika bertemu dengan sekurangnya lima muslim suni Iran. Saya melihat bendera di pita kalung mereka dan bertanya, “Aya shoma Inglisi sohbad mikonid? Inglisi baladid?” Kenanyakan orang Iran yang saya temui adalah orang syiah. Saya juga menyapa orang syiah ketika berziarah ke makam Khadijah, istri Nabi dan Jafar, paman Nabi. Namun kali ini kejutannya adalah saya menemui orang Iran mazhab Sunni Hanafi ketila hendak salat Jumat di masjidil Haram. Saya menemui mereka di pelataran tawaf tertutup. Mereka langsung mengatakan bahwa mereka Iran Sunni Hanafi. Bendera di pita kalung mereka adalah bendera Iran. Foto mereka adalah sebagai berikut.

Saya juga menemui seseorang dari Jawa Timur bersama orang Iran. Saya perkemalkan bahwa kepada orang Jawa Timur itu bahwa mereka orang Iran Sunni Hanafi. Dugaan saya, orang Jawa Timur ini cenderung ingin mengatakan bahwa syiah Iran sasat, menekan orang sunni, memaksa sunni menjadi syiah, membatasi masjid sunni, atau isu lainnya.

Sore harinya, saya juga mengunjungi pesantren NU di kawasan Mekah. Pada satu kesempatan saya berbincang-bincang dengan seorang santrinya. Kebetulan santri itu dari Sampang, Madura. Menurutnya kampung Tajul Muluk itu dekat dengan kampungnya. Saya tanyakan nasib Tajul Muluk. Ia kurang paham berita Tajul Muluk. Santri itu mengatakan bahwa syiah sesat dengan alasan mencaci sahabat, mencaci istri Nabi, Aisyah. Lalu ia menyinggung tentang akidah. Syiah pun banyak sekali mazhabnya.

Mesti dipahami bahwa Islam terdiri atas mazhab-mazhab. Yang patut disyukuri adalah semua menyembah Allah swt dan beriman kepada Muhammad Rasulullah saw. Semua mazhab Islam memuja Tuhan dan beriman kepada Rasulullah. Orang-orang berlomba menuju-Nya. Bahkan seorang muslim di Masjidil Haram memberikan tempat salat, tempat tawaf miliknya hanya agar sesama pemuja Tuhan lebih nyaman ibadahnya.

Di Indonesia pun organisasi HTI dilarang seperti konon di negeri lain. Namun, di kalangan penganutnya, paham HTI masih berkembang. Saya bertemu dengan mahasiswa S2 UPI yang ingin mencoba Indonesia menjadi kerajaan. Mungkin seperti kerajaan Saudi. Ada di antara dosen UPI, bahkan dosen PAI, yang beranggapan bahwa syariat Islam harus diterapkan melalui negara Islam. Hanya melalui negara Islam. Menurutnya itulah sunnah Nabi saw dan sunnah sahabat.

Menurut saya, berbeda pendapat tentang negara khilafah boleh saja. Ini juga berarti orang yang tidak suka sistem kerajaan Islam juga boleh berpemdapat. Orang yang berpendapat itu tidak boleh dikafirkan. Buktinya penganut HTI meski organisasinya dibubarkan, mereka masih hiduo dan kadang-kadang masih mencaci pemerintah sebagai pemerintah dzalim. Tidak hanya kepada pemerintah Jokowi, mereka sudah mentogutkan pemerintah SBY. Saya acap melawan pendapat mereka. Saya katakan saya tak suka sistem kerajaan. Mereka berbeda pendapat dengan saya.

Menurut Anda sistem kerajaan Saudi bagus untuk diterapkan di Indonesia? Bagaimana dengan kerajaan yang merampas hak orang lain, patutkah ditiru juga?

Lapor melalui Twitter

Twitter
@LAPOR1708
@kempanrb
@OmbudsmanRI137

Saya adalah masyarakat biasa yang mendukung kerja Pak Jokowi. Namun saya melihat kenyataan di masyarakat (lapangan) yang perlu diperhatikan pemerintah.
1. Harga karet di Jambi mohon dicek dari harga 15ribu pada masa SBY sekarang hanya 6ribu. Ini merugikan petani karet. Apakah distributor menetapkan harga terlalu murah? Apakah partai juga berperan atau menjadi distributor. Distributor membeli dengan harga rendah dari petani agar keuntungan berlipat.

2. Harga beras sekarang di atas 12 ribu dengan kualitas apek (jelek). Dulu 12ribu itu beras bagus. Saya yakin dari petani harga gabah hanya 4rb karena saya punya lahan pertanian. Apakah ini juga permainan distributor?

3. Apakah partai juga terlibat menjadi distributor dengan tujuan menjelekkan partai merah dan menguntungkan partai so called Islam?
Saya dengar di Bandung ada pasokan beras murah (subsidi?) dengan harga 9 ribu. Apakah pasokan ini akan ada atau sampai ke Sumedang? Sekarang di Sumedang justru beras 12 ribu apek (jelek).

4. Tarif listrik naik dulu bayar 250rb sebulan. Sekarang 400rb sebulan (prabayar). Tetamgga yang 900watt tarifnya dari120ribu menjadi 225ribu. Teman saya juga yang menggunakan 1300watt juga membayar 400ribu sebulan (prabayar). Ini sangat memberatkan.

5. Mengapa pemerintah tak bisa menciptakan listrik murah? Ini mengakibatkan harga produk yang menggunakan listrik naik.
Tetamgga yang 900watt tarifnya dari120ribu menjadi 225ribu.

6. Harga di atas akan menurunkan popolaritas. Orang tidak peduli pembangunan infrastruktur, atau korupsi Hambalang. Yang penting harga sembako dan listrik murah. Jangan sampai ini menjadi bumerang menjelang pilkada dan pilpres.

7. Apakah akan terjadi krismon lagi seperti masa Pak Harto pada tahun 1998 karena tanda-tandanya sudah ada?

Cerita Rakyat (Folklore) dan Bercerita (Storytelling)

Masyarakat Indonesia mempunyai tradisi cerita rakyat (folklore) yang kuat. Cerita rakyat itu acap tersebar luas dengan cara bercerita (storytelling) dalam trĂ disi lisan. Juru cerita atau juru dongeng acap kali dianggap sebagai penghibur. Mereka juga acap dikenal dengan kepandaiannya bahkan pada hal yang berbau magis, supranatural, transenden (paranormal?). Cerita memang dianggap mitos dengan konotasi kemampuan ajaib dan tuah. Cerita membawa pendengar pada relasi dorongan melakukan kewajiban dan menghindari larangan (keburukan).

Kemampuam seperti ini layak dimiliki oleh cendekiawan. Namun kemampuan seperti ini mesti didahului oleh pengetahuan tentang ragam cerita dalam berbagai tema. Tema keadilan, buruknya kejahatan, jahatnya kelicikan, meruginya pencurian merupakan tema-tema yang penting untuk membimbing umat mengindari perilaku buruk.

Bila pada masa sekarang sebagian orang sangat materialis. Mereka berlomba menumpuk kekayaan tanpa memperhatikan etika perilaku yang benar, tega mencuri demi kekayaan dan foya-foya dari hasil kejahatan, pamer kekayaan untuk menggoda orang berlomba melakukan kelicikan.

Begitu banyak tema yang dapat diangkat.

Kampus dan sekolah perlu membuat panggung. Memberi kesempatan orang berdiri di depan massa. Mengibur dengam gurauan bermutu, bercerita demgan hikmah teladan.

Metode Pembelajaran

Seolah pembelajar mencari metode belajarnya sendiri untuk memahami atau terampil pada pembelajaran.

Saya belajar piano mulai dari fur elise, ode to joy, canon, hingga nocturne opus no2. Saya mencari metode sendiri. Hanya waktulah yang membatasi usaha, kelelahan. Saya mencari tujuan. Apakah belajar piano akan mengantar saya kepada Allah? Apakah tujuan itu hanya tujuan kemanusiaan? Bila tujuan hanya tujuan kemanusiaan atau selain rida Tuhan, maka tujuan itu menjadi sangat sempit.

Guru2 mencari metode agar murid mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran bukan hanya terampil atau berubah perilaku. Tujuan itu mesti mencapai rida Tuhan.

Upi atau perguruan tinggi berusaha agar mahasiswa nya mencapai tujuan pembelajaran. Acap Kali perguruam tinggi yang mahasiswanya pilihan hanya akan memilah siswa yang tuntas atau tidak tuntas. Dosen acap tak peduli bila mahasiswa tidak tuntas. Dosen berpikir mahasiswa yang tuntas maupun yang tidak tuntas akan mendapat jalan hidupnya sendiri atau mendapat pekerjaannya sendiri.

Mungkin saja mahasiswa yang nilainya bagus mendapat rezeki yang tidak lebih banyak dari pada mahasiswa yang nilai nya biasa saja.

Seolah dosen atau guru berkata, tak apa nilaimu tak seberapa karena mungkin rezekimu lebih banyak dari yang nilainya lebih baik darimu. Ini berarti setiap murid tak boleh rendah diri saat nilainya jelek.

Guru memang selalu berharap siswa tuntas dalam pembelajaramnya.

Saya pernah bertemu guru di Rancakalong. Ia mengatakan bahwa di tempatnya, ada siswa yang tak tuntas membaca permulaan atau sulit tuntas dalam pelajaran itu. Namun siswa ini dan temam temannya tak pernah rendah diri. Temannya tak pernah mengejek dan merendahkan. Tak pernah khawatir hidupnya akan menjadi orang atau tukang yang kurang berguna. Seolah semua anak bisa melanjutkan atau mengembangkan usaha warisan dari ayahnya masing-masing.

Di manakah posisi UPI dalam pengembangan metoda dan media pembelajaran? Di manakah posisi UPI dalam pengembangan kurikulum dan media pembelajaran? Apa beda universitas Pendidikan dengan universitas teknik vokasional?