Lapor melalui Twitter

Twitter
@LAPOR1708
@kempanrb
@OmbudsmanRI137

Saya adalah masyarakat biasa yang mendukung kerja Pak Jokowi. Namun saya melihat kenyataan di masyarakat (lapangan) yang perlu diperhatikan pemerintah.
1. Harga karet di Jambi mohon dicek dari harga 15ribu pada masa SBY sekarang hanya 6ribu. Ini merugikan petani karet. Apakah distributor menetapkan harga terlalu murah? Apakah partai juga berperan atau menjadi distributor. Distributor membeli dengan harga rendah dari petani agar keuntungan berlipat.

2. Harga beras sekarang di atas 12 ribu dengan kualitas apek (jelek). Dulu 12ribu itu beras bagus. Saya yakin dari petani harga gabah hanya 4rb karena saya punya lahan pertanian. Apakah ini juga permainan distributor?

3. Apakah partai juga terlibat menjadi distributor dengan tujuan menjelekkan partai merah dan menguntungkan partai so called Islam?
Saya dengar di Bandung ada pasokan beras murah (subsidi?) dengan harga 9 ribu. Apakah pasokan ini akan ada atau sampai ke Sumedang? Sekarang di Sumedang justru beras 12 ribu apek (jelek).

4. Tarif listrik naik dulu bayar 250rb sebulan. Sekarang 400rb sebulan (prabayar). Tetamgga yang 900watt tarifnya dari120ribu menjadi 225ribu. Teman saya juga yang menggunakan 1300watt juga membayar 400ribu sebulan (prabayar). Ini sangat memberatkan.

5. Mengapa pemerintah tak bisa menciptakan listrik murah? Ini mengakibatkan harga produk yang menggunakan listrik naik.
Tetamgga yang 900watt tarifnya dari120ribu menjadi 225ribu.

6. Harga di atas akan menurunkan popolaritas. Orang tidak peduli pembangunan infrastruktur, atau korupsi Hambalang. Yang penting harga sembako dan listrik murah. Jangan sampai ini menjadi bumerang menjelang pilkada dan pilpres.

7. Apakah akan terjadi krismon lagi seperti masa Pak Harto pada tahun 1998 karena tanda-tandanya sudah ada?

Cerita Rakyat (Folklore) dan Bercerita (Storytelling)

Masyarakat Indonesia mempunyai tradisi cerita rakyat (folklore) yang kuat. Cerita rakyat itu acap tersebar luas dengan cara bercerita (storytelling) dalam trĂ disi lisan. Juru cerita atau juru dongeng acap kali dianggap sebagai penghibur. Mereka juga acap dikenal dengan kepandaiannya bahkan pada hal yang berbau magis, supranatural, transenden (paranormal?). Cerita memang dianggap mitos dengan konotasi kemampuan ajaib dan tuah. Cerita membawa pendengar pada relasi dorongan melakukan kewajiban dan menghindari larangan (keburukan).

Kemampuam seperti ini layak dimiliki oleh cendekiawan. Namun kemampuan seperti ini mesti didahului oleh pengetahuan tentang ragam cerita dalam berbagai tema. Tema keadilan, buruknya kejahatan, jahatnya kelicikan, meruginya pencurian merupakan tema-tema yang penting untuk membimbing umat mengindari perilaku buruk.

Bila pada masa sekarang sebagian orang sangat materialis. Mereka berlomba menumpuk kekayaan tanpa memperhatikan etika perilaku yang benar, tega mencuri demi kekayaan dan foya-foya dari hasil kejahatan, pamer kekayaan untuk menggoda orang berlomba melakukan kelicikan.

Begitu banyak tema yang dapat diangkat.

Kampus dan sekolah perlu membuat panggung. Memberi kesempatan orang berdiri di depan massa. Mengibur dengam gurauan bermutu, bercerita demgan hikmah teladan.

Metode Pembelajaran

Seolah pembelajar mencari metode belajarnya sendiri untuk memahami atau terampil pada pembelajaran.

Saya belajar piano mulai dari fur elise, ode to joy, canon, hingga nocturne opus no2. Saya mencari metode sendiri. Hanya waktulah yang membatasi usaha, kelelahan. Saya mencari tujuan. Apakah belajar piano akan mengantar saya kepada Allah? Apakah tujuan itu hanya tujuan kemanusiaan? Bila tujuan hanya tujuan kemanusiaan atau selain rida Tuhan, maka tujuan itu menjadi sangat sempit.

Guru2 mencari metode agar murid mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran bukan hanya terampil atau berubah perilaku. Tujuan itu mesti mencapai rida Tuhan.

Upi atau perguruan tinggi berusaha agar mahasiswa nya mencapai tujuan pembelajaran. Acap Kali perguruam tinggi yang mahasiswanya pilihan hanya akan memilah siswa yang tuntas atau tidak tuntas. Dosen acap tak peduli bila mahasiswa tidak tuntas. Dosen berpikir mahasiswa yang tuntas maupun yang tidak tuntas akan mendapat jalan hidupnya sendiri atau mendapat pekerjaannya sendiri.

Mungkin saja mahasiswa yang nilainya bagus mendapat rezeki yang tidak lebih banyak dari pada mahasiswa yang nilai nya biasa saja.

Seolah dosen atau guru berkata, tak apa nilaimu tak seberapa karena mungkin rezekimu lebih banyak dari yang nilainya lebih baik darimu. Ini berarti setiap murid tak boleh rendah diri saat nilainya jelek.

Guru memang selalu berharap siswa tuntas dalam pembelajaramnya.

Saya pernah bertemu guru di Rancakalong. Ia mengatakan bahwa di tempatnya, ada siswa yang tak tuntas membaca permulaan atau sulit tuntas dalam pelajaran itu. Namun siswa ini dan temam temannya tak pernah rendah diri. Temannya tak pernah mengejek dan merendahkan. Tak pernah khawatir hidupnya akan menjadi orang atau tukang yang kurang berguna. Seolah semua anak bisa melanjutkan atau mengembangkan usaha warisan dari ayahnya masing-masing.

Di manakah posisi UPI dalam pengembangan metoda dan media pembelajaran? Di manakah posisi UPI dalam pengembangan kurikulum dan media pembelajaran? Apa beda universitas Pendidikan dengan universitas teknik vokasional?

Pendidikan Ulama Kurang Terawasi?

Seorang ustad pesantren Ibn Masud, Bogor membakar umbul-umbul merah putih pada peringatan hari kemerdekaan RI. Ustad ini memang dikenal anti-NKRI dan marah melihat sejarah perkembangan NKRI telah 72 tahun.

Mungkin saja ustad itu sengaja dengan peebuatannya agar masyarakat tahu bahwa pedantren ini diajarkan radikalisme. Maka ia memberi pesan kepada negara c.q. kepolisian tentang penyimpangan pesantren ini. Jelas pesantren ini berpotensi berafiliasi pada HTI, ISIS, atau semacam organisasi khilafah lain.

Mungkin juga ustad ini “saking bahlulnya” malah menolak NKRI. Membuang seluruh undang-undang hasil kerja DPR walaupun undang-undang ini bukan tidak ada kekurangannya. Lalu hendak menggantinya dengan undang-undang yang katanya Islami seperti potong tangan bagi koruptor, penutupan dugem di bulan Ramadan, penutupan rumah makan di bulan Ramadan, rajam bagi pezina, mengatur penyelenggaraan hari raya Islam agar tidak terjerumus musyrik.

Kalau undang-undang itu dibuang seluruhnya, berarti kita dari nol lagi. Dulu Bung Karno berdiplomasi dengan sekutu saat dibonceng NICA. Agar kemerdekaan Indonesia diakui sekutu dan dunia, Bung Karno memberikan Freeport untuk sekutu (AS). Itu juga disebabkan Indonesia yang baru lahir tidak punya UU untuk mengatur migas, minerba. Sekarang kita punya UU itu dan Freeport yang selama ini nakal digiring untuk menaatinya atau angkat kaki dari Indonesia.

Kalau undang-undang migas, minerba dibuang, yang enak adalah Freeport. Freeport akan terus berkuasa atau mengajukan RUU minerba baru yang menguntungkan mereka. Tentu saja mereka ingin wakil rakyat yang berpihak kepada mereka, bisa mereka beli dengan suap, bodoh sehingga hanya mementingkan perutnya sendiri.

COPAS Sertifikasi dan Peningkatan Kualitas Penceramah

1. Profesi paling gampang di dunia ini kayaknya jadi ustad karena tak perlu punya sertifikat profesi atau ijazah pesantren/madrasah/IAIN

2. Anda mau jadi dokter, harus kuliah lama dan susah. Mau jadi ekonom juga begitu. Jadi Hakim pun sama. Tetapi jadi Ustad paling gampang.

3. Sekarang artis gampang sekali berpindah peran jadi penceramah. Lulusan sekolah umum jadi da’i. Atau keturunan Nabi langsung dianggap ulama

4. Sementara itu, ulama sungguhan malah dinistakan dan dicaci-maki. Ustad karbitan malah diikuti umat. Ini musibah di akhir zaman

5. Parahnya lagi para ustad jadi-jadian itu bukan hanya merasa paling alim soal agama tetapi juga sok tahu dalam urusan kedokteran, sains, ekonomi

6. Jadilah negeri kita overdosis urusan beragama. Semua masalah mau dicari jawabannya dari kata ustad gadungan. Tidak lagi dipilah-pilah sesuai bidangnya

7. Masalah vaksin, bukan bertanya kepada dokter malah bertanya kepada ustad. Perempuan sulit melahirkan mau disesar malah di-ruqyah.

8. Bumi bulat atau datar bukan nanya saintis malah nanya ustad. Perempuan sulit hamil, kata ustad gara-gara pakai pembalut, malangnya, umatnya percaya

9. Kalau dinasehati, jawabannya para saintis dan ilmuwan itu tengah berkonspirasi melawan Islam. Semua dianggap musuh Islam

10. Islam itu mengajarkan keadilan untuk menempatkan sesuatu sesuai proporsinya dan sesuai keahliannya

11. Tapi kalau sekarang kita bicara sesuai keahlian malah dibilang sombong. Yang penting itu aqidah katanya. Bukan ijazah berderet.

12. Sudah saatnya Kemenag menertibkan para ustad jadi-jadian. Yang mualaf atau artis dan terlanjur dianggap ustad, suruh ikut kursus keislaman

13. Hanya mereka yang lulus kursus keislaman dan kursus etika penceramah yang boleh dikasih izin untuk khutbah atau ceramah

14. Kalau ini tidak dibenahi maka siapapun bisa mengklaim jadi ustad. Ini berbahaya. Kualitas umat tidak akan pernah naik kelas.

15. Arahnya bukan pada penertiban atau pembungkaman ustad tapi pada peningkatan kualitas dan standarisasi profesi penceramah

16. Ini semata guna meningkatkan kualitas umat agar mendapat materi ceramah yang berkualitas dan sesuai dengan konteks keindonesiaan

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Catatanku

Di Iran selain ada pengadilan agama, ada pula pengadilan ulama untuk mengadili ulama secara terhormat.