Balada BUMN yang (Kapan Bisa Tidak) Bangkrut

Jiwasraya bangkrut, Pertamina bangkrut, Krakatau Steel bangkrut, Garuda bangkrut, rumah sakit bangkrut, pengelola pelabuhan Pelindo bangkrut, IPTN bangkrut, PAL bangkrut, perkebunan negara bangkrut.

Mengapa BUMN-BUMN itu bangkrut? Kalau saya pemilik perusahaan (atau pemilik saham), manajer yang tak bisa memberi keuntungan kepada perusahaan akan saya pecat. Apalagi bila sebenarnya perusahaan saya itu untung, tetapi keintungan itu tidak disetor kepada saya melainkan dibagi-bagi kepada sebagian manajer dan pimpinan perusahaan.

BUMN-BUMN itu boro-boro ngasih untung ke negara atau rakyat, mungkin keuntungannya dibagi-bagi di antara para pejabatnya.

Bisa dibayangkan semacam pertamina yang memompa minyak menggunakan alat dan dana negara, ketika minyak itu dijual, koq malah rugi. Rencana gila macam apa perusahaan semacam itu?

Baguslah presiden memecat para pejabat BUMN. Asal bukan semata diganti oleh kroninya (misalnya dari partai) sehingga cuma berpindah rezim. Kalau pimpinan baru tetap orang korup, pasti perusahaan jadi gabener juga, ling-lung, dan tidak jelas. Presiden harus mengganti pimpinan atau manajer BUMN dengan orang yang bersih dan tegas. Bukan orang yang lembek dan bisa ditipu bawahan.

(Jadi ingat ketika Ignatius Jonan membenahi kereta api sehingga nyaman selain memberi keuntungan. Ingat juga Kopaja, Damri, atau angkutan Ibu Kota dibuat nyaman oleh Gubernur Ahok (?). )

Reklamasi dan normalisasi dibenahi secara terbuka dan transparan. Rakyat bisa menyaksikan pekerjaannya. Pimpinan harus menjamin bahwa perusahaan itu memberi keuntungan, bukan sekedar memberi fasilitas bagi rakyat.

Begitu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan presiden atau gubernur. Untung saja presiden punya pembantu seperti menteri dan semacamnya. Untung saja gubernur punya dinas.

Hari-Hari Ziarah Haji (48)

Ngiringan Pangaosan Syiah vs Ontaleran

Lamun urang asup ka pangaosan Syiah, moal aya anu curiga, “Maneh Sunni nya?” Atawa komo, “Maneh Islam nya?” Kacida.

Tapi balik ti pangajian Syiah, bisa jadi batur kalahka mariksa, “Maneh Syiah nya? Geuning balik ti pangajian Syiah.” Ngan henteu we, “Ari maneh Islam keneh?” Atawa, “Cing sahadat, euy.”

Ku sabab kuring teu pati paduli kana mazhab, kuring mah bebas rek kaditu-kadieu. Euweuh nu bisa maksa. Eta pedah cenah aya nu sok mamaksa: kudu khilafah, kudu milih partai anu, salat kudu kieu, teu meunang kitu. Har, ari sia saha? Guru aing lain, dipenta ngawuruk ge henteu. Nyasab sia mah.

Terjemah

Masuk Pengajian Syiah vs Ontaleran

Kalau kita ikut penjajian Syiah, tidak ada Syiah yang bertanya curiga, “Kamu Sunni ya? Ngapain ke sini?” Tidak ada orang Syiah yang mrmpertanyakan, “Kamu Islam?” Kelewatan.

Sebaliknya jika kita baru selesai ikut pengajian Syiah, bisa jadi orang usil malah bertanya, “Kamu Syiah, ya? Ngapain ikut pengajian Syiah?” Apa mungkin ada yang bertanya, “Kamu masih Islam?” Atau, “Coba ucapkan syahadat lagi!”

Karena saya orang bebas, tidak terlalu peduli pada mazhab, saya bebas pergi ke manapun atau ikut pengajian manapun. Tidak ada yang bisa maksa saya, apalagi organisasi khilafah. Tak ada yang boleh memaksa saya harus baiat khilafah, memilih partai anu, harus bersyariat ini-itu, harus meninggalkan syariat ini-itu. Memangnya siapa kamu, koq memaksa-maksa? Kamu ‘kan bukan guruku, bukan ustazku. Kamu cuma orang kesasar yang ingin diikuti, padahal kamu cuma orang awam.

Hari-Hari Ziarah Haji (47)

Aku, Syiah, NU, dan Kaum Takfiri

Ringkasan
Karena sering menghadiri majlis Syiah, ulama Syiah bertanya kepadaku, “Apakah engkau Syiah?”

Saya menjawab, “Ustaz, saya tidak cukup baik untuk jadi Syiah.”

Beberapa waktu kemudian, karena diasumsikan Syiah, saya bilang kepada Ustaz Syiah, “Ustaz, saya ingin pindah mazhab jadi NU.” Ustaz Syiah tadi diam.

Untuk jadi Syiah bagi takfiri cukup dengan cara tidak benci Syiah. Untuk jadi Islam bagi takfiri tak cukup syahadat melainkan harus seperti dia, salat seperti dia, berpendapat seperti dia, bahkan berorientasi politik seperti dia.

Uraian
Aku dilahirkan dari keluarga Islam yang tidak peduli mazhab. Orang tuaku cenderung NU walau ada pengaruh Muhammadiyah dan Persis. Cukup aneh bagi keturunan Sunan Gunung Jati yang biasa ziarah, wasilah, tahlil, solawatan, marhabanan, muludan, suroan/muharaman, rebo wekasan/arbainan lalu belajar berpikir bahwa semua itu bidah. Kampusku cenderung Muhammadiyah dan Persis. Saya ingat bahwa ketika salah seorang kerabat kami meninggal, Ustaz terkenal di kampusku takziah ke rumahku, salat jenazah, lalu berkata, “Jangan tahlilan.” Lalu beliau pulang.

Kami tahlilan selama tujuh hari dan pada hari keempat puluh karena kebiasaan warga memang tahlilan. Bagiku juga tidak pas jika satu anggota keluarga wafat, lalu keluarganya yang hidup tidak mendoakan dan tahlilan. Rasanya sepi sekali. Pasti keluarga itu malam-malamnya punya penglihatan.

Selama satu bulan anggota keluarga akan merasa melihat almarhum atau almarhumah ada di dalam rumah, beraktivitas seperti biasa. Itu yang dikatakan Uni Julia di Surabaya saat saya mengunjunginya. Tak pernah kulupakan kebaikannya itu, walau kadang kami berbeda pendapat tentang kebaikan Jokowi atau oponen politiknya. Seingat saya Uni Julia lebih dahulu ditinggal ibunya. Disusul ibuku. Ayahnya mengunjungi rumah kami tatkala duka meliputi rumah kami dan berziarah di makam ibuku dan berdoa di atasnya.

Cukup banyak warga kampusku yang tidak tahlilan. Saya ingat ketika ada beberapa warga kampus yang anggota keluarganya meninggal. Bada magrib saya mendekati rumahnya, ternyata benar, di sana tidak diselenggarakan tahlilan. Ada pula di rumahku sekarang warga keturunan Sunan Gunung Jati yang menganggap tahlilan itu cuma tradisi. Namun ia mentelenggarakan tahlilan karena tradisi lingkungannya adalah tahlilan.

Saat Ramadan, kampusku salat tarawih 11 rakaat. Aku tidak tahu bahwa NU salat tarawih 23 rakaat. Setelah dewasa aku mendengar Aki mengatakan bahwa NU garis keras mengecam orang-orang yang tarawihnya 11 rakaat. Sering juga saya ikuti salat subuh di kampus tanpa qunut. Namun qunut dilakukan setiap salat fardu ketika Gaza diserang Zionis pada Perang 33 Hari. Alhamdulillah akhirnya Hizbullah memenangkan pertempuran itu dan menghapus stigma Israel tak terkalahkan.

Kini Hizbullah makin kuat dengan rudal presisi dan rudal jarak jauhnya. Hizbullah pernah mengancam meroket Israel karena jangkauan roketnya bisa mencapai Israel. Bila hujan roket melanda Israel, pertahanan kubah besi Israel tak akan mampu menahan seutuhnya. Inilah nanti perang akhir zaman, yaitu ketika meteor berjatuhan dari langit, prajurit tidur di atas pelana kuda, pedang yang dipukulkan ke gunung akan menghancurkan gunung itu. Imam Mahdi, Imam Husain, dan Nabi Isa turun untuk memimpin peperangan itu.

Beberapa saat kemudian saya tahu bahwa Syiah tidak tarawihan sama sekali. Mereka cuma salat malam secara individual, mengisi malam Ramadan dengan tadarus Quran dan berdoa secara masif dengan doa yang panjang.

Saya pernah mengikuti beberapa kali pengajian Syiah. Pertama saya tahu Syiah karena membaca buku kliping koran Imam Khomeini tahun 1990-an. Sekitar tahun 2000-an saya diajak pengajian Syiah oleh seorang teman yang saya tak tahu pasti kesyiahannya. Yang jelas dia bukan takfiri. Sebelumnya saya benci dan menentang Syiah. Entah saya bisa sampai mengkafirkan. Namun Tuhan memberi saya jalan lain.

Begitu banyak sekte agama lain yang mengkafirkan saudaranya sendiri, bahkan disertai kecaman, pengusiran, pemukulan, penggarongan, penistaan wanita, pengutukan anak-anak, pembunuhan, penyaliban, pembakaran, penggantungan, penyiksaan, …. Mungkin selangkah lagi saya sampai pada tahap itu. Namun Tuhan memberi saya nikmat rahman dan rahim. Saya menyayangi Syiah tidak dengan cara kecaman atau tindakan buruk lain.

Karena saya hadir di pengajian Syiah dan mengikuti doa masif mereka, Ustaz Syiah berkata kepada saya, “Apakah kamu Syiah?”

Saya menjawab, “Ustaz, saya tidak cukup baik untuk jadi Syiah.”

Saya tak tahu apakah saya bertaqiah di hadapan ulama Syiah. Yang jelas, saya jadi tidak membenci Syiah setelah saya tahu keutamaan mereka dan doa masif mereka. Belakangan saya tahu bahwa NU juga mengamalkan doa Jausyan Kabir secara masif seperti Syiah.

Mungkin ustaz Syiah itu menduga saya Syiah. Kalangan ektremis biasanya mencap Syiah kepada orang-orang yang tidak benci Syiah. Saya aman keluar masuk pengajian syiah. Saya menjamin keamanan orang-orang yang tak punya niat buruk untuk ikut pengajian syiah. Tak akan ada pemaksaan, tak akan ada baiat. Diskusi dan debat dibebaskan seperti konon di hauzah Iran.

Diasumsikan saya syiah, saya bilang kepada Ustaz Syiah, “Ustaz, saya ingin pindah mazhab jadi NU.” Ustaz syiah tadi diam. Tidak ada ancaman, kekecewaan, atau gambaran emosi semacamnya. Saya bebas menentukan pilihan.

Saya tak tahu apa yang akan terjadi jika ucapan ini dilontarkan kepada orang macam Athian Ali Dai atau orang-orang Annas. Orang-orang Annas mengklaim menjaga umat Islam dari bahaya akidah syiah. Padahal pengalaman saya menunjukkan bahwa syiah tidak berbahaya. Argumen yang saling bertentangan bisa dimunculkan namun perdamaian harus tetap terjaga.

Saya mengenal Athian Ali Dai sejak saya masih bocah. Saya kagum terhadap pemikirannya. Kini saya menduga bahwa dia selevel (?) mujtahid dalam Syiah. Dia bisa memberi fatwa. Namun sekarang saya ragu dia belajar mazhab dan fatwa. Ulama mestinya belajar irfan dan akhlak sehingga hukum tidak mengacaukan kebebasan bermazhab. Saya yakin saya tidak terlalu peduli mazhab namun kekacauan umat saat ini adalah ketidaktahuan mereka terhadap fatwa dan mazhab. Contoh kekacauan fatwa dan mazhab saat ini adalah ada ulama bolon yang berani mengeluarkan fatwa, memaksakan fatwa, menyalahkan fatwa lain. Dia juga kacau pemahaman dan perilakunya tentang mazhab. Lalu yang dia tahu orang lain harus seperti dia, salat seperti dia, berpendapat seperti dia. Mengikuti selain dia itu seperti kafir, menurutnya. Em, adakah orang seperti itu? Banyak?

Anehnya bagi kalangan takfiri, menjadi Syiah itu cukup tidak benci Syiah. Bagi takfiri menjadi Islam itu harus persis seperti mereka. Banyak orang tidak benci Syiah seperti Gus Dur, Said Aqil Siraj, Haidar Bagir, Quraisy Shihab, …. Bagi takfiri, beda pilihan capres bisa kafir, tidak disalatkan. Bagi takfiri, beda niat, qunut, telunjuk, tawasul, muludan, tahlilan bisa dikeluarkan dari Islam.

Imam Jafar (?) menggambarkan kriteria syiah yang bagi kami yang ingin menjadi syiah Ali sangat sukar seperti salat malam, puasa, sedekah, berdoa secara masif, ketaatan mutlak, menghindari fujur, ….

Tahun 2019 Haddad Alwi disuruh turun dari panggung oleh kelompok “ulama” karena tuduhan Syiah. Syiah bahkan seolah tak bisa hidup bebas atau mendemonstrasikan ibadah mereka di tempat umum. Menggenggam syiah seperti menggenggam bara api. Padahal di akhir zaman ini agama harus dipegang teguh, bahkan digigit agar tidak lepas.

Takfiri menganggap hanya dirinya yang sah salatnya dan orang lain salah. Takfiri menganggap hanya orientasi politiknya yang benar, hanya pendapatnya yang benar. Takfiri menganggap dirinya maksum, hanya dirinya yang benar.

Di Kemendikbud RI

Hari ini ada kesempatan main di Kemendikbud RI di Jakarta. Kata driver, gedung Kemendikbud itu banyak. Mungkin juga ada yang bisa dikerjakan di sini. Saya adalah seorang pengajar PGSD di UPI. Pekerjaan tambahan mungkin diperlukan bagi bangsa ini untuk merumuskan atau mengeksekusi kebijakannya.

Saya ada di sebuah gedung yang berurusan dengan pendidikan dan kebudayaan di jenjang SD, SMP, SLTA.

Setelah itu, saya menuju gedung D yang urusannya adalah ristekdikti. Hanya saja tidak mudah masuk ke sini. Harus yang punya kewenangan, urusan, atau izin. Saya bingung bila mau ikut salat di gedung ini. Saya harus salat ala safar saja. Kalau mau masuk ke dalamnya harus menempelkan kartu di gerbang membuka gerbang.

Monev Ristekdikti

Pada tanggal 20–21 November 2019 dilakukan monev Ristekdikti terkait penelitian yang dilakukan. Peneliti kelompok kami melakukan presentasi di sebuah hotel di Bogor.

Pada monev kali ini peneliti bertemu dengan peneliti lain untuk mendiskusikan hasil risetnya. Tukar pikiran terkait penelitian sangat penting dalam mengembangkan penelitian. Kelompok kami terdiri atas 15 peneliti di bidang humaniora. Ada empat, lima atau enam kelompok lain yang bidangnya humaniora atau bidang lain.

Sebagian peneliti terlihat sudah senior dari sisi umurnya. Sebagian lagi terlihat seperti seniman. Beberapa tuturan yang saya dengar, peneliti gerabah ini berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Makassar. Ada pula peneliti dari Gorontalo. Ada peneliti pencipta musik Indonesia di dunia dari Medan. Ada peneliti yang berasal dari luar Jawa Barat meski terlihat sejumlah peneliti itu akrab dengan peneliti Jawa Barat.

Semoga riset peneliti ini berguna bagi pengembangan bangsa dan negara.

Saya bertemu dengan seorang teman dari dosen seni rupa Universitas Negeri Makassar (dulu IKIP Makassar/Ujung Pandang) dan dosen musik dari Universitas Sumatera Utara. Dosen dari Sumatera Utara ingin membuat HKI. Sementara teman Makassar ini dekat dengan teman saya yang lain di Makassar. Dunia kecil.