Home » Uncategorized

Category Archives: Uncategorized

Catatan Kecerdasan versi Asing

Kecerdasan Jamak Gardner

Beberapa sumber terkait dengan kecerdasan jamak di antaranya Gardner[3], tentang kecerdasan jamak (multiple inteligence) yaitu (1) kecerdasan visual-spasial (visual-spatial intelligence), (2) kecerdasan linguistik-verbal (linguistic-verbal intelligence), (3) kecerdasan logis-matematis (logical-mathematical intelligence), (4) kecerdasan kinestetik-tubuh (bodily-kinesthetic intelligence), (5) kecerdasan musikal (musical intelligence), (6) kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence), (7) kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence), (8) kecerdasan alami (naturalistic intelligence).
(1) kecerdasan visual-spasial (visual-spatial intelligence), orang-orang yang mempunyai kecerdasan visual-spasial akan bagus dalam melihat sesuatu, misalnya mudah mengingat peta, bagan, video, dan gambar.
(2) kecerdasan linguistik-verbal (linguistic-verbal intelligence) adalah kemampuan menggunakan kata, kalimat dengan baik dan benar dalam berbicara dan menulis. Orang seperti ini akan bisa membuat cerita, mengingat informasi, dan mengingat bacaan
(3) kecerdasan logis-matematis (logical-mathematical intelligence) adalah kemampuan penalaran, mengenali pola, dan menganalisis masalah secara logis. Orang seperti ini akan sangat mudah dalam memahami pola angka, hubungan angka, dan pola angka lainnya.
(4) kecerdasan kinestetik-tubuh (bodily-kinesthetic intelligence) adalah kemampuan untuk melakukan gerakan tubuh, melakukan tindakan, dan kontrol fisik
(5) kecerdasan musikal (musical intelligence) adalah kemampuan untuk mengenal pola musik, ritme musik, nada, dan bunyi.
(6) kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence) adalah kemampuan untuk memahami orang lain dan berinteraksi dengan orang lain.
(7) kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence) adalah kemampuan untuk mengenal kondisi diri, emosi diri, perasaan diri, motivasi diri.
(8) kecerdasan alami (naturalistic intelligence) adalah kemampuan untuk mengapresiasi alam, mengeksplorasi lingkungan, menyayangi alam, dan memahami jenis-jenis makhluk di alam

Taksonomi Revisi Bloom
C1(Mengingat)
C2(Memahami)
C3(Mengaplikasikan)
C4(Menganalisis)
C5(Mengevaluasi)
C6 (Mencipta)

C.1. Mengingat (Remember)1.1. Mengenali (recognizing)1.2. Mengingat (recalling)
C.2. Memahami (Understand)1.3. Menafsirkan (interpreting)1.4. Memberi contoh (exampliying)1.5. Meringkas (summarizing)1.6. Menarik inferensi (inferring)1.7. Membandingkan (compairing)1.8. Menjelaskan (explaining)
C.3. Mengaplikasikan (Apply)1.9. Menjalankan (executing)1.10. Mengimplementasikan (implementing)
C.4. Menganalisis (Analyze)1.11. Menguraikan (diffrentiating)1.12. Mengorganisir (organizing)1.13. Menemukan makna tersirat (attributing)
C.5. Evaluasi (Evaluate) 1.14. Memeriksa (checking)1.15. Mengritik (Critiquing)
C.6. Membuat Create)1.16. Merumuskan (generating)1.17. Merencanakan (planning)1.18. (Memproduksi (producing)

Taklid dan Ijtihad

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ .

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ .

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 

Bolehkah bertaklid itu?
Pendapat pertama mengatakan bahwa seorang muslim boleh bertaklid.
Pendapat kedua mengatakan bahwa seorang muslim haram bertaklid.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa seorang muslim dengan kondisi tertentu wajib bertaklid.
Sumber hukum suatu fatwa itu Quran dan hadis. Maka memerlukan ilmu bagi seseorang untuk menafsirkannya. Ini gaya kalimat bahasa Arab. Kalimat bahasa Indonesianya, seseorang memerlukan ilmu untuk menafsirkannya.
Hanya para nabi yang maksum yang dapat menakwilkan Quran/hadis tanpa salah.

Istilah-Istilah
Fatwa: putusan ringkas dari suatu masalah hukum
Bertaklid/berittiba: tindakan mengikuti suatu fatwa.
Berfatwa: tindakan bagi seseorang yang mempunyai otoritas untuk mengeluarkan suatu fatwa, (lih: berijtihad)
Mujtahid: orang yang bisa berijtihad atau mengeluarkan fatwa
Mufti: orang yang mengeluarkan fatwa
Muqollid/muttabi: orang yang mengikuti fatwa
Menurut seorang ustaz NU, berittiba adalah mengikuti metode (cara) berijtihad, sedangkan bertaklid adalah mengikuti fatwa.

Contoh Bertaklid
Seseorang mengikuti suatu fatwa, misalnya fatwa MUI, fatwa ulama.
Seseorang tidak mengikuti sembarang fatwa atau sembarang ulama.
Seseorang tidak mengikuti sembarang dokter atau guru melainkan yang telah dikenal reputasinya.
Seseorang yang ingin membangun gedung akan menyewa jasa arsitek.
Seseorang yang ingin membuat perabotan menyewa jasa tukang kayu.

Haruskah Seorang Awam Berijtihad?
Sebagian ulama berpendapat haram bagi seorang awam untuk berijtihad.
Sebagian ulama berpendapat haram bagi seseorang untuk bertaklid.
Jika kita disuruh berijtihad, kita akan berijtihad, hasilnya tergantung ikhtiar kita.
Sodorkan nas Quran dan hadis, kita akan berijtihad dari sumber itu.
Jika kita tidak percaya dokter, kita akan menyembuhkan diri kita sendiri.

Kekacauan karena Tak Tahu Kedudukannya dan Kedudukan Fatwa
Masyarakat mengikuti sembarang fatwa yang tak jelas sumbernya, yang penting sesuai dengan perasaan muqolid.
Negeri ini penuh dengan fatwa yang tidak jelas sumbernya.
Orang-orang yang tidak punya otoritas seenaknya mengeluarkan fatwa (tafsir Quran, hadis) alih-alih mengutip.
Negara ini mempunyai MK untuk menanyakan tafsir hukum, sayangnya untuk agama, negara tidak merekomendasikan MK-Agama.
Bila negara mengikuti suatu fatwa misalnya tentang tanggal 1 Syawal, masyarakat bisa mengikuti fatwa resmi negara.

Siapa Saja yang Bisa Berfatwa
MUI?
Orang yang mau dan mampu belajar
Mujtahid yang sudah diakui ilmunya oleh mujtahid lain.
Seperti sarjana diakui oleh sarjana lain.
Tradisi: seorang mujtahid mewasiatkan orang-orang untuk mengikuti mujtahid berikutnya.
Seseorang yang tidak mampu berijtihad hanya boleh mengikuti atau mengutip fatwa yang ada.
Tidak boleh ada pemaksaan kepada orang lain.

Fatwa Mazhab
Syafii
Hambali
Hanafi
Maliki
Syiah Itsna Asyari

Boleh berpindah dalam mazhab-mazhab Islam

Kemutlakan Fatwa
Meski seseorang mengikuti fatwa, fatwa bisa saja salah
Ulama tidak dijamin maksum
Banyak fatwa yang berbeda, contohnya tentang MLM, FB, tahlil, qunut, niat, wudu, tawasul, ziarah
Analogi kita berikhtiar kepada dokter, dokter juga bisa salah diagnosis, bahkan malpraktik
Fatwa tidak bisa dikeluarkan oleh ulama wanita. Wanita mujtahid hanya bisa berfatwa untuk dirinya sendiri. Tidak ada nabi wanita meski ada wanita maksum.

Universitas Ini Mengeluarkan Mufti?
Mungkin saja universitas ini mengeluarkan mujtahid atau mufti.

Mufti harus bijak dalam arti memahami perbedaan fatwa.
Mufti juga harus melihat fatwa yang berbeda dengannya dan mempertimbangkan kebenarannya.
Universitas ini mengeluarkan orang-orang yang paham akan kedudukan fatwa.
Universitas ini juga mengampanyekan kesadaran orang-orang pada kedudukan fatwa.

Demikian paparan saya. Terima kasih.

والله الموفق إلى أقوم الطريق

والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Pertanyaan
Kalau ada ustaz, saya akan bertanya, “Ustaz, ternyata saya sendiri aneh dalam masalah taklid. Saya merasa NU atau cenderung NU. Ternyata banyak orang Indonesia lainnya yang menurut saya aneh (bermasalah?) dalam masalah taklid dan ijtihad. Ini saya rasakan sendiri. Diri ini sangat kacau sejak kecil. Bila ada orang yang meninggal, saya akan ikut tahlilan seperti tradisi NU. Namun ketika saya salat tarawih di UPI, saya ikut salat 11 rakaat. Sebagaimana NU, saya juga percaya Imam Mahdi maksum. Sekarang saya percaya 12 khilafah ala Syiah. Bagaimana ini? Bagaimana orang-orang seperti saya ini, Ustaz?”

Kalau ada ustaz, saya akan bertanya, “Ustaz, tetela abdi mah rada aneh dina taklid teh. Ti bubudak geus pabaliut. Aya anu maot ngiring tahlilan. Tapi persis salat taraweh, ngiring anu 11 rakaat. Siga NU, kuring oge percaya Imam Mahdi maksum. Ayeuna kuring percaya ka 12 khilafah. Kumaha atuh, Ustaz?”

Paradoks Islam dan Ketaatannya

Orang Hindu Bali menjaga kebersihan, dia bukan Islam dan tidak Islami.

Warga kita buang sampah ke sungai, tetap Islam dan Islami.

Di akhir zaman, Islam itu cuma namanya saja. Bahkan memegang Islam itu seperti memegang bara api.

Atau mungkin muslimin menganggap Islam sebagai menara gading saja? Yang penting aturannya bagus tetapi tak usah dijalankan.

Orang kapir yang menolong warga dan melawan maling DPRD tetap dibenci oleh muslimin. Padahal dia menolong muslimin mencapai tujuannya. Apakah kalian malah membatu AS dan Israel mencapai tujuannya dengan mendukung ISIS dan semacamnya?

Balada BUMN yang (Kapan Bisa Tidak) Bangkrut

Jiwasraya bangkrut, Pertamina bangkrut, Krakatau Steel bangkrut, Garuda bangkrut, rumah sakit bangkrut, pengelola pelabuhan Pelindo bangkrut, IPTN bangkrut, PAL bangkrut, perkebunan negara bangkrut.

Mengapa BUMN-BUMN itu bangkrut? Kalau saya pemilik perusahaan (atau pemilik saham), manajer yang tak bisa memberi keuntungan kepada perusahaan akan saya pecat. Apalagi bila sebenarnya perusahaan saya itu untung, tetapi keintungan itu tidak disetor kepada saya melainkan dibagi-bagi kepada sebagian manajer dan pimpinan perusahaan.

BUMN-BUMN itu boro-boro ngasih untung ke negara atau rakyat, mungkin keuntungannya dibagi-bagi di antara para pejabatnya.

Bisa dibayangkan semacam pertamina yang memompa minyak menggunakan alat dan dana negara, ketika minyak itu dijual, koq malah rugi. Rencana gila macam apa perusahaan semacam itu?

Baguslah presiden memecat para pejabat BUMN. Asal bukan semata diganti oleh kroninya (misalnya dari partai) sehingga cuma berpindah rezim. Kalau pimpinan baru tetap orang korup, pasti perusahaan jadi gabener juga, ling-lung, dan tidak jelas. Presiden harus mengganti pimpinan atau manajer BUMN dengan orang yang bersih dan tegas. Bukan orang yang lembek dan bisa ditipu bawahan.

(Jadi ingat ketika Ignatius Jonan membenahi kereta api sehingga nyaman selain memberi keuntungan. Ingat juga Kopaja, Damri, atau angkutan Ibu Kota dibuat nyaman oleh Gubernur Ahok (?). )

Reklamasi dan normalisasi dibenahi secara terbuka dan transparan. Rakyat bisa menyaksikan pekerjaannya. Pimpinan harus menjamin bahwa perusahaan itu memberi keuntungan, bukan sekedar memberi fasilitas bagi rakyat.

Begitu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan presiden atau gubernur. Untung saja presiden punya pembantu seperti menteri dan semacamnya. Untung saja gubernur punya dinas.

Hari-Hari Ziarah Haji (48)

Ngiringan Pangaosan Syiah vs Ontaleran

Lamun urang asup ka pangaosan Syiah, moal aya anu curiga, “Maneh Sunni nya?” Atawa komo, “Maneh Islam nya?” Kacida.

Tapi balik ti pangajian Syiah, bisa jadi batur kalahka mariksa, “Maneh Syiah nya? Geuning balik ti pangajian Syiah.” Ngan henteu we, “Ari maneh Islam keneh?” Atawa, “Cing sahadat, euy.”

Ku sabab kuring teu pati paduli kana mazhab, kuring mah bebas rek kaditu-kadieu. Euweuh nu bisa maksa. Eta pedah cenah aya nu sok mamaksa: kudu khilafah, kudu milih partai anu, salat kudu kieu, teu meunang kitu. Har, ari sia saha? Guru aing lain, dipenta ngawuruk ge henteu. Nyasab sia mah.

Terjemah

Masuk Pengajian Syiah vs Ontaleran

Kalau kita ikut penjajian Syiah, tidak ada Syiah yang bertanya curiga, “Kamu Sunni ya? Ngapain ke sini?” Tidak ada orang Syiah yang mrmpertanyakan, “Kamu Islam?” Kelewatan.

Sebaliknya jika kita baru selesai ikut pengajian Syiah, bisa jadi orang usil malah bertanya, “Kamu Syiah, ya? Ngapain ikut pengajian Syiah?” Apa mungkin ada yang bertanya, “Kamu masih Islam?” Atau, “Coba ucapkan syahadat lagi!”

Karena saya orang bebas, tidak terlalu peduli pada mazhab, saya bebas pergi ke manapun atau ikut pengajian manapun. Tidak ada yang bisa maksa saya, apalagi organisasi khilafah. Tak ada yang boleh memaksa saya harus baiat khilafah, memilih partai anu, harus bersyariat ini-itu, harus meninggalkan syariat ini-itu. Memangnya siapa kamu, koq memaksa-maksa? Kamu ‘kan bukan guruku, bukan ustazku. Kamu cuma orang kesasar yang ingin diikuti, padahal kamu cuma orang awam.