PETERNAKAN ITIK DENGAN SISTEM BAGI HASIL

Penghitungan peternakan itik dengan sistem bagi hasil dapat diperhitungkan dengan cara berikut.

Modal harga itik siap telur diasumsikan Rp85.000, 00 per ekor. Bila membeli 10 ekor, modal adalah Rp850.000, 00.

Setiap hari itik bertelur diasumsikan 80% dari jumlah itik. Jadi dari 10 ekor, akan didapat maksimal 8 butir per hari. Sistem bagi hasil sebenarnya tidak mempedulikan kurang atau lebih dari 8 karena setiap harinya telur akan dibagi dua untuk pemodal dan peternak. Penghitungan 8 butir per hari digunakan untuk menghitung waktu balik modal (WBM, break event point, BEP).

Bila diasumsikan harga telur adalah Rp2.000, 00 per butir maka diperoleh maksimal (8×2000) Rp14.000, 00 per hari.

Dengan demikian, WBM akan didapat (850.000/14.000) 60, 71 atau sekitar 61 hari.

Penghitungan lain adalah peternak meminta satu hari dari seminggu diambil telur untuk beli pakan. Berarti pakan adalah (8×2000) Rp16.000 per minggu.

Bagi hasil biasanya dilakukan per minggu. Peternak bisa mentransfer sejumlah uang kepada pemodal setiap minggu. Bila diasumsikan 8 butir per hari, harga telur Rp2.000, 00 per butir, akan didapat setiap minggu (8*2000*7 hari) Rp112.000, 00 per minggu. Keuntungan Rp112.000, 00 ini dikurangi pakan Rp16.000, 00 didapat 96.000, 00.

Dengan begitu WBM akan didapat selama (850.000/96.000) 8, 85 minggu. Pemodal dan peternak bisa sepakat untuk flat 9 minggu peternak mentransfer penuh (full) sebelum bagi hasil. Hal ini juga karena ada flat satu hari dalam seminggu diambil untuk pakan. Peternak bisa mengambil untung dari selisih pakan, pemodal bisa mengambil untung dari pembulatan.

Jadi asumsi penghitungan untuk 9 minggu adalah sebagai berikut. Ada 7 hari dikali 9 minggu adalah 63 hari. Modal akan kembali sekitar 8 butir x Rp2.000, 00 x 63 didapat Rp1.008.000, 00. Bila satu hari dalam seminggu telur digunakan untuk membeli pakan (flat) berarti keuntungan hanya 6 hari per minggu. Diperoleh 6 hari x 9 minggu adalah 54 hari. Modal akan kembali sekitar 8 butir x Rp2.000, 00 x 54 didapat Rp864.000, 00. Jadi modal untuk pakan selama 9 minggu adalah 1.008.000, 00-864.000, 00 yaitu Rp144.000, 00.

Apabila itik sudah tidak produktif, maka itik dijual per ekor. Harganya akan jatuh dari Rp85.000, 00. Ini juga dibagi dua antara pemodal dan peternak.

Sebenarnya penghitungan di atas adalah penghitungan kasar untuk sistem bagi hasil karena bagi hasil harus dihitung dari telur yang dihasilkan per hari. Peternak harus menulis jumlah telur yang dihasilkan setiap hari dan menyetor kepada pemodal sebelum WBM. Setelah WBM, peternak dan pemodal berbagi hasil dan tetap peternak mencatat telur yang dihasilkan per hari. Peternak bisa mengirim SMS setiap jam 6 pagi atau jam 6 sore untuk melaporkan jumlah telur kepada pemodal. Setiap peternak menulis jumlah telur, ia harus mengirim SMS kepada pemodal. Modal SMS dihitung 200×7 hari yaitu Rp1.400.

Zaman sekarang penghitungan bagi hasil bisa dilakukan dengan mudah menggunakan program spreadsheet (misalnya Libre Office Calc di Linux Mint atau Linux Ubuntu). Dengan begitu, Penghitungan bisa eksak dan menekan kerugian pemodal serta peternak. Jadi, bila variabel berubah, orang bisa menghitung dengan cepat, misalnya variabel harga itik atau telur berubah.

Itik akan produktif selama 1, 5 sampai 2 tahun. Setelah itu itik tidak produktif dan dijual dengan harga jatuh dari Rp80.000–Rp85.000 menjadi Rp45.000–Rp50.000, 00. Ini juga bagi hasil saja karena modal sudah kembali dalam waktu 9 minggu.

MELIHAT ALLAH

Sayidina Ali bin Abi Thalib ditanya oleh sahabatnya, apakah ia menyembah Tuhan yang tak terlihat. Sayidina Ali bin Abi Thalib menjawab, bagaimana mungkin ia menyembah Tuhan yang tak terlihat. Ia menyembah Tuhan yang bisa dilihat dengan ilmu dan iman.

Dari sebuah buku usuludin disebutkan sebuah pertanyaan tentang wujud Allah swt. Dapatkah manusia mengenal Allah secara mutlak sedangkan Dia adalah wujud tak berbatas. Jawabannya, bahkan manusia tak bisa mengenal semut, pohon, gunung, atau lautan secara mutlak; bagaimana ia mengenal Allah yg Maha Esa. Manusia hanya mengenal Allah dalam batas-batasnya saja, tidak secara mutlak.

Manusia bahkan tidak bisa menjangkau ilmu manusia lain. Bagaimana ia bisa menjangkau (ilmu) Tuhan. Seorang insinyur tak bisa menjangkau ilmu dokter. Seorang dokter tak bisa menjangkau ilmu tukang kayu. Manusia harus belajar dulu untuk menjangkau ilmu yang tidak dikuasainya. Ia mengubah ilmu yang sukar menjadi mudah.

Ali bin Abi Thalib pada Perang Khaibar

Perang Khaibar terjadi saat Rasulullah saw menyerang pemberontak Yahudi di Khaibar. Pemberontak ini membuat makar, memanipulasi berita, dan memprovokasi warga. Rasulullah saw berupaya meredam pemberontak ini. Namun perang tak terelakkan. Perang yang dilakukan Rasulullah saw bukan perang untuk menyebarkan agama melainkan perang untuk melindungi darah dan kehormatan kaum muslimin dari makar para pemberontak.
Pemberontak bersembunyi di Benteng Khaibar. Pasukan Rasulullah saw mengepung Benteng Khaibar untuk mencari celah masuk dan kelemahannya. Pasukan Rasulullah saw berupaya membongkar Benteng Khaibar ini dan memerintahkan sahabat untuk membongkar Benteng Khaibar ini. Namun upaya ini tak kunjung berhasil. Pemberontak dapat tetap berlindung di dalam benteng untuk waktu yang lama. Rasulullah saw lalu bersabda, “Besok aku akan serahkan bendera pasukan ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, juga dicintai Allah dan Rasul-Nya.”
Esok harinya Rasulullah saw dan sahabat nya berkumpul. Para sahabat yang berkumpul mengunjukkan diri ingin menarik perhatian Rasulullah saw agar terpilih memegang bendera Rasulullah. Rasulullah saw bertanya, “Mana Ali bi Abi Thalib?”
Sahabat menjawab bahwa Ali bin Abi Thalib sedang sakit mata. Rasulullah saw memerintahkan sahabat untuk memanggil Ali bin Abi Thalib. Ketika Ali bin Abi Thalib datang Rasulullah saw mengusapkan air liurnya ke mata Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berkata bahwa sejak saat itu matanya tak pernah sakit lagi. Rasulullah saw lalu menyerahkan bendera kepada Ali bin Abi Thalib dan mendoakan kemenangan kepada Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib lalu mendekati benteng. Pintu Benteng Khaibar yang tebal tak bisa dirusak meski para  sahabat berupaya dengan berbagai cara. Ali bin Abi Thalib dengan tangan kirinya lalu membongkar pintu Benteng Khaibar dan melemparnya ke tempat yang jauh. Pemberontak yang ada di dalam benteng pun akhirnya menyerah.
Akhirnya makar yang menghantui kaum muslimin dapat ditumpas.

Memperbaiki Iklim Investasi di Kampung Kita

Mungkin sekali waktu kita mendengar bahwa ada orang yang terdesak hutang karena mempunyai kredit macet di bank. Masyarakat yang berhutang kepada bank biasanya mengajukan jaminan seperti rumah atau tanah. Ketika kredit macet atau ia tak mampu membayar angsuran pinjaman kepada bank, bank akan menyita harta jaminannya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa bank merupakan lembaga keuangan yang beroperasi dengan mengambil riba. Sayangnya banyak masyarakat kita tidak bisa terlepas dari lembaga bank ini. Banyak orang yang pinjam uang ke bank. Pemerintah pun setidaknya sejak zaman Orde Baru (Soeharto) dianjurkan menyimpan uang di bank. Lembaga lain yang ditengarai riba adalah lembaga asuransi. Sebagian lembaga asuransi hanya menuntut nasabahnya untuk membayar premi, namun saat nasabahnya mengklaim atau mau mengambil uang asuransi, sulitnya bukan kepalang. Syarat mencairkan asuransi ialah harus melengkapi berkas persyaratan. Satu saja berkas syarat itu absen, asuransi terancam tak bisa dicairkan. Kasus seperti ini juga terjadi dan disimpan di internet.
Di sisi lain, sebagian masyarakat kita sebenarnya banyak yang memiliki modal atau telah menabung untuk mengumpulkan modal. Modal ini seperti modal yang dimiliki Siti Khadijah untuk berdagang. Nabi Muhammad saw melakukan jasa dari modal Khadijah dengan cara berdagang. Kelihatannya sederhana. Nabi saw beroleh keuntungan dan berbagi keuntungan itu dengan Khadijah.
Investasi di negeri kita dikeruhkan dengan kegagalan karena kerugian pedagang. Karena itu tak ada orang yang mau jadi investor yang beresiko rugi. Di sisi lain banyak pedagang atau penjual jasa yang meremehkan investor dengan memberi keuntungan yang kecil atau tak bisa dipercaya.
Seandainya penjual jasa atau pekerja jasa terpercaya, tentu iklim investasi di kampung kita akan lebih baik lagi. Tulisan ini tidak berbicara skop yang luas di negeri ini. Tulisan ini hanya merupakan potret kecil dari kampung yang kecil. Namun, mungkin saja sejumlah kampung lain punya masalah yang sama: potensi kerja masyarakat besar, membutuhkan investasi, namun kerjanya tak bisa dipercaya investor. Sebaliknya banyak investor yang duitnya nganggur, punya potensi untuk memberi investasi, namun tak menemukan pekerja jasa yang terpercaya untuk memberi keuntungan dari investasinya.
Para pekerja jasa harus merenungkan kejujuran pekerjaan. Sebaliknya investor harus berhati-hati dalam proses investasinya, jangan sampai bertemu dengan pekerja jasa yang curang atau tak memberi keuntungan.
Masyarakat kampung kita acap kali merupakan masyarakat yang membutuhkan modal kecil. Kisaran modal yang dibutuhkan sekitar puluhan juta.
Berbeda dengan pemodal asing yang bisa memberi investasi ratusan juta, milyaran, trilyunan seperti proyek jalan tol, kereta api cepat, tempat wisata waduk, dan sebagainya. Bahkan oknum bank sendirilah yang berinvestasi dengan menggunakan dana masyarakat.
Bapak bangsa kita, Muhammad Hatta, mengajukan sistem koperasi. Koperasi menggalang dana masyarakat untuk diinvestasikan. Dana bisa diinvestasikan di sesama anggota masyarakat anggota koperasi atau di luar anggota koperasi. Sekali lagi, jika usaha masyarakat macet, maka modal akan berkurang bahkan koperasi bisa bangkrut. Koperasi pun harus beroperasi dengan baik yaitu pemodal yang baik dan pekerja jasa yang baik (memberi keuntungan).
Mudah-mudahan iklim investasi di kampung kita menjadi lebih baik di masa datang.

Jenis Olahraga Outdoor yang Dapat Dikembangkan di Jatigede

Menurut Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Jatigede,_Sumedang), luas waduk Jatigede sekitar 1.711 hektar. Seandainya waduk ini berbentuk persegi, maka kelilingnya adalah 4,5 kilometer kali 4 sisi atau 18 km. Jadi seandainya ada orang yang hendak mengelilingi waduk ini, jaraknya cukup jauh. Jarak yang relatif dekat bagi hiking atau pejalan adalah 4 km.

Mungkin ada investor yang bersedia mengembangkan pariwisata di Jatigede. Hal ini karena orang yang terkena dampak (OTD) Jatigede bukanlah sedikit. Mereka kehilangan mata pencaharian mereka sebagai petani dan peternak. Mungkin saja warga OTD Jatigede harus beralih profesi dan mengembangkan pariwisata di sana. Namun, mesti ada modal untuk mengembangkan potensi ini. Semestinya pemerintahlah, dalam hal ini pemerintah pusat, pemerintah propinsi, dan pemerintah kabupaten yang bertanggung jawab untuk mengembagkan potensi masyarakat dan memberdayakannya setelah potensi mata pencaharian mereka tercerabut dengan proyek Waduk Jatigede.

Di sisi lain, masyarakat perlu diberikan pelatihan guna mengembangkan potensi mereka. Potensi baru setelah potensi mata pencaharian mereka tercerabut tadi. Salah satu pilihannya adalah mengembagkan potensi wisata. Potensi wisata apa yang dapat dikembangkan di area Waduk Jatigede? Berikut sejumlah ulasannya.

  1. Susur danau
  2. Mounteneering (Gunung Hutan)
  3. Rafting dan Riverboarding
  4. Perkemahan
  5. Wisata kuliner
  6. Selam dangkal (snorkeling)
  7. Free diving
  8. SCUBA diving
  9. Berkuda

Susur Danau

Kegiatan susur danau bisa dilakukan misalnya sepanjang 4 km dari keseluruhan kurang lebih 18 km keliling danau. Kegiatan ini bisa dilakukan terutama bila sekeliling danau belum berupa area aspal yang dapat dijelajahi, belum ada sarana listrik di sekitar pinggir danau. Kegiatan ini bisa dilakukan dari satu situs menuju situs lainnya. Pelaku kegiatan dapat mulai dari satu situs (area), kemudian berjalan menuju situs lain lain. Di situs tujuan ini mereka bisa menikmati wisata (wisata darat misalnya wisata kuliner, ATV atau wisata air misalnya jetski). Kemudian mereka dapat pulang tanpa kembali ke tempat situs pertama.

 

Mounteneering (Gunung Hutan)

Kegiatan mounteneering ini juga dilakukan di situs awal menuju situs tujuan. dilakukan untuk menyusuri hutan, misalnya ada sungai yang dapat dijadikan tempat berenang, ada air terjun yang bisa digunakan untuk berenang, ada kolam kecil yang bisa digunakan untuk tempat berenang, ada tempat kemping yang memiliki pemandangan yang indah, dan sebagainya. Mungkin saja di daerah tujuan ada angkutan (alat transportasi) sehingga pelaku kegiatan ini bisa langsung pulang tanpa harus kembali ke situs awal.

 

Rafting dan Riverboarding

Rafting dapat diterjemahkan sebagai arung jeram. Pengarungan sungai dilakukan dengan perahu karet,  kayak, kano dan dayung. Selain rafting dapat pula dikembangkan potensi riverboarding, yaitu mengarungi jeram seorang demi seorang. Namun potensi ini harus digali lebih lanjut. Bila potensi ini ada, maka tidak ada salahnya untuk dikembangkan.

 

Perkemahan

Perkemahan dapat dikembangkan bila ada potensi situs yang dapat dikembangkan menjadi bumi perkemahan. Perkemahan dapat dilakukan oleh sekolah yang mengadakan acara alami atau pramuka. Perkemahan ini dapat terintegrasi dengan sejumlah wisata kuliner di sekitar bumi perkemahan. Perkemahan juga mungkin mengusung tema seperti mengenal potensi wisata, mengenal kekayaan alam, atau pelajaran lainnya.

 

Wisata Kuliner

Wisata kuliner sangat penting untuk dikembangkan di berbagai situs. Kuliner yang dikembangkan bisa saja makanan ringan hingga makanan berat. Kuliner juga bisa mengembangkan potensi waduk seperti kuliner yang berasal dari ikan dan pengolahannya. Kuliner juga bisa dikembagkan dari potensi peternakan atau perkebunan yang dikembangkan masyarakat. Mungkin saja ada pengembangan kuliner sayuran, buah-buahan, ternak ayam, ternak itik, telur, domba, sapi, susu sapi, kerbau, dan sebagainya.

Di wilayah ini, kerbau biasa digembalakan (bahasa Sunda: diangon, ngangon). Ternak kerbau mungkin tidak diberi pakan dengan ngarit (bahasa Sunda, ngarit ‘mengambil rumput dengan arit’). Dengan begitu, jumlah kerbau yang diangon bisa saja banyak, yaitu lebih dari tiga ekor. Bila peternak itu ngarit, ia hanya mampu memelihara dua atau tiga ekor kerbau saja.

Di Pangalengan, Kabupaten Bandung, susu sapi telah diolah menjadi berbagai produk olahan makanan seperti susu segar, yogurt, bolu susu, permen susu, keju, dodol susu, susu bubuk, dan sebagainya. Produk ini pun diputar di masyarakat dan menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari. Tentu saja kegiatan ini akan memutar ekonomi masyarakat.

 

Selam Dangkal (Snorkeling), Free diving, dan SCUBA diving

Proyek selam dangkal, free diving dan scuba diving memerlukan investasi yang lumayan. Ini juga dipertimbangkan ada konsumen yang mau membeli sewanya. Jika masyarakat masih asing dengan olahraga ini, maka mungkin saja olahraga ini tidak perlu dikembangkan. Masyarakat dapat mengembangkan olahraga yang berpotensi disukai masyarakat.

Selam dangkal dilakukan bila air jernih dan cahaya matahari dapat menerangi sampai ke dasar waduk. Saat ini dasar waduk tentu saja diperkirakan tidak terlalu menarik karena mungkin pada umumnya hanya ada bekas sawah. Kalau pun ada situs bawah air yang menarik, pemandu wisata harus memahami lokasinya secara pasti dan mengukur kedalamannya. Dengan begitu, wisatawan tidak akan dirugikan dengan paket wisata yang tidak jelas. Pada kegiatan selam dangkal biasanya penyelam mengambang di permukaan air dan melihat ke dasar waduk menggunakan kaca mata selam.

Free diving dilakukan dengan cara menahan nafas. Berbeda dengan selam dangkal, pada kegiatan free diving, penyelam dapat menyelam lebih dalam untuk melihat bawah air dan dasar waduk. Scuba diving dilakukan dengan menggunakan tabung oksigen.

 

Berkuda

Olah raga berkuda dapat dilakukan sebagai rekreasi. Tentu saja para wisatawan tidak selamanya mahir berkuda. Oleh karena itu, wisatawan dapat diberi pilihan untuk mengendarai kuda sendiri atau sekedar berkeliling dan dibimbing oleh tukang kudanya. Potensi ini mesti bisa dimiliki oleh masyarakat kecil. Mereka bisa beternak kuda dan pada hari yang ramai dikunjungi wisata, mereka dapat menyewakan kuda mereka untuk wisata kuda.

Meningkatkan Sitasi Publikasi dalam Tradisi Ilmiah di Perguruan Tinggi

Pada saat ini, salah satu kemampuan yang bergengsi bagi dosen adalah kemampuan membuat karya yang disitasi oleh orang lain. Karya itu bisa saja berupa temuan ilmiah, artikel, buku, hak kekayaan ilmiah, maupun paten. Tingginya tingkat sitasi ini membuat dosen yang bersangkutan dianggap bergengsi.

Di sisi lain, tingkat sitasi ini juga harus disertai dengan publikasi bagi orang yang melakukan sitasi. Sebagai contoh, bila mahasiswa melakukan sitasi pada karya dosen, maka sitasi mahasiswa ini tidak akan diketahui sampai mahasiswa ini mempublikasikan karyanya juga. Dengan demikian, dosen harus terlebih dahulu mempublikasikan karya ilmiahnya di internet. Mahasiswa atau orang lain yang melakukan sitasi pun harus mempublikasikan karya ilmiahnya juga.

Yang harus diperhatikan adalah tingkat sitasi ini tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa di perguruan tinggi yang sama. Tingkat sitasi yang baik adalah karya ilmiah yang disitasi itu harus disitasi oleh sejumlah perguruan tinggi lain atau dari institusi lain. Semakin banyak orang yang melakukan sitasi, semakin baik tingkat sitasinya.

Pengukuran sitasi yang paling mudah adalah dengan google scholar dengan h-index-nya. Sayangnya, google tidak menyediakan ruang untuk mempublikasikan karya ilmiah. Dengan begitu, seseorang dapat mempublikasikan karya ilmiahnya misalnya di jurnal online atau di situs research gate. Situs research gate dan semacamnya merupakan situs yang memberikan ruang (space) gratis bagi orang yang ingin mempublikasikan karya ilmiahnya. Tentu saja research gate juga mendapatkan keuntungan dari publikasi ini, misalnya bila publikasi karya ilmiah ini bisa dikembangkan menjadi proyek paten yang dijual.

Contoh sitasi google scholar ada pada laman https://scholar.google.co.id/citations?user=8qipIqIAAAAJ&hl=en. Kemudian seseorang dapat melihat artikelnya adalah di research gate seperti pada laman https://www.researchgate.net/profile/Prana_Iswara/publications. Contoh artikel yang dipublikasikan di jurnal misalnya jurnal online dengan basis OJS (Open Journal system). Ada jurnal online Mimbar Sekolah Dasar yang memuat artikel yang dipublikasikan pada laman http://ejournal.upi.edu/index.php/mimbar/article/view/859. Artikel ini telah terkait dengan google scholar. Bila pengutip artikel ini mempublikasikan artikelnya juga, maka tingkat sitasi penulis artikel ini meningkat. Beberapa artikel juga dapat dipublikasikan di situs perguruan tinggi (file direktori) seperti pada laman http://file.upi.edu/Direktori/KD-SUMEDANG/197212262005011002-PRANA_DWIJA_ISWARA/penelitian/2014/PEMBELAJARAN%20PEMENTASAN%20DRAMA%20KOMEDI%20SUNDA%20%93JURAGAN%20HAJAT%94%20BAGI%20MAHASISWA%20UPI%20KAMPUS%20SUMEDANG.pdf

Salah satu pertanyaan yang menarik adalah, “Apakah artikel yang tidak dipubikasikan di jurnal online sebaiknya dipublikasikan di situs gratis seperti research gate ataukah di direktory file (http://file.upi.edu/Direktori/KD-SUMEDANG/197212262005011002-PRANA_DWIJA_ISWARA/penelitian). Mungkin orang berpikir bahwa di research gate, orang akan melihat indeks sitasinya (h-index). Yang menarik adalah apabila situs direktory file juga mampu menghitung tingkat sitasi. Tentu saja cara penghitungan tingkat sitasi ini mesti boleh diketahui umum.

Tingkat sitasi ini merupakan langkah alternatif daripada langkah pragmatis seperti mengusahakan temuan yang berorientasi hak kekayaan intelektual (HKI) atau paten.

AHOK, REKLAMASI, DAN JATIGEDE

Malam ini saya menyimak wawancara Ahok di televisi. Ahok mengemukakan persyaratan uang muka (down payment, DP) reklamasi teluk Jakarta adalah pengembang harus membangun infrastruktur seperti jalan inspeksi, bendungan, rumah pompa untuk mencegah banjir, rusun. DP itu bukan anggaran CSR dari perusahaan melainkan kewajiban perusahaan pelaksana reklamasi kepada DKI yang tertuang dalam kontrak kerja.

Saya juga mendengar berita bahwa di Jatigede akan dibangun hotel. Saya berpikir agar bupati juga memberikan kontrak yang menguntungkan bagi pemerintah kabupaten (pemkab) dan Warga Sumedang, khususnya. Pemkab dapat meminta perusahaan pengembang hotel untuk memberi 15% dari NJOP bangunan untuk membangun jalan, rusun, sesuai rencana Pemkab Sumedang. Ini seperti Ahok meminta DP berupa kewajiban membangun jalan dan sebagainya. Tanpa melakukan DP ini, pengembang tidak boleh membangun hotel atau reklamasi.

Hukum dasar Islam mengatakan bahwa ada ada tiga kepemilikan dalam Islam. Pertama, kepemilikan pribadi misalnya tanah, rumah, telepon selular. Ke dua, kepemilikan umum misalnya sungai, danau, waduk, laut, hutan, jalan. Di sini tak boleh ada orang yang mengklaim bahwa sungai atau waduk ini milik pribadi. Ke tiga, milik negara atau imam misalnya tambang. Negara dapat mengizinkan warga untuk memperoleh manfaat dari tambang.

Beberapa permasalahan di Waduk Jatigede bisa dipecahkan misalnya dengan membangun jalan di sekeliling waduk seperti jalan inspeksi di area reklamasi DKI, pembangunan rusun, pembangunan spot wisata, wisata kuliner, wisata perkemahan, wisata perikanan dan pemancingan, wisata peternakan. Spot wisata ini akan menguntungkan warga Jatigede yang digusur sawahnya sehingga mereka mingkin tidak punya profesi lagi sebagai petani, peternak.

Di sisi ini Pemkab juga harus mengawasi agar tidak ada bangunan yang menutup sungai, waduk, pantai yang akan merugikan warga dan menjadikan sungai, waduk, pantai itu sebagai milik pribadi. Ini bertentangan dengan hukum Islam di atas. Kepemilikan pribadi pada sungai, waduk, pantai itu akan mencegah orang lain mengambil manfaat dari sungai, waduk, pantai, hutan itu.

Beberapa pelanggaran yang pernah terjadi di negeri ini misalnya banyal warga yang mendirikan bangunan di pinggir sungai. Di Anyer bahkan sejak zamam rezim Orde Baru pantainya tertutup oleh bangunan hotel. Akibatnya, warga tidak bisa mengambil manfaat dari pantai ini. Keadaan Pantai Anyer yang memprihatinkan ini juga dikemukalan oleh novelis Gola Gong. Di Kuningan terdapat Waduk Darma, yang sebagian pinggir pantainya terdapat bangunan rumah warga. Akibatnya warga lain tidak bisa mengambil manfaat dari sisi waduk itu. Kini seandainya Pemprov Banten mau merelokasi hotel tentu akan mengundang kontroversi. Pemkab Kuningan pun seandainya mau merelokasi rumah di sekitar Waduk Darma tentu akan mengundang kontroversi. Sama ketika Ahok merelokasi pinggiran sungai di wilayah DKI Jakarta.

Mudah-mudahan pembangunan waduk di Jatigede bisa bermanfaat bagi warga Jatigede khususnya, bagi warga Sumedang umumnya.

MUDAH DAN SUKAR

Apakah mudah itu? Mudah adalah pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa berpikir terlebih dahulu. Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang berbagai masalah dan beliau bisa menjawabnya. Sahabat heran dan bertanya kepada beliau, mengapa beliau bisa mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ali bin Abi Thalib lalu menujukkan telapak tangannya dan bertanya, “Berapa jumlah jari di tangan ini?” Sahabat menjawab, “Lima.”
Sayidina Ali bin Abi Thalib bertanya lagi, “Mengapa engkau begitu mudah menjawab pertanyaan itu?” Sahabat menjawab, “Karena telah terbiasa.”
Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata, “Demikian pula aku terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan itu sehingga bagiku pertanyaan itu mudah.”

Contoh hal mudah lainnya adalah membuat perabotan bagi tukang kayu adalah pekerjaan mudah. Ia tinggal mengukur, memotong dan mengerjakan segalanya seolah tanpa dihitung atau dipikir lagi. Demikian pula dokter yang merawat pasien atau guru mengajar anak membaca. Bagi dokter merawat pasien adalah pekerjaan mudah. Bagi guru mengajar anak membaca adalah pekerjaan mudah. Sebaliknya bila dokter disuruh membuat perabotan atau mengajar membaca, dokter akan merasa kesulitan. Pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sulit baginya. Dokter bisa membuat perabotan namun ia harus memikirkan dulu atau memperhitungkan dulu. Ada kemungkinan dokter salah dalam perhitungan atau pemikirannha sehingga hasil kerjanya jelek. Perabotan yang dibuat dokter jelek. Demikian pula, dokter bisa keliru dalam mengajar membaca.

Definisi susah, sukar, sulit, masalah berat adalah pekerjaan yang mesti dihitung dulu. Kalau orang ditanya berapa 2×3, ia bisa dengan cepat menjawab. Namun bila ia ditanya berapa 27×3, tidak semua orang bisa dengan cepat menjawabnya. Setidaknya sebagian orang harus menghitung atau berpikir dulu untuk menjawabnya. Pekerjaan sukar bukan berarti tak tahu jalan keluarnya. Ia mungkin tahu jalan keluarnya namun harus dihitung terlebih dulu.

Ada orang yang berkata bahwa masalah agama adalah masalah yang berat. Ada orang yang berkata bahwa masalah ekonomi adalah masalah yang berat. Ada orang yang berkata bahwa masalah politik adalah masalah yang berat. Namun tidak semua orang berpendapat sama. Tentu ada pula orang yang berkata bahwa masalah agama, ekonomi, politik adalah masalah sepele.

Belajarlah selagi ada kesempatan karena berilmu adalah kesempurnaan. Puncak kesempurnaan adalah Allah swt. Sedangkan kebodohan adalah tidak adanya ilmu. Ilmu adalah cahaya dan kegelapan adalah tidak adanya cahaya.

Apel yang Jatuh ke Sungai

Sebuah apel jatuh ke sungai lalu hanyut dan dipungut oleh seorang pemuda. Pemuda itu memakannya. Lalu pemuda ini ingat bahwa ia harus makan makanan yang halal. Ia pun mencari pemilik apel. Ia lalu menyusuri sungai itu hingga ia tiba di sebuah kebun apel. Ia pun berusaha menemui pemilik apel. Ia meminta pemilik apel meridokan apel yang telah dimakannya tanpa izin tersebut. Pemilik apel ini berkata bahwa ia akan meridokan apelnya dengan syarat si pemuda mau menggembalakan ternaknya. Maka mulailah pemuda ini menggembalakan ternak milik si pemilik apel itu. Continue reading

Daftar Pengabdian dan HKI Per Tahun

Pengantar

Berikut ini daftar pengabdian dan hak kelayaan intelektual (HKI) yang saya lakukan dan saya miliki. Didokumentasikan di sini untuk memudahkan administrasi kewajiban pegawai. Publikasi lainnya terdapat di website pengembangan dosen (bangdos). Dokumen ini dapat digunakan untuk sitasi (rujukan).

 

Pengabdian

  1. Iswara, Prana D.; Gusrayani, D.; Julia (2013) Optimalisasi Lirik dan Karakter Lagu Berbahasa Indonesia dan Inggris dalam Membentuk Kearifan Lokal Siswa (Pengabdian pada Sekolah Dasar di Sumedang Utara). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Anggaran Rp2.000.000,00. Sumber biaya: RKAT Program Studi PGSD Guru Kelas.
  2. Ani Nur Aeni, N. Hanifah, A. Sujana, P.D. Iswara (2015) Penguatan Pemahaman Orang Tua Tentang Pentingnya Pendidikan Agama di Keluarga dalam Upaya Membentuk Pribadi Anak (di PC Persistri Dayeuhkolot Kabupaten Bandung). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Anggaran Rp3.000.000,00. Sumber biaya: RKAT Program Studi PGSD Guru Kelas.

 

Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Paten

  1.  Sistem Membaca Permulaan dengan Asosiasi dan dia tampan. 2016.