Kesulitan Membaca Permulaan (Kluster, Diftong, Digraf)

Permasalahan yang kerap ditemui guru pada siswa kelas 1 sekolah dasar adalah kesulitan membaca permulaan. Kesulitan ini akan berpengaruh pada pembelajaran mata pelajaran lainnya. Bentuk kesulitan membaca permulaan bermacam-macam. Di antara kesulitan yang banyak dialami siswa yaitu kesulitan membaca kluster, diftong, dan digraf.

 

Dalam bahasa Indonesia dijumpai adanya kluster, diftong, dan digraf. Kluster adalah gabungan dua konsonan atau lebih, misalnya st, kl, gr, pr, sw pada contoh kata stasiun, klausa, gram, pramugari, swasembada. Diftong adalah gabungan dua huruf vokal, misalnya ai, au, oi pada contoh kata pandai, danau, amboi. Digraf adalah dua huruf yang melambangkan satu bunyi, misalnya sy, ng, kh, ny pada contoh kata syarat, yang, khawatir, nyamuk. Ketiga bentuk tersebut merupakan sumber kesulitan anak pada pembelajaran membaca permulaan.

 

Guru seharusnya mengenalkan kluster, diftong, dan digraf setelah lancar membaca dua suku kata misalnya ada, dada, ini nini, itu tuti, apa ini pipa, mana mama. Guru juga seharusnya mengajarkan kluster, diftong, dan digraf setelah siswa mengenal semua huruf dengan metode asosiasi, misalnya a diasosiasikan dengan ayam, angsa, air; huruf i diasosiasikan dengan lilin, huruf u diasosiasikan dengan udang, huruf e diasosiasikan dengan helm atau keong, huruf o diasosiasikan dengan bola atau donat.

 

Guru meminta anak untuk menyebutkan kosakata. Guru bisa meminta siswa untuk melihat benda di sekelilingnya. Guru mengajari siswa belajar membaca dan menulis kosakata benda di sekelilingnya itu. Guru juga dapat meminta siswa menyebutkan nama teman atau orang tuanya untuk belajar membaca dan menulis nama teman dan orang tuanya itu.

 

Sumber: Lina Herlina Maryono, 857418901, UT Majalengka, kelas B, TT2 TAP, Masa Pandemi Covid19, Work From Home, sudah diedit.

Anak Hiperaktif di SD dan Penanganannya

Ini adalah bagian dari pengalaman anak-anak di sekolah dasar. Ada kasus seorang anak yang sangat bermasalah. Anak ini adalah anak yang hiperaktif. Dalam bahasa yang lebih lugas dikatakan sebagai anak yang nakal. Seseorang bisa mengenal anak semacam ini karena ada tanda-tandanya. Lebih lanjut anak-anak nakal tersebut berpotensi untuk menjadi buruk dan jahat. Jika didiamkan kenakalan ini bisa terbawa hingga dewasa.

(more…)

Umur Belajar Mengenal Huruf dan Menggoreskan Pensil

Salah satu pembahasan penting dari pembelajaran membaca permulaan adalah mengubah keyakinan bahwa siswa anak-anak harus matang terlebih dahulu untuk belajar sesuatu. Ada kalanya orang tua menganggap anak-anak belum matang untuk belajar membaca atau menulis permulaan. Ada orang tua yang tidak pernah mengajarkan huruf-huruf kepada anak-anaknya. Ada orang tua yang tidak pernah mengajarkan memegang pensil kepada anak-anaknya. Ada orang tua yang tak pernah meminjamkan ponsel kepada anak-anaknyanya meskipun ponsel itu bisa digunakan untuk tujuan-tujuan pelajaran. (more…)

Perlukah Menggunakan Ponsel dalam Pembelajaran?

Di kelas dosen tidak jarang melihat mahasiswa menggunakan ponsel. Respons dosen terhadap penggunaan ponsel itu bermacam-macam, ada yang melarang, menghukum, memarahi, dan ada yang membiarkan mahasiswa menggunakan ponsel di kelas. Bagaimana seharusnya reapons dosen atau guru? Sebagian dosen membiarkan mahasiswa menggunakan ponsel dengan keyakinan bahwa ponsel itu digunakan untuk tujuan pembelajaran sampai terbukti bahwa ponsel digunakan bukan untuk tujuan pembelajaran. Bila dosen mendapati mahasiswa menggunakan ponsel untuk tujuan bukan pembelajaran, dosen bisa mencegah penggunaan ponsel itu.

(more…)

Peran Strategis Organisasi Kemasyarakatan Islam dalam Kehidupan Berbangsa

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang besar. Sebagian masyarakat Indonesia mempunyai kecenderungan NU baik secara organisasional maupun kultural.

PMII adalah anak dari organisasi NU. NU juga mempunyai banyak anak cabang untuk menampung kreativitas anggotanya seperti partai PKB, Ansor, Koperasi, dsb.

Silaturahmi dengan organisasi lain harus dilakulan seperti dengan NU, Muhammadiyah, Persis, bahkan LDII, atau FPI. Silaturahmi ini dilakukan untuk mencegah insiden yang bisa terjadi seperri insiden peringatan hari lahir (harlah) NU di Yogya. Yogya memang kota bersejarah Muhammadiyah, namun NU juga tidak kurang besar di sana. Bahkan Sultan mempunyai acara Suroan, dan tradisi lain yang notabeme sejalan dengan tradisi NU. (more…)