Putus Asa dari Rahmat Allah

Mohon maaf. Bukan karena saya sempurna, namun saya ingin menyampaikan bahwa salah satu dosa besar di sisi Allah swt adalah berputus asa dari rahmat Allah.

PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH SWT.

Ujian dari Allah swt. mesti dihadapi dengan kesabaran. Seandainya manusia sabar, tentu Allah swt. akan memberikan rahmat serta pahalanya bagi pelaku sabar.

Contoh ujian yang bisa terjadi adalah kalah pilpres, kalah pilgub, kalah pildacil, kalah dalam pertandingan sepak bola, kalah debat, kalah memdapatkan pacar anu, kalah mendapat nilai pelajaran bagus, kalah dalam segera memahami pelajaran, dan sebagainya.

Ali bin Abi Thalib berkata yang kurang lebih artinya, “Lidah orang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.”

Hari-Hari Ziarah Haji (45)

Kesombongan dalam Beragama

Salah satu masalah kritis dalam toleransi adalah kesombongan dalam beragama. Seolah-olah seseorang yang beragama merasa lebih baik daripada orang beragama lainnya, mazhab lainnya, sekte lainnya, kelompok lainnya, …. Lalu dia merasa surga adalah klaim, miliknya sendiri, sedang orang lain seolah tak berhak masuk surga.

Konon, hanya karena beda pilihan atau orientasi dalam pilgub atau pilpres pun membuat seseorang mengklaim surga. Padahal surga adalah otoritas Allah swt. yang tak seorang pun boleh mengklaimnya. Klaim pemilik surga adalah salah satu klaim paling parah dalam beragama. Juga klaim ikhtiar surga karena memilih salah satu calon gubernur atau calon presiden. Memang mungkin memilih satu calon masuk surga, namun tidak pasti. Mungkin, tidak pasti. Namun bukankah memilih calon lain juga berpotensi mendapat surga Allah swt.? Seandainya tidak masuk surga, tentu tak akan ada yang memilihnya.

Mengapa seseorang mengklaim surga untuk pilpres atau pilgub padahal tidak ada kriteria yang jelas tentang Prabowo atau Jokowi sebagai orang yang maksum. Seandainya Prabowo atau Jokowi maksum, mesti memilihnya adalah masuk surga dan menolaknya berpotensi masuk neraka.

Lalu orang (so called ulama, ustaz, ustazah) yang mengkampanyekan pilpres sebagai klaim agama pun bukanlah orang maksum. Jadi janji surga karena pilpres benar-benar absurd.

Berderma memang berpotensi masuk surga. Namun bila orang berderma sekaligus melakukan kejahatan (membunuh, memfitnah, putus asa dari rahmat Allah swt., dst) maka belum tentu dia masuk surga.

Kesombongan dalam beragama juga adalah memilih salah satu capres dengan keyakinan secara mutlak bahwa pilihannya itu akan membawanya ke surga. Dengan demikian, dia berpikir bahwa melilih capres lain akan membawa pemilihnya ke neraka. Sesimpel itu. Padahal hanya dengan mengikuti Nabi saw baru bisa membawa seseorang masuk surga. Itu juga dengan catatan bahwa keikutannya itu secara kafah, mutlak, dan konsisten. Bila mendapat cobaan, ia tidak goyah. Bila seseorang mengaku ikut Nabi saw., namun melanggar perintahnya dan melakukan larangannya, surga adalah mimpi baginya.

Hari-Hari Ziarah Haji (42)

Mahasegala, Kepada-Mu Aku Menyeru

Engkau berkata

Serulah Aku di malam yang sunyi

Niscaya aku akan mendengar

Mintalah kepadaku segala hajat-Mu

Niscaya aku kabulkan

Ingatlah Aku di masa sulitmu

Niscaya Aku menolongmu

Tolonglah agama-Nya dengan menolong dan melindungi warga

Niscaya Dia akan menolong dan melindungimu

Hadirkan Dia dalam setiap langkahmu

Niscaya jalanmu akan menjadi terang

Cintailah utusan dan para kekasihnya

Niscaya kau tak akan tersesat

Lihatlah dan dengarlah apa yang utusan dan kekasihnya lihat dan dengar

Niscaya mata dan telingamu akan menjadi mata dan telinga-Nya

Bicaralah sesuai yang dibicarakan utusan dan kekasih-Nya

Bertindaklah sesuai dengan tindakan utusan dan kekasihnya

Bergembiralah saat utusan dan kekasuh-Nya bergembira

Bersedihlah saat utusan dan kekasuh-Nya bersedih

Berperanglah saat kekasih dan utusan-Nya berperang

Berdamailah saat utusan dan kekasih-Nya berdamai

Niscaya kau tak akan menyimpang

Hari-Hari Ziarah Haji (41)

Saat Pertama Melihat Kabah

Sejak kecil saya sering melihat Kabah secara tidak langsung. Saya melihat Kabah di gambar, foto, atau televisi. Teknologi foto atau televisi membuat gambaran Kabah di benak menjadi jelas, sangat jelas. Saya juga melihat orang-orang yang ada di sekitar Kabah secara tidak langsung.

Pada usia sekolah dasar, tetangga Bapak saya pergi haji. Ketika mereka sudah pulang berhaji, saya mampir ke rumahnya. Saya melihat foto tetangga saya dengan latar belakang Kabah. Titik-titik putih di belakang tetangga saya adalah manusia-manusia di sekitar Kabah.

Saya ingat saya juga diberi sesloki air zam-zam. Waktu itu saya heran mengapa hidangan airnya begitu sedikit. Menurut saya, mestinya dicampur air biasa saja, tak apa, agar lebih memenuhi dahaga. Saya juga mencicipi kurma dan kudapan laib yang menurut saya asing atau kurang biasa rasanya.

Saya merasa tak asing dengan Kabah. Namun kali ini saya akan melihat Kabah secara langsung. Menurut sebagian guru dan ulama, sebagian jemaah yang melihat Kabah akan menangis. Terharu atau entah perasaan yang sukar digambarkan dengan kata-kata.

Saya sendiri teringat akan jejak Rasulullah saw. Beliau di kota ini lahir, besar, membawa Islam, menyampaikan Islam kepada manusia, berhati dan bersikap lembut namun keras pada kejahatan.

Mekah (mestinya) dipenuhi dengan jejak Nabi saw. Sungguhpun kini orang Mekah bepergian dengan mobil, mendapat air zam-zam melalui pipa, dikelilingi oleh gedung-gedung yang tinggi, dan sebagainya … Jejak Rasulullah saw ada di sana. Saya sekarang hendak menapaki jejak Rasulullah saw itu, mengikuti teladannya, dan mengambil berkahnya.

Saya membicarakan obsesi saya dengan teman sekamar maktab. Kami sekamar berempat, dan ada pula yang berlima. Saya membicarakan jejak Rasulullah saw meski kami berada di lantai 10 (?), naik turun dengan lift, mencuci baju dengan sabun dan mesin cuci di puncak maktab, bepergian dengan bus salawat, ….

Saya juga melihat ada jemaah yang membentuk barisan lalu berjalan menuju Kabah sambil meninggikan talbiah. Semangat atau gairah ibadah para jemaah sangat tinggi. Mereka berharap keridaan Allah swt melalui teladan Nabi saw.

Ketika saya pertama kali melihat Kabah, saya menguatkam ingatan saya tentang jejak Rasulullah saw di sini. Entah saya ingin menangis atas dosa atau bahagia karena bertemu dengan jejak Rasulullah saw. Saya menguatkan memori Rasulullah sebagai wasilah (perantara) antara saya (makhluk) dengan Allah swt.

Saya juga berusaha melihat jejak Rasulullah saw pada jemaah yang sedang beribadah di Kabah dan Mekah. Saya berusaha melihat jejak Rasulullah saw di mata mereka, pada tindakan mereka, pada ucapan mereka, dan pada diam mereka.

Hingga kini pun saya tetap berusaha melihat jejak itu.

Hari-Hari Ziarah Haji (40)

Sajak Hidayah

Pintu hidayah yang terbuka

Mengeluarkan hidayah tak henti-hentinya

Turun dari langit, muncul dari dalam bumi, keluar dari danau, sungai, dan lautan, serta tumbuh dan berkembang di sekitar

dan ada dalam diri manusia

Hidayah ada di mana-mana

Seseorang tak akan bisa berkelit dan berkata

Aku keberatan disalahkan dan dimasukkan ke dalam neraka

Karena Engkau, Ya Tuhan, tak memberiku hidayah

Aku terlunta-lunta

Sementara engkau beri orang-orang saleh petunjuk dan nikmat iman Islam

Aku engkau abaikan dari hidayah

Aku tidak lagi bisa mengelak

Akulah yang mengabaikan hidayah

Akulah yang meremehkan kebenaran

Akulah yang merasa rugi ketika harus memilih kebenaran daripada kejahatan

Aku merasa beruntung saat melakukan kejahatan dan kemaksiatan

Karena selalu aku berharap pertobatan