Hari-hari Ziarah Haji (2)

Berebut Rida Allah swt dan Rasulullah saw

Secara pribadi saya lebih senang tawaf sendiri. Saya merasa membawa beban jika harus bersama teman lelaki maupun perempuan. Apalagi bila tawaf sambil berpegangan tangan dengan teman dan seolah tak boleh ada yang menyela. Seolah terpisah dengan teman saat tawaf itu suatu bencana.

Saya sudah mendengar cerita haji, tawaf, sai, wukuf sejak saya masih bocah 10 tahun. Semoga orang-orang tua yang menceritakan kisah hikmah sabarnya beribadah haji itu mendapat ganjaran dari Allah swt. Kita bisa mengambil pelajaran dari ibadah haji. Bukan sekedar ingin cium Hajar Aswad, salat di saf terdepan, tawaf dan sai bergerombol, dan wukuf tanpa bersilaturahmi dengan bangsa lain.

Saya berpikir bahwa saat tawaf, seseorang harus berbagi tempat dengan orang lain. Beribadah itu tak boleh egois atau ingin orang lain sabar. Seseorang tak boleh merasa bahwa haknya diambil ketika orang lain menyusul, meminta jalur kiri/kanan, atau meminta memotong jalur.

Keadaan di sini lain. Orang salat pun ingin selalu paling dekat dengan kabah. Lalu jika orang lain mengambil tempatnya secara sah atau tidak, ia akan marah seolah terampas uang ratusan real. Kadang-kadang terjadi orang lain merampas tempat salat kita, tempat tawaf kita secara tidak sah. Dia pun melakukannya dengan sadar dan sengaja. Sesungguhnya, bila dia memberi orang lain hak miliknya, mungkin ganjaran Allah swt lebih besar daripada dia mempertahankan haknya salat di depan Kabah, tawaf, atau sai.

Sebagai orang Jepang, saat orang-orang mengantri sekitar 3 meter dari pintu WC, kami tak akan menggedor pintu, tak akan berteriak, tak akan klakson, tak akan memaksa, bahkan jika hak kami diambil pun, kami orang Jepang menyerahkannya kepada orang lain demi Tuhan. Ini bukan fiksi, ini fakta. Tautan artikel kunjungan ke Jepang adalah sebagai berikut.

Sebagai peziarah Tuhan, kita akan berkata, Ya, Tuhan, aku akan rida kapanpun engkau menjemput mautku. Apalagi bila makhluk-Mu berebut tempatku untuk menyembah-Mu, aku akan rida memberikan tempat itu untuknya. Demi dia mencapai ridomu dan aku pun mencapai ridomu. Bihaqi Muhammad wa aali Muhammad saw.

Hari-hari Ziarah Haji (1)

Pada tanggal 3 Agustus 2018, perjalanan rombongan haji dari Sumedang masuk ke Gedung Negara, Sumedang. Foto di bus Gedung Negara adalah sebagai berikut.

Lalu rombongan haji naik bus sampai asrama haji, Bekasi, Jalan Kebagusan, gedung D, lantai.4, kamar 406 (Rokhul). Foto di masjid asrama haji adalah sebagai berikut.

Setelah pengecekan bagasi, paspor, bermalam, esoknya jemaah diangkut bus menuju bandara. Pada tanggal 4 Agustus 2018, para jemaah terbang selama 12 jam menuju Jedah. Kami adalah jemaah gelombang 2, kloter 60. Perjalanan 12 jam tidak membuat kami terlalu lelah karena banyak hiburan dan teman. Saudiah Airlines (?) menyediakan tv di setiap bangku. Namun tidak semua fasilitas LCD tv berfungsi. Internet pesawat, film, tv tidak berfungsi. Yang berfungsi adalah peta perjalanan, permainan (games), film anak-anak. Foto di pesawat adalah sebagai berikut.

Minggu 5 Agustis 2018, kloter 60 tiba di Bandara Jedah dan disambut oleh petugas Saudi dan Indonesia.

Rombongan tidak lagi diperiksa bagasi dan paspor karena sudah didelegasikan di Indonesia. Rombingan naik bus menuju maktab atau hotel di Mekah selama dua jam. Rombongan tidak lagi perlu mengangkut koper ke maktab atau hotel. Koper diangkut oleh petugas ke setiap lantai. Warga rombongan haji mengambil kopernya masing-masing di setiap lantai. Koper harus digembok dan retsleting (ziper) harus dipaten di satu tempat. Kalau tidak, koper berpotensi dirobek zipernya dan ditutup lagi seolah tak pernah dibuka.

Wifi di maktab 1002 Mekah ini jelek. Baru hari ke tiga, setelah komplain pejabat dengan pejabat wifi lobi hotek bagus. Wifi tidak ada di setiap lantai, sungguh disayangkan. Sementara, sales provider lokal terus menawari para jemaah dengan bahasa Inggris dan Arab, sambil meminta paspor untuk dicatat nomornya. Kenyataannya nomor lokal juga mahal dan kurang memuaskan pelayanan telepon serta internetnya, padahal jemaah mempunyai grup medsos (whatsapp). Akibatnya sebagian jemaah berhenti koneksinya ke internet. Mestinya pelayanan provider Indonesia memuaskan dan bisa digunakan di Mekah. Pilihan lainnya adalah menyewa mobile wifi yang ditawarkan di galeri bandara. Harganya 80–100 ribu per hari untuk 5–6 orang. Foto fasilitas wifi di maktab adalah sebagai berikut.

Saya kecewa dengan wifi maktab yang tak mencapai kamar. Sebenarnya ada router wifi di setiap lantai. Namun entah mengapa router itu tidak berfungsi. Saya berada di lantai 10 dan hanya lobi hotel di lantai G yang wifinya berfungsi. Tentu saja warga jemaah haji dari lantai 1 hingga 10 tak mudah mengakses wifi lobi. Saya juga pernah ditanya seolah ditegur, mengapa saya pagi-pagi berada di lobi? Saya jawab saya sedang menggunakan wifi. Saya menggunakan wifi untuk komplain koneksi Smart****. Saya sudah beli paketnya 450 ribu untuk 45 hari, namun sejak saya menginjakkan kaki di Mekah saya belum terkoneksi dengan internet. Sudah empat hari saya komplain. Hari pertama, saya komplain melalui sms. Petugas operator selular Indonesia agak irit menjawab sms saya. Per sms 1000 rupiah untuk Telkom***. Baru ketika wifi hotel berfungsi, komplain saya dijawab lebih sering karena saya menggunakan media sosial WhatsApp. Saya diminta mengubah seting koneksi saya dan mencoba mencari network. Namun hingga tanggal 9 Agustus tidak berfungsi.

Menurut teman, provider Indonesia harus bekerja sama dengan provider Mekah. Sementara ini bukti kerjasama mereka parah. Paket 450 ribu saya belum berfungsi. Saya yakin bukan karena setingan hp saya melainkan provider Mekah yang tidak memberi provider Indonesia untuk berinternet.

Menurut beberapa teman dari dua maktab (Misfalah dan Syisyah), layanan internet dari wifi ataupun selpin (selular pintar) benar-benar lemot bin lambat. Tak bisa dibandingkan dengan jaringan fiber optik macam Indihome di Indonesia. Teman yang menyewa wifi portabel 80–100 ribu per hari di Jepang jelas lebih baik koneksinya daripada paket haji Telkom*** atau Smart**** di Mekah. Paket Smar**** adalah 450 ribu untuk 45 hari. Paket Telkom*** adalah 900 ribu untuk 45 hari. Saya masih melihat warga jemaah yang kesulitan dengan paket haji Telkom*** miliknya. Saya sendiri belum terkoneksi hingga 4 hari dengan paket haji Smart***.

Saya mendapat kabar dari teman yang berhaji dan sedang berada di Madinah bahwa wifi di Madinah bagus. Mudah-mudahan wifi bisa mencapai kamar dan tidak hanya di lobi hotel.

Pada umumnya warga Indonesia melakukan haji tamattu, yaitu umroh dulu sebelum haji. Umroh dilakukan dengan berihram dari luar kota (misalnya dari Jaronah). Selanjutnya melakukan tawaf, salat di belakang makom Ibrahum, dan sai. Sai dilakukan di Safa dan Marwah. Setelah itu tahalul yang menyelesaikan prosesi umroh.

Saya bertanya kepada berbagai bangsa yang berhaji di antaranya Iran, Cina, Turki, Banglades, India, Malaysia, dan tentu bangsa Indonesia sendiri. Saya menanyakan beberapa pertanyaan kepada mereka, “Aya shoma Inglisi sohbad mikonid?” Seandainya ada peziarah Jepang, saya akan menyapa, “Hajimemashite. Prana desu. Yoroshiku onegaishimasu.” Saya juga menyapa orang yang ternyata warga London keturunan Bangladesh. Kami bercakap-cakap di antaranya tentang Islamophobia. Menurutnya, Inggris tidak terlalu menerapkan Islamophobia.

Kebanyakan warga Mekah yang saya temui cenderung bisa berbahasa Inggris: pegawai bandara, sopir bus solawat, pegawai hotel. Namun pedagang biasanya mampu berbahasa Indonesia plus dengan angka dan sebagian menerima uang rupiah. Seperti toko mas di kaki menara masjid, mereka menerima uang rupiah untuk pembelian emas mereka.

Hotel atau maktab kami berada di kawasan Misfalah, sekitar 2–4 km dari Masjidil Haram. Ketika mengunjungi famili di kawasan Syisyah, kami merasa beruntung karena dekatnya jarak hotel kami dengan Masjidil Haram. Menurut teman, setelah wukuf, mabit, dan jumrah. Bus akan mengantar kami ke hotel untuk terakhir kalinya. Tak ada lagi bus solawat sehingga kami atau KBIH harus menyewa bus untuk tawaf wada.

Saya melakukan sai untuk umroh. Bukit Safa dan Marwah kini ada dalam ruangan. Saya kira puncak bukit Marwah dilapisi resin sehingga tajamnya baru tidak akan melukai kaki peziarah. Peziarah masih dapat menginjakkan kaki di batu bukit Marwah. Sementara itu batu di bukit Safa tidak bisa lagi diinjak karena ditutup kaca. Peziarah berlari di atas lantai marmer di antara Safa dan Marwah. Video puncak bukit Marwah ada pada tautan berikut.

Maktab menyediakan mesin cuci di lantai 10 yaitu atap hotel. Ada sekitar 10 mesin cuci disediakan untuk warga maktab ini. Pada jam mencuci, warga harus mengantri untuk menggunakan mesin cuci. Antrian hanya satu atau dua orang. Itu juga cukup merepotkan. Mungkin sebagian warga mencuci baju dengan tangan. Baju akan kering saat dijemur selama 20 menit pada hari yang terik. Video antrian mesin cuci ada di tautan berikut.

Kami juga mengunjungi Jabal Rahmah. Fotonya adalah sebagai berikut.

Pada tanggal-tanggal awal bulan Rayagung (Dzulhijah) maktab sudah penuh dengan warga dari Indonesia. Itu karena tinggal seminggu lagi menuju 7 Dzulhijah. Pada jam sibuk, jemaah bisa ngantri ratusan hingga lima ratus orang untuk naik bus solawat. Bus lolawat bisa mengantar 50-60 jemaah. Bus solawat adalah bus gratis yang mengantar jemaah dari aktab ke Masjidil Haram pulang-pergi. Oleh karena itu, warga semestinya menghindari naik bus jam sibuk. Jam sibuk di antaranya sebelum dan setelah asar, sebelum magrib hingga setelah isya, serta menjelang subuh.

Kompleks Masjidil Haram adalah masjid yang sangat besar. Terminal bus solawat untuk mkatab Misfalah (khususnya maktab 1002, Al Olayan Royal Hotel) ada di kawasan Sofa. Sedangkan terminal bus solawat untuk maktab Syisyah (khususnya maktab 108 dan 111) ada di kawasan Marwah. Kami pernah tersesat mencari terminal bus Marwah. Ketika kami bertanya kepada petugas haji Infonesia, mereka berkomunikasi baik dengan kami. Ketika lami bertanya kepada petugas Arab (biasanya anak atau remaja), mereka cemderung untuk memulangkan kami ke maktab. Kami sulit menjelaskan padahal saya sedikit menjelaskam dengan bahasa Inggris bahwa kami akan mengunjungi famili, bukan akan pulang ke maktab. Mungkin ucapan kami kurang jelas bagi mereka.

Di terminal ada seorang “pangeran Arab” berbaju kaos yang marah-marah di telepon. Mungkin ia memarahi pelayanan haji yang kurang memuaskan. Mungkin ia memerintahkan agar pelayanan haji lebih baik lagi dan para jemaah dihormati sebagai tamu mereka. Nadanya menyentak-nyentak, suaranya keras, mata nyalang dan beringas, ia melihat ke depan dengan telunjuk terunjuk-unjuk. Di sini juga banyak mobil sedan yang penyok. Klakson berkali-kali protes. Namun menurut kabar, tabrakan mobil hingga penyok tidak akan membuat orang Arab marah atau menuntut ganti rugi. Katanya karena negeri ini kaya minyak. Mobil yang rusak akan ditinggal begitu saja (?). Di Indoneia tersenggol sedikit saja bisa bikin orang naik darah dan minta ganti rugi.

Pelayanan haji Indonesia cukup memuaskan. Mulai dari pembuatan paspor, visa, makan, buah, roti/kue diberi kepada jemaah haji. Pembuatan paspor sangat krusial karena pernah pemerintah atau departemen agama terdahulu lalai dan mengabaikan pembuatan paspor para haji. Makan teratur dua kali sehari yaitu siang dan malam. Kami juga diberi paket kopi, teh, gula, krimer, dan saos. Foto paketnya adalah sebagai berikut.

Memasuki bulan Dzilhijah, masjidil haram penuh dengan jemaah haji dari seluruh dunia. Kontingen Indonesia mencapai 220 ribu jemaah karena jumlah penduduk Indonesia adalah 220 juta orang. Jemaah Indonesia datang dari berbagai provinsi. Saya melihat ada seseorang berdiri di pinggir pagar tawaf lantai 3 saat menjelang salat subuh. Ternyata beberapa jemaah di belakang orang Indonesia tersebut yang “berebutan” menempati safnya. Dilihat dari bendera dan wajahnya, orang-orang ini dari Kazakhstan dan Bangladesh. Alih-alih protes, orang Indonesia ini berbicara ramah kepada mereka dan mempersilakan mereka menempati posisinya. Sungguh kita mesti banyak bersyukur karena Tuhan berebutan disembah di tempat ini. Namun jangan sampai hanya gara-gara mau memuja-Nya, manusia berebutan tempat hingga bertengkar. Kita mesti beribadah dengan gembira. Tuhan tidak akan rela. Video di pinggir pagar itu ada pada tautan berikut. Videonya memang tidak tentang peristiwa orang Indonesia yang mempersilakan orang asing tadi. Keadaan Kabah beserta tawafnya sebenarnya bisa disaksikan melalui televisi, parabola, dan internet. Dengan demikian, para jemaah dapat melihat ramai atau jarangnya jemaah yang bertawaf. Namun, perubahan itu sangat cepat dan kadang-kadang tak bisa diprediksi. Di pinggir pagar itu juga saya dan istri berfoto dengan seorang ibu dari Palestina. Kami mengatakan kepada ibu Palestina tadi bahwa kami berdoa untuk Palestina. Foto ibu Palestina adalah sebagai berikut.

Maktab jemaah Indonesia tersebar di 10 sektor. Maktab kami adalah maktab 1002. Jadi ada tak kurang dari seratus maktab bagi orang Indonesia. Maktab 1002 diantar oleh bus no 11 di terminal wilayah Sofa. Video kami saat berada di bukit marwah ada di tautan berikut.

Di wilayah Marwah, ada lagi terminal bus untuk banyak sektor lain. Kami pernah mengunjungi famili di maktab 108 (turun di maktab 111). Untik ke maktab 108, kami mfnggunakan bus 07 di terminal Marwah. Setelah itu, kami menyadari betapa luasnya Masjidil Haram. Perjalanan dari terminal Sofa ke terminal Marwah juga begitu jauh, kami tempuh dengan jalan kaki. Pertemua kami di maktab 108 ada pada foto berikut.

Konferensi ke Jepang, Juli 2018

Perjalanan ini sebenarnya perjalanan spiritual dan ilmiah. Kami bertiga mengikuti konferensi internasional di Tokyo. Ternyata Tokyo adalah kota yang sangat ramai. Kota yang lebih tenang adalah Osaka ata Hokaido. Tokyo adalah kota metropolitan dengan banyal orang seperti Jakarta di Indonesia. Tautan karya ilmiah yang dibuat untuk acara ini ada di bawah ini. Kami ditemani dua orang pemandu dari Indonesia sekedar menjaga dari kebingungan di jalan. Sebenarnya tujuan tambahan dari perjalanan kami adalah kampanye kontra Islamophobia. Jepang memang bukan negara yang mengkampanyekan Islamophobia. Orang Jepang tidak takut pada orang muslim seperti yang dikampanyekan sejumlah pemerintah negara yang Islamophobia.

Foto di atas ada di lokasi Kuil Sensuji. Orang-orang Jepang tak akan peduli dengan pandangan orang yang seakan pandangan itu sinis dan mengurusi orang lain. Mereka seolah berkata, kami sedang memuja Tuhan dengan kerja yang kami lakukan dan beban yang kami bawa. Surga adalah harapan orang beriman. Tak perlu mengganggu kami dengan pandangan dan ucapan sinis.

Lalu seseorang seolah tidak terpesona melihat perempuan cantik yang hanya menggunakan jeans super pendek ataupun rok mini. Ini bukan kritik gender. Secara alami seseorang akan tertarik melihat lawan jenisnya, baik disembunyikan atau tidak. Rasanya, warga ini tidak pernah memperlihatkan tertarik pada lawan jenis. Mingkin mereka merasa malu atau tak sopan memperlihatkan perilaku alami ini. Semestinya perilaku seperti ini memang disembunyikan. Bahkan perilaku batin pun tak boleh jika bukan haknya.

Alam di sini pada bulan Juli mirip dengan di Indonesia. Suhunya juga mirip. Suhu lingkungan sekarang mudah didapat dengan selpin (selular pintar). Pergi dan kembali ke suatu tempat juga mudah dengan bantuan selpin. Bahkan berdialog atau berkomunikasi pun dipermudah dengan bantuan selpin dan internet. Warna dan penampakan hutan mirip dengan yang ada di Indonesia. Langit dan awannya pun mirip dengan yang ada di Indonesia. Namun Infonesia adalah negara tropis dengan dua iklim. Negara Jepang adalah negara subtropis (?) dengan empat musim.

Ada brankas penitipan koper yang harganya 500–1.000 yen. Tak ada petugas. Semua dijalankan dengan mesin. Mesin juga melayani pembelian minuman, nasi, burger, kentang. Namun, muslim harus berhati-hati dan menghindari makanan yang tidak halal. Tidak terlihat mesin kondom yang katanya bertebaran. Tak pernah terlihat. Mungkin ada di market yang dilayani penjualnya. Pada umumnya minuman di mesin Jepang tidak manis mungkin karena alasan kesehatan (?) atau kecendeungan (kesukaan). Orang jepang pun acap tidak paham ucapan orang asing, “beef ‘daging sapi'”, atau “coca cola”. Mereka akan paham bila kita mengatakan dengan istilah mereka, “gomoku inigiri & karaage”.

Di Jepang kami menyewa internet wifi portabel. Harga sewanya adalah 80ribu–110rb per hari. Lokasi penywaannya ada di bandara Soetta. Kami menyewa dua untuk berlima karena kami acap terbagi menjadi dua kelompok yang terpisah penginapannya. Kami menginap di apartemen sedangkan kelompok lain entah di mana. Stasiun yang kerap kali turun adalah Shibuya, SangenJaya, Shinjuku. Kami mendarat dan terbang dari Bandara Narita. Menurut kabar, ada bandara lain yang bisa digunakan untuk pergi dan datang ke Jepang.

Sebenarnya di apartemen disediakan wifi, namun kami tak akan bisa daring (online) bila keluar apartemen kecuali menggunakan wifi portabel. Itulah alasan kami menggunakan wifi portabel.

Warga Jepang menurut penilaian saya cukup mudah akrab dengan turis. Sekalipun mereka terlihat tidak peduli pada turis. Orang Indonesia acap melihat turis dan kagum pada perbedaannya. Namun orang Jepang terlihat tidak peduli dengan turis.

Suatu saat kami bertanya pada pemuda lokal di sekitar Gunung Fuji. Pemuda itu dengan senang hati mengantar kami berkilo meter jauhnya karena (seolah?) satu tujuan dengan kami. Kawasan Fuji adalah kawasan modern. Jalannya mulus, infrastruktur listrik, hotel, wisata kuliner, provider selular (internet) dan spot permainan danau juga ada di sana. Video kawasan danau di Gunung Fuji, Danau Kawaguchiko ada pada tautan youtube berikut dan berikut.

Tumbuhan yang ada di Jepang terlihat mirip dengan di Indonesia. Padahal negeri Jepang adalah negeri dengan empat musim. Ada waktu tertentu yang sebaiknya tidak mengunjungi Jepang karena adanya musim badai. Hutannya juga hijau. Pada perjalanan di atas bus menuju Gunung Fuji, terlihat sejumlah pesawahan. Namun pesawahan di kawasan Gunung Fuji tidak seluas pesawahan di Indonesia. Ketika melihat rumput yang menghijau saya selalu teringat untuk memiliki peternakan sapi. Pertenian, peternakan, perikanan adalah pekerjaan penting yang harus dilindungi pemerintah. Tanpa perlindungan pemerintah, sektor-sektor pertanian, peternakan, dan yang lainnya akan mati. Importir akan memasukkan produk luar yang harganya lebih murah daripada produk lokal: daging sapi Australia, garam, beras Vietnam, kedelai, susu.

Insiden di WC yang dialami teman adalah adanya antrian seperti di tempat-tempat lain. Seorang teman yang masuk ke wc untuk buang air kecil lalu melihat pintu di wc buang air besar tiba-tiba terbuka. Ia spontan masuk padahal ada orang yang sedang mengantri nun jauh di ujung wc. Ketika pintu wc ia ia tutup, ada ketuk dengan bahasa protesnya yang khas Jepang. Marah dalam kelembutan. Tidak menggedor pintu. Menurutnya gedorannya cukup lembut namun cukup mudah dipahami sebagai bahasa protes. Temanku keluar wc dengan wajah menyesal, “Gomen nasai.” Orang Jepang yang marah tadi tidak berkata sepatah kata pun. Sungguh berbeda ekspresinya dengan marah di negara lain yang bisa jadi ekspresinya lebih brutal atau kata-kata dengan nada tinggi dan ketus. Sungguh peristiwa ini seperti realitas yang disaksikan dari film.

Sopir bus di Jepang pun ramah dan tertib. Kami naik bus untuk menuju hotel bandara. Petugas terminal sangat tertib. Tak ada klakson, jeritan peluit, atau teriakan sopir. Transportasi yang bebas macet ini mungkin membuat warganya teratur dan nyaman. Ada banyak kereta api bisa menjelajah puluhan kilo, puluhan (?) jalur, dan berhenti di stasiun berikutnya dalam waktu beberapa menit. Bisa dibayangkan jika Bandung punya sistem transportasi bawah tanah atau atas tanah dengan jaringan trayek yang banyak menuju Padalarang, Jatinangor, Sumedang, Cicalengka, Cimahi, Padalarang, Lembang, Bale Endah. Presiden Jokowi sedang membuat kereta api cepat Jakarta–Bandung. Jakarta mungkin mempunyai stasiun hingga mencapai Depok, Sukabumi, Cianjur, Rangkas, Serang, Karawang, Bandung. Transportasi kereta api pun dilayani mesin. Sesekali petugas ada di sekitar stasiun dan dapat membantu wisatawan. Seseorang bisa bertanya tentang cara pembayaran dan arah tujuan. Seorang turis tanpa pemandu akan kesulitan bila tidak menemui petugas stasiun. Stasiun kereta ada di bawah tanah namun kami merasa stasiun itu ada di mall atau supermarket yang besar. Sebagian kereta juga berjalan di atas tanah.

Ucapan penting di Jepang di antaranya sumimasen ‘permisi’, gomen nasai ‘maaf’, arigatou gozaimasu ‘terima kasih’, yoroshiku onegaishimasu (bungkuk). Ucapan itu penting sebagai penghormatan terhadap budaya Jepang yang luhur. Tetapi jangan dieksploitasi menjadi buruk atau ejekan. Orang Jepang sangat menghargai orang yang berbicara tulus, “Yoroshiku onegaishimasu.” Saya bercakap-cakap dengan pemuda jepang dan minta izin memotret jas sepatunya.

Teman sempat tertinggal tas tentengan kecil di bus hotel ke arah bandara. Di antara isinya adalah wifi portabel yang kami sewa selama tujuh hari. Bisa ditebak, batangnya kembali dengan aman. Mulanya kami sempat cemas karena sopir bus mengklaim bahwa tas tersebut ada yang mengambil atau sopirnya memberikan kepada salah seorang penumpang yang mengaku pemilik tas tersebut. Teman kami protes dan menanyakan alasan sopir memberi tas kepada sembarang orang. Ternyata tas hilang tersebut telah diamankan dan kembali kepada kami di bandara. Japanesse manners is so excellent.

Sepanjang perjalanan saya bertemu dengan orang asing di negeri Jepang. Seperti pada umumnya, orang Indonesia senang bertemu dengan orang asing. Saya menyapa beberapa di antara mereka. Ada yang ramah, ada yang terkesan sedikit terganggu. Orang Austria di bus mampu berbahasa Inggris dan bercakap-cakap dengan ramah. Ada orang Inggris di danau sekitar Gunung Fuji terkesan kurang akrab.

“English?”

“Yeah. British. And what about you?”

“Indonesia.”

“I see.”

“Okay. Thank you very much.”

Anehnya saya merasa bicara dengan agem rahasia, bukan semata warga yang melancong. Itu mungkin karena orang Inggris tidak suka bertegur sapa dengan sembarang orang yang tidak dikenal (?).

Berkunjung ke Jepang sangat menarik. Namun, harus ada tujuan ketika berada di Jepang sekalipun untuk berlibur. Sebenarnya yang paling menarik dari negeri ini adalah manusia dengan budayanya. Tempat wisata alami ataupun permainan modern (Dysney Higland, misalnya) juga ada di Indonesia. Gunung, laut, danau, air terjun juga ada di Infonesia. Internet dan tempat tidur nyaman juga ada di Indonesia. Namun manusia Jepang dengan budayanya hanya ada di Jepang. Inilah yang paling menarik. Jadi jika ke Jepang, pastikan bisa berinteraksi dengan mereka, khususnya secara verbal.

Kalau pembaca berharap sambil ke Jepang saat di hotel bisa menonton tayangan Fox Sport, HBO dan semacamnya, niscaya pembaca akan kecewa. Kebanyakan tayangan tv yang disukai warga Jepang adalah live event, berita, atau talkshow. Jika sekarang di rumah kita ada internet, tentu tayangan televisi menjadi sangat kuno.

Semoga bermanfaat.

Wajanbolic di UPI Kampus Sumedang

WAJANBOLIC DARI UPI KAMPUS SUMEDANG

Sejalan dengan digunakannya access point (hotspot) di UPI Kampus Sumedang, wajanbolic pun dapat digunakan bagi tempat-tempat yang ada di sekitar UPI Kampus Sumedang. Salah satu access point yang digunakan UPI Kampus Sumedang ialah antena omni. Dengan begitu, diharapkan jangkauan sinyalnya bisa melingkupi seluruh kampus bahkan sampai ke tempat-tempat di sekitarnya. Sekalipun begitu, tidak semua orang dapat menggunakan access point ini karena UPI menggunakan gerbang bagi setiap penggunanya. Orang yang tidak memiliki username dan password tidak dapat menggunakan fasilitas dengan access point ini. Sementara ini access point UPI Kampus Sumedang hanya ditujukan bagi sivitas akademikanya saja.

Bagi tempat-tempat yang agak jauh, sivitas akademika UPI Kampus Sumedang dapat menggunakan wajanbolic (dalam bahasa yang lebih familiar disebut parabola katel). Setelah melakukan studi serius dari web-web yang menyimpan dokumentasi parabola katel (wajanbolic), juga dengan bantuan teman online yang mendorong pembuatan parabola katel, akhirnya diputuskanlah untuk membuat parabola katel ini. Tentu saja, pembuatan parabola katel ini disebabkan ada area tertentu, kurang lebih sejauh 2km yang kurang baik menangkap sinyal access point ini. Setelah studi dilakukan, mulailah mengumpulkan bahan dan alat untuk membuat parabola katel ini.

Berikut ini adalah dokumentasi pembuatannya.

Pertama, bahan yang digunakan adalah katel (wajan). Menurut saran beberapa teman, semakin besar katel, semakin bagus penerimaan sinyalnya.


Kedua, bahan yang digunakan adalah mur panjang no.12, dengan baut dan ringnya. Pada proyek ini dipilih mur yang panjang. Mur nomor 12 ini diupayakan sepanjang mungkin, agar bisa menjadi dudukan alumunium penyangga USB dan dudukan tiang antena wajanbolic).


Ketiga, bahan yang digunakan adalah pipa paralon pvc 3 inci dengan 2 buah dopnya.
Panjang pipa paralon pvc ini disesuaikan dengan lebar dan kedalaman katel (ada rumusnya). Pada proyek ini digunakan paralon 3 inci, panjangnya kurang lebih 30 cm).
Panjang pipa paralon ini (30 cm) disesuaikan dengan titik fokus wajan. Cara mengetahui titik fokus wajan yaitu dari diameter wajan dan kedalaman wajan. Rumus fokus wajan adalah f=D*D/16d, dengan D sebagai diameter, dan d sebagai kedalaman wajan. Bila fokus wajan 10cm, maka panjang pipa pvc adalah 3x10cm = 30cm. Bagian dari wajan ke fokus 10cm. Bagian dari fokus ke ujung pvc (20 cm) dilapisi dengan kertas alumunium.

Keempat, bahan yang digunakan adalah USB WiFi. USB WiFi tipe N pada saat ini (01/2010) harganya Rp 160.000,00. Bentuknya sangat kecil, seperti USB flash disk yang berukuran kecil. Tipe N dipilih karena tipe ini diduga lebih sensitif dan menjangkau jarak yang lebih jauh. USB WiFi tipe N ini pun bisa digunakan sebagai access point juga sekalipun komputer yang menjadi access point itu harus sudah terhubung dengan internet.

Kelima, bahan yang digunakan adalah USB RJ45. Dengan menggunakan barang ini, pembuat antena parabola katel tidak perlu lagi menghubungkan dan menyolder kabel USB dengan UTP. Lagipula menurut informasi spesifikasinya, barang ini sanggup tersambung dengan kabel UTP sepanjang 150 feet (50 meter). Barang ini bisa dipesan melalui internet di jakartanotebook.com. Tinggal transfer uang dengan sms banking, lalu konfirm melalui internet, beres, tinggal tunggu barangnya datang. Barangnya bisa dilihat di http://www.jakartanotebook.com/detail_1234567_1036

Keenam, bahan yang digunakan adalah kabel UTP (pada proyek ini, panjang kabel 15 m). Kabel ini juga tersedia di toko internet. Kedua ujung kabel ini mesti dipasang dengan RJ45 yang sudah dikrimping menggunakan alat krimping (crimping tool).

Ketujuh, bahan yang digunakan adalah besi atau alumunium dudukan USB WiFi. Barang ini berdiameter seukuran kelingking, atau lebih tepatnya masuk ke skrup ukuran 12 yang sudah disiapkan. Barang ini ditempelkan di sekrup yang ada di tengah-tengah katel. Fungsinya untuk menahan / menyangga USB WiFi, yang akan diikat dengan isolasi. USB WiFi ini disimpan di dalam tabung agar tidak kehujanan dan kepanasan. Di sini digunakan alumunium bekas antena televisi.

Kedelapan, bahan yang digunakan adalah double tape. Double tape ini digunakan untuk menempelkan kertas alumunium dengan pipa paralon 3 inci.

Kesembilan, bahan yang digunakan adalah dudukan tiang dengan katel. Dudukan ini mesti disesuaikan dengan tiang penyangga katel. Karena itu mesti disiapkan dulu tiang penyangganya, barulah dudukan tiang dengan katel ini dibeli. Bila tiang penyangga berukuran satu inci, maka dudukan ini juga mesti yang dapat memuat tiang satu inci.

Kesepuluh, bahan yang digunakan adalah kertas alumunium. Barang ini diambil dari dapur untuk memasak. Kertas alumunium bisa dibeli di supermarket. Secara ekstrem, kertas alumunium ini bisa menggunakan yang bekas (recycle). Jika pipa pvc diganti kaleng, tentu kertas alumunium ini juga tidak diperlukan. Tetapi kaleng mesti dijaga dari karat agar penerimaan sinyal tetap stabil.

Setelah dikerjakan dan dipasang, hasilnya seperti ini.

Kekuatan penerimaan sinyal dengan wajanbolic ini sangat bagus. Dalam arti, tidak ada yang mesti dikeluhkan karena putusnya koneksi di cucaca panas dan hujan. Berikut ini adalah gambaran dari besar sinyal yang ditangkap oleh wajanbolic atau parabola katel ini.

Selanjutnya filmnya adalah sebagai berikut. http://youtu.be/YagW-ps3fgA

 

Pengabdian

Setelah berhasil membuat wajanbolik, kegiatan dilanjutkan dengan berbagi ilmu dalam kerangka pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini dilakukan setelah wajanbolik digunakan selama beberapa bulan. Pengabdian dilakukan kepada sejumlah mahasiswa non-TI yang mempunyai ketertarikan pada teknologi informasi (internet). Program pengabdian dilakukan dengan memberikan training berkaitan dengan fungsi wajanbolik, cara pembuatannya, biayanya, serta potensi pengembangannya.

Beberapa mahasiswa yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan teknologi informasi ternyata mempunyai ketertarikan pada wajanbolik. Pengembangan yang dapat dilakukan adalah menggunakan internet kampus dengan wajanbolik. Dengan begitu, tempat tinggal (kos) yang dekat dengan kampus dapat memperoleh akses dari internet kampus.

Setelah diadakan training wajanbolik, sejumlah mahasiswa memang mempunyai gambaran tentang teknologi ini: tentang fungsi wajanbolik, cara pembuatannya, biayanya, serta potensi pengembangannya. Ada salah seorang yang mencoba memasang wajanbolik, namun ternyata antene USB WiFi yang dimilikinya merupakan pinjaman dari seorang teman. Ternyata USB WiFi itu mati. Sampai sini belum ada lagi tindak lanjutnya.