Mazhab Intoleran dan Imam Mahdi

Sekitar 15 tahun terakhir, diperkirakan di Indonesia muncul mazhab (?) intoleran. Masa itu adalah masa peralihan antara Presiden Mega menjadi Presiden SBY. Mungkin bibit intoleran itu sudah ada sebelum itu. Contoh simpel dari intoleran ini adalah pemaksaan keyakinan tentang khilafah atau kerajaan Islam. Saya cukup terkejut melihat perkembangannya. Saya juga terkejut melihat rasio manusia yang terlepas dari tempatnya karena mengikuti kelompok ini.

Saya mempunyai banyak pengalaman dengan kelompok (mazhab?) intoleran ini. Contohnya pelarangan demokrasi (pemilu), pemaksaan sistem khilafah, pemaksaan sistem ahl hali wal aqdi (semacam MPR), pelarangan ziarah kubur, pelarangan asuransi, pelarangan menghormat simbol negara (presiden, bupati, bendera, Garuda Pancasila, undang-undang), perbedaan pandangan tentang akidah (usuludin) dan fikih (furu udin), dan sebagainya.

Ada suatu mazhab (katakanlah mazhab) yang meyakini Islam hanya satu, tidak boleh ada mazhab, ulama selayaknya tak boleh berbeda pandangan, ulama juga bahkan semacam tak boleh berbeda orientasi politik. Ulama mereka menyuruh muslim untuk tidak memilih Ahok. Bahkan muslim pendukung Ahok diprovokasi agar mayatnya tidak disalatkan. Ulama lainnya menyatakan boleh memilih Ahok. Boleh di sini tentu bukan berarti harus memilih Ahok. Kini ada ulama yang terang-terangan membawa agama untuk menjatuhkan Presiden Jokowi lalu seolah menutup potensi orang boleh memilih atau mencoblos Presiden Jokowi.

Sebagai catatan, banyak fitnah ditujukan kepada Presiden Jokowi. Contoh fitnah itu di antaranya mengkriminalisasi ulama.

Sekarang orang berani berkata di mimbar tentang orientasi politik, menutup potensi perbedaan orientasi politik. Orang memang menyalahkan orang lain seperti fatwa kelompoknya adalah dari maksumin yang tak mungkin salah dan fatwa kelompok yang berbeda pasti salah. Kelompok ini juga meyakini bahwa khilafah dan kerajaan mesti benar dan harus dicobakan di Indonesia.

Saya katakan, Saudi juga mengklaim dua tanah haram sebagai miliknya, lalu klan (suku) Saudi ini juga menentukan siapa pejabat penting yang duduk di atas suatu posisi, klan ini juga mengklaim sumber daya alam sebagai miliknya, juga kritik terhadap klan ini dilarang. Apakah seperti ini khilafah yang ingin berdiri di Indonesia? Akankah bisa kita bayangkan raja Jawa yang menjadi rajanya? Raja Cirebon, raja Bugis, atau raja lainnya menjadi khalifah? Lalu raja dengan sesuka hatinya membagikan jabatan kepada kerabat dan kroninya? Lalu sumber daya alam dieksploitasi oleh keluarga raja ini? Lalu kritik terhadap raja terlarang?

Sistem seperti ini terjadi di Saudi, Thailand. Di Thailand juga kritik terhadap raja terlarang. Raja Thailand adalah penguasa tanah Thailand. Apakah Indonesia akan meninggalkan sistem demokrasi dan berubah (mundur) menjadi kerajaan? Perubahan dari demokrasi menjadi khilafah atau kerajaan adalah suatu kemunduran.

Saya tanyakan kepada kelompok ini, bagaimana cara khalifah dipilih? Apakah seperti pemilihan Abu Bakar? Penunjukan Umar? Perwakilan dalam pemilihan Utsman? Atau baiat beramai-ramai kepada Ali? Ataukah mengangkat diri sendiri seperti Albagdadi (ISIS) dan menyuruh orang lain baiat kepadanya? Apakah semacam ini?

Mereka mengatakan pemilihan khalifah dilakukan oleh ahl hali wal aqdi, yaitu semacam lembaga MPR. Saya katakan, itu adalah sistem demokrasi yaitu pemilihan perwakilan (bukan pemilihan langsung).

Bagaimana jika khalifah dianggap lalim? Khalifah mungkin lalim karena khalifah tidak maksum. Mungkinkah kita menahan diri untuk tidak mengkritiknya? Mungkinkah kita tidak menahan diri untuk menuntut kejatuhannya seperti orang intoleran mengharap kejatuhan Presiden Jokowi?

Meskipun saya tidak setuju dengan sistem kerajaan atau khilafah, saya juga mempunyai kekecualian. Kerajaan dengan pemimpin seorang yang maksum pasti akan menemui keadilan. Kerajaan itu juga akan muncul di akhir zaman. Kerajaan itu akan dipimpin oleh Imam Mahdi yang maksum dan mengatur segala urusan.

Ketika Imam Mahdi mengklaim sebagai khalifah Rasulullah min aali Muhammad saw maka beliau adalah khilafah Allah. Mungkin juga ada orang yang samar terhadap Imam Mahdi dan tidak mengakui Imam Mahdi dan tidak berbaiat kepadanya. Itu seperti ada orang yang tidak mengakui Abu Bakar sebagai khalifah karena itu tak mau mengeluarkan zakat kepadanya. Itu sama seperti ada orang yang tidak mengakui Ali sebagai khalifah lalu mengadakan pemilihan khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman), gubernur memberontak kepada Imam Ali (misalnya Muawiyah bin Abu Sufyan) bahkan membunuh Imam Ali (misalnya Ibnu Muljam). Potensi ketidaksetujuan atau perbedaan dalam khilafah juga sebenarnya hal yang biasa.

Imam Mahdi dan musuhnya yaitu Dajal ada dalam nas (Quran dan) hadis. Dalam hadis diperintahkan agar umat taat kepada Imam Mahdi karena mempunyai nama dan sifat seperti Nabi Muhammad saw. Kesamaan sifat ini diyakini sebagai kesamaan kemaksuman. Jika Imam Mahdi maksum, maka ketaatan kepadanya adalah mutlak. Seandainya Imam Mahdi tidak maksum, maka perintah Nabi saw sia-sia karena mustahil Nabi saw memerintahkan umat taat (secara mutlak) kepada orang yang sekali-kali salah, kadang-kadang benar.

Perbedaan ideologi adalah fitrah manusia. Orang bahkan bebas tidak mengakui Nabi Muhammad saw sebagai nabi. Orang bebas beragama karena ideologinya berbeda dengan orang lain. Orang juga bebas bermazhab karena ulama tidak sepakat tentang satu masalah (qunut, niat zahar, basmalah zahar, tawasul, ziarah, haul, tahlil, menggerakkan jari saat tasyahud).

Namun semua muslim yang berbeda pendapat tentang masalah ini tetaplah muslim, darahnya haram ditumpahkan, kehormatannya wajib dijaga. Seorang menjadi muslim karena mengakui dua kalimat syahadat, bukan karena mengakui khilafah.

PENELITIAN SUPERFISIAL TENTANG BUDAYA DAN BAHASA THAILAND

Persiapan Komunikasi dengan Internet Roaming Internasional
Untuk komunikasi, jaringan Telkomsel bisa digunakan untuk roaming internasional, khususnya di Thailand. Kode Tekomsel yang dapat digunakan adalah *266#. Dengan begitu telkomsel akan aktif bekerja sama dengan provider lokal yaitu AIS di Thailand. Harga pulsa internet untuk 3 hari adalah 120 ribu pada bulan April 2019. Untuk 7 hari 250 ribu.

Komunikasi ini sangat penting di antaranya melihat google map, komunikasi dengan WhatsApp, Line, WeChat, dan berbagi (share) foto atau video.

Dosen PGSD di Phranakhon Rajabhat University mengatakan tentang tiga pilar (tiang) bangsa Thailand yaitu negara (the nation), agama (the religion), dan raja (the king). Ternyata pilar bangsa Thailand ini sama dengan pilar bangsa dari negara tetangganya yaitu Kamboja. Mungkinkah juga sama dengan pilar bangsa tetangga lain. Pilar ini merupakan nilai atau falsafah yang mirip dengan Pancasila. Dalam Pancasila dieksplisitkan bahwa bangsa ini harus bertuhan, berperi kemanusiaan, bersatu, bermusyawarah, dan berkeadilan.

Three National Pillars: The Nation, The Religion, The King
Di Thailand ada tiga pilar nasional yaitu negeri, agama, raja. Tiga ikon ini seperti sakral dan seolah-olah tak bisa mati.

Pilar pertama bangsa adalah negara. Negara adalah tanah yang harus dibela. Persatuan seperti ini dimiliki Indonesia sampai paham radikal yang menawarkan utopia negara khalifah muncul. Paham ini bahkan siap bertengkar dengan saudaranya sendiri demi tegaknya negara utopia itu. Utopia karena negara dengan khalifah seumur hidup kurang baik. Apalagi bila khalifah mengklaim semua sumber daya alam sebagai miliknya dan keluarganya. Saya tak ingin Jokowi menjadi khalifah seumur hidup. Jokowi menguasai seluruh atau sebagian aset negara yang vital atau sumber daya alam yang vital. Saya juga tak ingin presiden dipilih oleh perwakilan semacam MPR atau ahlul hali wal aqdi. Negara Indonesia juga punya serangkaian undang-undang (UU) yang tak boleh dibuang begitu saja karena berubah mrnjadi negara khilafah. Jika UU itu dibuang, perusahaan asing seperti Freeport alan menjarah lebih dalam tanpa bisa kita tuntut dengan hak (undang-undang).

Ke dua, agama adalah pilar bangsa. Secara spesifik tidak disebut suatu agama. Agama Islam pun ada di Thailand, konon mayoritas di Thailand selatan yang berbatasan dengan Mslaysia. Thailand relatif tak ada tragedi seperti di Rohongnya, Myanmar. Myanmar seperti mengabaikan persahabatan dengan Indonesia. Keberagamaan di Thailand pun bisa dibilang rukun. Mungkin karena raja tidak menghendaki adanya perselisihan antarkelompok, seperti FPI/HTI dengan kelompok Islam lainnya. Raja akan menindak dan memaksa rakyatnya ikut aturan yang dibuatnya. Raja dengan tegas menekan kelompok agama agar tidak radikal. Pada pilar agama ini, raja pun berperan untuk menentukan damai atau bertikainya agama atau mazhab.

Pilar ke tiga bangsa adalah raja. Menariknya, saat raja kalah perang atau berganti dengan raja lain, rakyat tetap menghormati simbol raja (siapapun raja yang memimpin, dari keturunan manapun) selama raja mencintai rakyatnya. Saya mendengar dari cerita pemandu wisata, Popo, bahwa ada raja yang dieksekusi mati oleh suksesornya. Namun, pergantian ini tidak menimbulkan reaksi (chaos) rakyat. Tetap saja ada kelas ningrat dan rakyat. Rakyat tetap duduk di lantai sementara raja duduk di kursi. Rakyat tak boleh memandang raja saat saling bicara. Rakyat harus berjalan merangkak di hadapan raja. Rakyat harus menyembah di hadapan raja di lantai.

Raja yang sebenarnya di akhir zaman ini adalah Imam Mahdi. Semua manusia menunggu kemunculannya untuk memerangi kelaliman. Sementara itu, raja-raja dan pemimpin dunia sekarang ini menyongsong kepemimpinan Imam Mahdi. Bahkan dahulu, Krisna atau Iskandar Dzilkarnain pun tidak mengatur siapa yang menjadi raja di suatu daerah selama raja di daerah itu tidak lalim.

Namun, berkaitan dengan Imam Mahdi pun sebagian manusia berselisih pendapat. Bisa saja seseorang mengidentifikasi sesuatu sebagai pendukung Imam Mahdi dan melawan kejahatan. Namun, bisa saja sebagian warga salah persepsi dan keliru mengidentifikasi Imam Mahdi dan pendukungnya.

Bahkan wujud Imam Mahdi dan kebenarannya begitu terang benderang. Namun, bisa saja ada sebagian warga yang tidak bisa mengidentifikasinya.

Liputan Kunjungan

Video kunjugan bisa disaksikan juga di youtube dengan alamat https://youtu.be/u-624PcODXk

Gambar Raja dipampang di banyak penjuru jalan Thailand. Gambar ini juga membuat rakyat mengenal rajanya. Tentu raja yang baik akan membawa rakyatmya sejahtera dengan program oemerintahan yang baik. Raja bertugas melindungi hak warganya.

Kami menginap di MIKE BEACH RESORT, a RESORT IN PATTAYA, CHONBURI, THAILAND

Dengan negara yang tidak berasas agama Islam, di Thailand banyak perempuan tidak berhijab. Di Pattaya, perempuan menggunakan celana atai rok super pendek itu biasa. Tidak ada ormas semacam FPI, pecalang, atau polisi syariat yang memburu orang yang memakai rok pendek, memburu orang yang tidak puasa, atau memburu orang yang mabuk.

Saya pernah bertanya kepada dosen Phranakhon Rajabhat University tentang pendidikan seks. Temannya mengatakan bahwa agama Budha harus menahan nafsu termasuk nafsu seks.

Di Pattaya mobil yang melintas akan melambat jika orang menyebrang. Apakah ini tipikal negeri wisata? Di Indonesia, jika orang lambat memyebreng, sopir akan memaki (mony*t) atau membunyikan klakson.

Harga solar di Thailand lebih mahal daripada di Indonesia. Harga solar sekitar 13 ribu rupiah sedangkan di Indonesia cuma kurang dari 6 ribu rupiah. Negara stabil dengan harga bahan bakar seperti itu.

Demo-demo relatif jarang. Ada memang demo menurut pemandu wisata seperti demo regular berbaju hitam, baju kuning, kaos merah (?) dan sebagainya. Kerajaan menurut pemandu lain seperti masa Orba (Presiden Soeharto). Penghinaan terjadap kerajaan pun bisa ditindak. Ini berbeda dengan di Indonesia saat Presiden Habibie, Presiden Gus Dur, dan Presiden Jokowi dihina bahkan dengan fitnah semacam memasukkan warga Cina ke Indonesia.

Ada satu peristiwa menarik. Pemandu wisata sedang berbicara tentang raja di dalam bus wisata. Suatu saat dia menurunksn mic dari wajahnya. Padahal dia tidak terlihat memghina raja. Namun sedikit ucapan juga bisa sensitif bagi raja. Ucapan di bus wisata ini direkam dengan mic dan cctv. Sebegitu parahnya pelarangan di Thailand. Wajar warganya hati-hati. Wajar tak ada demo seperti 212, 414 di Indonesia.

Rupa dan badan orang Thailand sebenarnya mirip orang Indonesia. Mereka juga cenderung menyukai warna kulit yang putih daripada yang hitam. Lalu apabila ada warga perempuan yang memakai celana pendek, kulit mereka terlihat sangat putih walau tidak bule.

Saya belajar beberapa frasa bahasa mereka, seperti sawat dii khrap ‘salam’, khrap chan Prana ‘nama saya Prana’, khoop khun thuk than ‘terima kasih banyak’. Saya juga belajar tulisan mereka. Namun sampai saat ini saya masih kesulitan memgenal tulisan mereka. Mulanya saya kurang tertarik dengan Thailand karena saya lebih menyukai bahasa Jepang. Namun setelah berkunjung ke Thailand, ternyata budaya, bahasa Thailand juga menarik untuk dipelajari. Di sini juga bersih. Bangkok, Pattaya, Thailand menjadi tujuan wisata nomor satu di dunia seperti Bali. Saya sukar memahami tulisan di pinggir jalan. Sekalipun demikian, sesekali ada tulisan latin yang bisa saya baca.

Bahasa Thailand itu membedakan irama seperti bahasa Cina. Memang menurut pemandu wisata irama itu merupakan pengaruh Cina. Raja Thailand pun ada yang etnis Cina menurut pemandu wisata. Lalu raja juga menikah dengan rakyat biasa.

Kami mengunjungi peternakan lebah madu. Peternakan ini milik raja dan dikelola oleh swasta. Ada tempat wisata yang dimiliki atau dimodali oleh artis Thailand. Investasi memang perlu untuk mengembangkan negara dan memutar uang warga. Produk unggulannya adalah madu, bee polen, dan royal jelly. Harganya lumayan mahal. Tetapi bukan hanya maharaja saja yang bisa belanja produk unggulan lebah madu. Dosen tersertifikasi juga bisa belanja seperti itu.

Bangkok, Thailand menjadi tujuan wisata nomor satu di dunia seperti Bali. Namun ada satu perbedaan antara Bali dengan Bangkok. Bangkok adalah tempat wisata “dewasa” yang jauh lebih bebas daripada Bali. Di Bangkok perempuan bebas memakai celana pendek dan rok pendek. Perempuan di Bangkok pun semacam lebih bebas pergaulannya daripada Bali. Bali semacam diawasi oleh saudara muslimnya sehingga ada hal yang dianggap tabu, tidak sebebas Bangkok.

Bangkok juga mungkin lebih bebas daripada Jepang. Entahlah. Mungkin hanya di negara yang berpenduduk muslim, pergaulan warga dilarang atau dibatasi. Jepang mungkin kurang eksplosif dalam hal laki-laki, kupu-kupu malam, ganti kelamin, lady boy, tomboy. Namun di Jepang, ada warga yang punya pacar boneka, robot, binatang, ahli waris binatang, dan hal aneh lainnya menurut warga negara muslim.

Kami juga mengunjungi semacam kampung gajah. Kami menonton teater tari dengan adegan perang gajah di bawah panggung. Teater ini menurut review teman cuma didukung teknologi, namun kreativitas warga Indonesia juga tidak kalah.

Atraksi gajahnya luar biasa. Mungkin gajah ini dulunya dilatih untuk ikut berperang. Di Indonesia, pelatihan gajah hanya masih ada di Sumatera Salatan, Lampung. Namun, atraksi gajah di Pattaya, Thailand jauh lebih fantastik.

Gajah memecahkan balon, melukis, main bola, drat, main bola. Gajah dilatih mungkin karena pada masa lalu gajah digunaksn sebagai kendaraan perang. Tradisi ini dilestarikan di Thailand. Di Jawa, perang dengan tentara gajah tidak populer. Mungkin penduduk di Jawa cenderung cinta damai karena negeri ini sangat kaya. Orang yang tersisih pun bisa mendapatkan rezeki dengan bergeser ke tanah lain.

Saya melihat prajurit dalam teater memainan dua pedang. Ini juga cukup fantastis karena dua pedang juga ada di Jepang. Indonesia punya kujang, keris.

Makanan muslim harus pilih-pilih, bahkan di hotel. Konon bila hotel (bsnyak) dikunjungi wisatawan muslim, barulah tukang masak (chef) hotel memasak makanan halal. Jika hotel tidak dikunjungi wisatawan muslim, bisa saja hidangan yang tersedia di hotel ada yang mengandung daging babi.

Buang Air

Buang air kecil juga cukup susah untuk bersucinya. WC di Indonesia relatif ada pancurannya untuk bersuci saat busng air kecil. Di Thailand kita harus bersiap kesulitan untuk bersuci dari hadas kecil. Solusi sederhananya adalah membawa air mineral saat buang air kecil. Dengan begitu kita bisa bersuci dengan benar. Di Bali juga sering sulit untuk bersuci. Hotel di Bali ada yang hsnya menyediakan tisu untuk bersuci dari buang air besar. Di Bali juga acap seorang muslim kesulitan untuk bersuci dari buang air kecil.

Ada satu cerita menarik ti pantai Pattaya. Ketika itu kami mampir di dekat spot Hard Rock Cafe, Pattaya. Ini mengingatkan saya pada HRC Kuta, Bali yang juga pernah saya kunjungi. Kami berfoto di sekitar pantai. Suasananya sudah malam karena itu foto tak bisa menangkap objek jauh dengan lampu yang kemerlip. Setelah beberapa saat, kami diminta pemandu wisata untuk kembali ke bus. Ternyata beberapa orang di antara kami kebelet ingin pipis. Pemandu wisata lalu mengantar kami mampir di wc HRC. Saya ingat saat itu, band sedang memainkan lagu, Skid Row, “I’ll remember you.” Lagu itu adalah lagu saat saya SMA. Yang menarik adalah kami cuma menggunakan fasilitas wc di HRC. Kami melihat pengunjung kafe yang memikmati makan, minum, dan lagu. Sangat bagus untuk masyarakat, bisa menggunakan wc orang lain atau perusahaan lain. Jangan sampai berlagak ndeso atau kampungan lalu buang air di sembarang tempat, di kebun orang, di sudut rumah orang. Seseorang sehatusnya bisa minta izin atau tanpa izin untuk ikut buang air.

Floating Market di Chao Phraya

Kata pemandu wisata, sungai Chao Phraya adalah nama orang yang dijadikan nama sungai pariwisata. Kata pemandu wisatanya barang hilang juga bisa kembali. Hal ini menunjukkan bahwa tempat ini peduli wisata. Hal ini juga menunjukkan bahwa kebaikan itu bisa dilakukan oleh nonmuslim.

Muda-mudi banyak yang berwisata di sekitar sungai Chao Phraya. Thailand merupaksn negara yang cukup bersahabat. Keamanannya relatif aman seperti Indonesia.

Di Bangkok kami menginap lagi selama satu malam di Metro Resort Pratunam. Seharian kami berkrliling untuk berwisata. Keindahan alam di Thailand memang menarik. Indonesia juga tidak kurang indah. Yang lebih menarik bagi saya sdalah bertemu dengan orang-orangnya, berbicara dengan mereka, belajar budaya dan bahasa mereka.

Biksu dan Derma Warga

Biksu muda berjalan dari satu toko ke toko lain meminta derma dari pemilik toko dan pembelinya. Tak ada rasa rendah diri dari biksu ini. Tak ada gambaran terpaksa atau gambaran dirampok dari wajah pemberi. Tak ada kemarahan biksu karena diberi uang kecil. Munhkin karena bila ada keributan, polisi bisa turun tangan. Raja juga bisa menghukum orang seperti biksu atau pemilik toko. Saya ingat film Mahabharata yang menggambarkan Pandawa yang menyamar menjadi biksu dan meminta derma dari warga.

Perbuatan biksu meminta derma ini berbeda dengan Islam karena para nabi yang diyakini Islam bekerja dan tidak boleh menerima upah dari dakwah yang diberikannya. Nabi Zakaria menjadi tukang kayu, Nabi Daud membuat baju besi, Nabi Muhammad menggembala ternak dan berdagang. Para nabi tak boleh meminta upah (derma) dari dakwah yang mereka lakukan. Upah kepada Nabi saw adalah kecintaan kepada keluarganya.

Perempuan pedagang kelontong di pasar Thon Buri distrik fasih berbahasa Indonesia. Pedagang di pasar Sungai Chao Phraya juga bisa berbahasa Indonesia yaitu pedagang baju, suvenir, bahkan penjual kacang di atas sepeda yang beretnis India. Ini berarti cukup banyak wisatawan Indonesia di Thsiland.

Saya bisa bayangkan jika pedagang Indonesia juga fasih berbahasa Inggris. Mungkin hanya ada di Bali sementara ini.

WC di sini juga pada umumnya gratis. Saya baru menemukan satu WC berbayar. Itu juga tidak ada orang penunggunya seolah sukarela. Saya tidak dipaksa untuk membayar. Seorang pengunjung lain keluar WC begitu saja tanpa memasukkan uang atau receh ke kencleng, tidak ada yang menagih.

Kami mengunjungi produk kulit. Ternyata produk kulit Indonesia pun tak kalah dengan produk Thailand. Saya pernah ke sentra kulit di Garut dan Cibaduyut, Bandung. Harga produk kulit Indonesia jauh lebih murah dengan kualitas yang sama. Kita mesti bersyukur bahwa krrajinan seperti ini dimiliki rakyat biasa, bukan oleh investor besar.

Bagian selatan ternyata pernah mengalami penjajahan dan rebutan penguasa, termasuk penjajah barat. Bagian selatan banyak yang beragama Islam. Bagian selatan juga berbatasan dengan Malaysia. Mungkin karena itu bahasa Infonesia juga populer dan bisa dikuasai pedagang Thailand.

Kami mengunjungi musium pendidikan universitas. Kami juga mengunjungi pengolahan emas dan batu mulia. Kereta di musium bercerita bahwa teknologi kereta berasal dari Inggris dan Jerman. Rel kereta menunjukkan bahwa barat mencari emas pada masa kolonialisme.

Kami juga mengunjungi Mall MBK. Di Mall MBK ada food court di lantai 6. Tempat seperti ini dikunjungi karena ada restoran muslimnya. Di negara yang muslimnya minoritas, kita harus berhati-hati memilih makanan. Di Bali juga seorang muslim harus berhati-hati memilih makanan. Mungkin memilih ikan dan sayuran lebih baik daripada makan hewan sembelihan. Muslim juga bisa minta diantar ke restoran halal.

Contoh Kebebasan Kebablasan di Indonesia

Mohon maaf, jika presiden diisukan memasukkan Cina, apa yang harus dilakukan presiden? Orang-orang sudah berani mengatakan presiden memasukkan Cina. Berani berhadapan dengan kekejaman Presiden? Di Thailand mengkritik raja saja tidak boleh, apalagi menghina raja.

Presiden tangan besi akan mengobrak-abrik isu bohong itu. Di Thailand, orang yang omong miring saja tentang kerajaan sudah ditangkap dan diinterogasi. Di sini orang, demi pemilu menyebarkan isu yang belum jelas.

Apa kader partai seperti FZ, FH, RK, dan DPR lainnya sudah tak bisa bicara isu Cina kepada Presiden? Warga kita bisa memilih presiden sesuai nurani. Silakan sampaikan opini. Namun tak boleh hoaks. Juga tidak boleh mrmaksa dan tidak boleh berisik.

Menyebrang Jalan dan Mobil Ngebut

Pengalaman unik yang diperoleh ketika menyebrang jalan di Thailand, misalnya di Pattaya adalah mobil akan cenderung melambat jika ada orang yang menyebrang jalan. Ada seorang youtuber asal Bali yang melaporkan peristiwa semacam ini di Rusia. Katanya, berbeda dengan di Indonesia, jika sopir atau pengemudi motor di Indonesia melihat penyberang jalan yang berjalan lambat, ia akan memaki, “Cepat, m*ny*t!” Menyebrang jalan di Infonesia, meski aman dan bisa dilakukan di luar tempat penyebrangan jalan, namun tetap harus hati-hati. Mungkin peristiwa di Thailand tentang menyebrang jalan ini merupakan bagian dari sopan santun dan promosi pariwisata.

Draft Moderator di Phranakhon Rajabhat University dari Universitas Pendidikan Infonesia

Thank you dear master of ceremony to place me here as your moderator.

Asalsmualaikum wr.w., piece be with you

Sawat dii khrap

Let me intriduce myself as your moderator here. My name is Prana. Khrap phom Prana. This name has two syllable. And this university is Phranakhorn Rajabhat University as I myself a rajabhat in my own home. No, I have never change my name since I was born. Thank you for shower me with your love and affection.

We, Indonesia, have an exvellent tradition as well as Thai people have.

I would like to thank all of you audience that takes your time here with us in our magnificent occation. Here is seminar ….

I do believe that this occasion will develop our institutions cooperation. We, UPI have many scholar as well as Pranakhon Rajabhat University has. I myself developed students perspective about developing education media or android program using MIT App Invemtor 2. We have three excellent keynote speakers here that will talk about their recent research. I do believe that this cooperation will continue in the future as well as we and our students develop our research.

In this seminar I will introduce three magnificent keynote speakers. Those three keynote speakers will describe today educations chalange. What do we did to overcome. What ee will do next to gain further development.

If you dear all audience permit me, I want to highligt their curriculum vitae resume for all of you.

09:15 – 09:35 Keynote 1 “21st Century Leadership in Primary Teacher Education” Keynote Speaker from College of Education, Phranakhon Rajabhat University: Dr Derek Pornsima

The first keynote speakers, the stage is now yours.

Lets give a round applause for Dr. Derek Pornsima

Thank you Dr. Derek Pornsima for this tremendous presentation

09:35 – 09:55 Keynote 2 “Primary Teacher Education towards Industrial Revolution 4.0 in Thailand” Keynote Speaker from Department of Primary Teacher Education, College of Teacher Education, Phranakhon Rajabhat University: Dr. Ooy, not Dr. Piyalak Akkrarat, or Jemy

The second keynote speakers, the stage is now yours.

Lets give a round applause for Dr. Piyalak Akkrarat

Thank you Dr. Piyalak Akkrarat for this tremendous presentation

09:55 – 10:15 Keynote 3 “Primary Teacher Education towards Industrial Revolution 4.0 in Indonesia” Keynote Speaker from Department of Primary Teacher Education, Universitas Pendidikan Indonesia: Dr Diah Gusrayani

Dr. Diah is a consultant of young learners, IT developer for English Children teaching media, a doctor of English Education

The third keynote speakers, the stage is now yours.

Lets give a round applause for our three keynote speaker here.

Thank you all for your tremendous presentation

And now we have question-answer session with our keynote speaker. If you have any question to any of our keynote speakers, please raise up your hands. You also have to mention to whom the questions refer to.

And now I would like to end up our seminar session. Please give us applause for our kenote speakers and for our presence in this occasion.

I would like to thank to the institutiuon pranakhorn Rajabhat University to let this cooperation events happen.

Khoop khuun thuk than

Thank you very much

QA Session
It is very interrsting that Thai develop peoples educaton culture well, as well as Indonesia develop people education culture. We can live our life as long as we live in piece.

Develop our skillfull students is an important findings. We also teach our students moral.

Three mational pillars: the nation, the religion, the king

We have also the president who order people ti send their children to education

SEMUA MANUSIA AKAN MATI

Salah satu contoh tema yang bisa mudah atau susah adalah tema kematian, penyakit, cacat, politik, pendidikan seks, atau perang. Semua orang akan mengalami kematian. Oleh karena itu manusia harus merenungkannya atau memikirkan tema itu. Seorang ulama mengatakan bahwa kematian manusia adalah masalah sepele bagi Allah swt. Dia hanya tinggal melemahkan manusia lalu acap menyertakannya dengan penyakit. Lalu kematian mencapainya. Ada pula yang mati karena insiden atau kecelakaan yang tiba-tiba.

Manusia dapat merenungkan seseorang yang mencapai usia tua renta. Lalu penyakit menimpanya. Ia lalu mencapai kematian. Mungkin saja negerinya dilanda perang seperti di Suriah sehingga ia wajib membela negaranya dari ancaman ISIS. Mungkin ia mencapai kematian dengan sebab perang itu. Lalu apa yang dipersiapkan manusia untuk menghadapi kematian yang pasti akan mencapainya? Inilah yang diharapkan agama atau Tuhan dari manusia yaitu memikirkan Tuhannya, mengharap rida Tuhannya. Tanpa berpikir seperti itu maka manusia tak lebih dari binatang. Lalu ia setiap hari berperilaku seperti binatang: bangin tidur, mencari makan setiap hari, dan sesekali kawin, malamnya tidur lagi, besoknya melakukan pekerjaan yang sama. Lalu dalam bekerja rebutan dengan binatang lain dalam mencari makan atau melakukan korupsi. Manusia adalah binatang yang berpikir atau hayawanu natiq.

Mengapa tema kematian dilarang sedangkan tema pendidikan seks diperbolehkan? Tentu saja manusia juga harus belajar pendidikan seks. Bila seorang perempuan tidak belajar pendidikan seks maka ia akan belajar pendidikan seks di jalanan atau dari media sosial yang belum tentu memberikan informasi yang benar. Bila seorang perempuan mendapat haid sebelum ilmu mencapainya, mungkin perempuan ini akan kebingungan dan bertanya kepada orang di sekitarnya. Mungkin saja ia bertanya kepada teman di jalanan. Bila seorang anak laki-laki mimpi basah sebelum ilmu mencapainya, ia juga akan mendapat masalah yang sama. Setidaknya sebagian orang yakin bahwa anak usia sekolah dasar harus belajar pendidikan seks sesuai tingkat kematangannya. Mungkin saat ini anak kurang mengerti, namun ia akan memahaminya tatkala kematangan mencapainya.

Kecelakaan, darah, prmvoman, anarki juga dilarang di televisi karena bisa berdampak buruk bagi anak-anak atau penontonnya. Hsl-hsl yang dilarang di televisi mesti hati-hati pengajarannya agar dapat menghindari keburukan.

Mestikah Ada Mekanisme Rakyat Me-recall Wakil Rakyatnya?

Tulisan ini sekedar diskusi, namun tautannya bisa dirujuk. Mungkin ada yang oro kontra. Mungkin partai tidak suka atau mungkin rakyat suka. Mungkin srkelompok politisi suka.

Presiden Jokowi saat ini berkali-kali mendapatkan ancaman pemecatan (impeach) dari DPR. Salah satu peristiwa yang pernah terjadi adalah ketika Jokowi mengangkat seorang perwira polisi aktif (M. Iriawan) sebagai plt gubernur Jawa Barat. Mendagri Tjahjo Kunolo tetap melantik M. Iriawan.

http://jabar.tribunnews.com/2018/06/18/penunjukan-plt-gubernur-jabar-dari-kepolisian-dinilai-tak-miliki-urgensi-apapun

Bila presiden bisa dipecat DPR, seharusnya ada mekanisme pemecatan wakil rakyat, bila wakil rakyat itu melanggar konstitusi, kriminal, atau tidak disukai.

Hali ini mungkin disebabkan sebagian warga bisa tak suka pada wakilnya dan tidak sepaham dengan wakilnya.

Saat ini hanya partai yang bisa me-recall wakil rakyat anggotanya? Bila seorang wakil rakyat korupsi, terjerat narkoba, atau kriminal lain, maka partai menggantinya dengan kader nomor urut berikutnya.

Di Iran, wakil rakyat bisa dijadikan teman untuk mengadukan masalah warga. Masalah itu bisa direkam atau ditandatangani warga dan wakil rakyat. Dengan begitu warga lain bisa melihat masalah itu terpecahkan. Wakil rakyat bisa maslahat bagi rakyat.

Fungsi wakil rakyat di Indonesia ada tiga yaitu membuat undang-undang, menganggarkan sesuai visi kepala daerah/kepala negara, pengawasan terhadap anggaran yang digunakan pemerintah sesuai visi pemerintah. Oleh karena itu pelayanan wakil rakyat pun mesti relevan dengan dengan ketiga fungsi ini.

Dulu Presiden Habibie “ditintut”mempercepat pemilu di antaranya dengan isyu bahwa Habibie adalah antek Orba (Pak Harto). Tautannya http://m.tribunnews.com/nasional/2014/03/20/minta-pemilu-dipercepat-habibie-pernah-usir-amien-rais. Berita seperti ini bisa dicari dengan kata kunci “habibie mempercepat pemilu.”

Dulu Presiden Gus Dur juga dijatuhkan dengan sejumlah demonstrasi. Tautannya ini http://nasional.tempo.co/amp/25811/garda-keadilan-demo-gus-dur. Berita seperti ini bisa dicari dengan kata kunci “gus dur didemo.”

Pada masa Jokowi juga Jokowi berkali-kali didemo dengan tuntutan yang tidak relevan seperti mengintervensi pengadilan dan sebagainya. Ahok berkata, “… ditipu pakai Almaidah: 51 ….” Presiden Jokowi yang didemo. Ini berarti mengincar menjatuhkan Presiden Jokowi. Untung saja media sosial membela Presiden Jokowi sehingga Presiden Jokowi bertahan di kursi presiden. Dulu waktu era Presiden Gus Dur didemo, pembela Gus Dur tak punya media untuk membela Gus Dur.

Sekarang ini wakil rakyat yang kurang disukai rakyat, entah denhan alasan baik atau buruk, rakyat cuma bisa menuntut partai me-recall wakil rakyat itu. Bila wakil rakyat melakukan tindakan kriminal atau melanggar hukum, polisi akan menindak tanpa petlu lapoean warga. Lalu wakilrakyat itu akan diberhentikan dan diganti. Namun, bila wakil rakyat ngomong seenaknya, tak etis, dan sebagainya, maka rakyat cuma bisa sedih, kaget, marah, atau tertawa.

FH diduga memperburuk citra PKS sehingga PKS mau me-recall-nya. Namun FH balik melawan PKS, meski surat recall sudah ditandatangani ketua partai. Bisa dibayangkan Mega, SBY, Harry Tanoe, atau Prabowo bisa tidak didengar oleh anak buahnya. Berita bisa dicari dengan kata kunci “si anu (wakil rakyat) direcall.”

http://jogja.tribunnews.com/2019/01/24/fahri-hamzah-ancam-pks-bayar-ganti-rugi-rp30-miliar-atau-sita-aset.

Hari-Hari Ziarah Haji (45)

Kesombongan dalam Beragama

Salah satu masalah kritis dalam toleransi adalah kesombongan dalam beragama. Seolah-olah seseorang yang beragama merasa lebih baik daripada orang beragama lainnya, mazhab lainnya, sekte lainnya, kelompok lainnya, …. Lalu dia merasa surga adalah klaim, miliknya sendiri, sedang orang lain seolah tak berhak masuk surga.

Konon, hanya karena beda pilihan atau orientasi dalam pilgub atau pilpres pun membuat seseorang mengklaim surga. Padahal surga adalah otoritas Allah swt. yang tak seorang pun boleh mengklaimnya. Klaim pemilik surga adalah salah satu klaim paling parah dalam beragama. Juga klaim ikhtiar surga karena memilih salah satu calon gubernur atau calon presiden. Memang mungkin memilih satu calon masuk surga, namun tidak pasti. Mungkin, tidak pasti. Namun bukankah memilih calon lain juga berpotensi mendapat surga Allah swt.? Seandainya tidak masuk surga, tentu tak akan ada yang memilihnya.

Mengapa seseorang mengklaim surga untuk pilpres atau pilgub padahal tidak ada kriteria yang jelas tentang Prabowo atau Jokowi sebagai orang yang maksum. Seandainya Prabowo atau Jokowi maksum, mesti memilihnya adalah masuk surga dan menolaknya berpotensi masuk neraka.

Lalu orang (so called ulama, ustaz, ustazah) yang mengkampanyekan pilpres sebagai klaim agama pun bukanlah orang maksum. Jadi janji surga karena pilpres benar-benar absurd.

Berderma memang berpotensi masuk surga. Namun bila orang berderma sekaligus melakukan kejahatan (membunuh, memfitnah, putus asa dari rahmat Allah swt., dst) maka belum tentu dia masuk surga.

Kesombongan dalam beragama juga adalah memilih salah satu capres dengan keyakinan secara mutlak bahwa pilihannya itu akan membawanya ke surga. Dengan demikian, dia berpikir bahwa melilih capres lain akan membawa pemilihnya ke neraka. Sesimpel itu. Padahal hanya dengan mengikuti Nabi saw baru bisa membawa seseorang masuk surga. Itu juga dengan catatan bahwa keikutannya itu secara kafah, mutlak, dan konsisten. Bila mendapat cobaan, ia tidak goyah. Bila seseorang mengaku ikut Nabi saw., namun melanggar perintahnya dan melakukan larangannya, surga adalah mimpi baginya.