Hari-Hari Ziarah Haji (24)

Bertemu dengan Peziarah dari Palestina

Peristiwa ini terjadi ketika kami melakukan nafar (lempar jumrah). Saya mengetahui bahwa bendera yang dibawa kelompok di seberang jalan itu adalah bendera Palestina. Saya antusias melihat warga jemaah dengan bendera Palestina. Saya sampaikan kepada teman-teman bahwa jemaah di seberang kita adalah jemaah Palestina. Saya memprovokasi teman-teman untuk menunjukkan dukungan kepada Palestina.

Lalu seseorang di antara kami berteriak, “Viva Palestina! Hidup Palestina!” Teriakan itu disambut oleh warga jemaah Palestina dengan berteriak dan mengangkat tangan.

Namun semangat teriakan itu selesai begitu saja. Orang-orsng kembali berpaling ke arah tujuan mereka melempar jumrah.

Asgar Saudi ada di sekitar kami. Mereka ada di jalan menuju nafar. Mereka acap tersenyum kepada jemaah Indonesia. Mereka juga menyemprot wajah jemaah dengan air untuk mencegah dehidrasi dan heat stroke. Asgar itu berusaha menjaga ketertiban jemaah. Dslam sejarah haji, beberapa kali terjadi insiden di Mina dan merenggut korban jiwa jemaah.

Apakah jemaah Palestina merasa bahwa dukungan jemaah Indonesia kepada Palestina secara terbuka berbahaya di tempat ini? Apakah mereka merasa bahwa dukungan semacam itu cukup atau sia-sia? Apakah mereka merasa bahwa dukungan jemaah Indonesia kepada Palestina hanya pura-pura?

Namun dukungan kepada Palestina dari Indonesia ada. Dukungan itu harus selalu ada selama Zionis masih menjajah Palestina.

Selain di kawasan nafar (Mina), saya juga sebelumnya pernah bertemu seorang ibu warga Palestina di kawasan Masjidil Haram. Saya menyatakan dukungan terhadap Palestina dan mendoakan Palestina. Foto ibu Palestina adalah sebagai berikut.

Hari-Hari Ziarah Haji (23)

Bertemu dengan Orang Libya

Kualitas kita adalah dengan siapa kita berteman. Kali ini saya bertemu dengan orang Libya. Setelah bersapa, saya bertanya kepadanya tentang Presiden Moamar Khadafi. Dia mengatakan bahwa Presiden Moamar Khadafi jempol (ia mengisyaratkan dengan jempolnya). Lalu ia mengatakan pasca Khadafi jatuh, Libya jatuh (ia mengisyaratkam dengan jempol terbalik).

Jadi benar kata Dina Sulaiman. Sebagai catatan, Dina Sulaiman adalah pakar hubungan internasional. Beliau banyak mempunyai referensi hidup dan referensi teks yang valid (sah) dan bisa diuji validitasnya. Hegemoni penjajah menjatuhkan Libya yang makmur menjadi puing-puing bekas perang. Libya dimasuki oleh pemberontak asing. Pemberontak asing ini dimobilisasi dari liar Libya. Libya kalah dalam perang karena Moamar Khadafi syahid dalam perang itu. Kini Libya menjadi tidak stabil seperti Irak. Irak juga disebu tentara AS dengan dalih menghukum Sadam Husainatas kepemilikan senjata pemusnah dan pembantaian di masa lalu.

Menurut Dina Sulaiman, perang Libya dimulai dari demonstrasi, tuntutan demokrasi, khilafah. Lalu terjadilah perang yang mengakibatkan rakyat Libya memderita sekarang.

Di Indonesia, Presiden Jokowi sejak mulai menjabat presiden sudah diancam hanya akan bertahan tiga bulan. Lalu hoaks pun berseliweran. Orang diancam bila mendukung Jokowi. Sebagai Catatan, Jawa Barat adalah propinsi yang banyak pendukung Prabowonya. Oleh karena itu, tak heran berita hoaks tentang Jokowi disebarkan bahkan oleh saudara, teman, dan orang dekat saya.

Salah satu contoh hoaks yang diterima masyarakat adalah hoaks tentang Jokowi PKI dan banyak PKI berkeliaran. Seolah mereka melihat PKI di jalan tempat yang biasa mereka lewati. Menurut Dina, hoaks perlu dilawan dengan pelurusan. Orang tidak boleh tinggal diam. Dengan begitu, kekacauan, pemberontakan, perang seperti di Libya tidak akan terjadi. Kita ingat bagaimana Presiden Gus Dur dijatuhkan oleh sekelompok orang. Lalu kita ingat bagaimana demo 212 anti Ahok begitu masif. Namun semuanya sirna karena perlawanan pun tak kalah masif.

Ziarah haji bisa digunakan sebagai “konferensi” umat Islam sedunia. Pada peristiwa ziarah haji, seorang peziarah bisa bersilaturahmi dengan peziarah lainnya. Mereka juga bisa saling mengkonfirmasi ihwal kabar baik di antara kaum muslimin, ketertindasan, berita bohong yang tersebar, dan sebagainya.

Saya mungkin hanya nertemu seorang Libya. Bila teman saya juga bisa melakukan hal yang sama, tentu berita itu bisa saling mengkonfirmasi. Lalu fitnah di antara kaum muslimin pun bisa dilawan.

Hari-Hari Ziarah Haji (22)

Bertemu dengan Ulama Iran

Kualitas kita adalah dengan siapa kita berteman. Dengan begitu di Mekah saya mencari teman sebanyak mungkin. Saya berharap bahwa di antara yang saya temui akan bisa menjadi teman yang bisa meningkatkan kualitas saya. Saya bertemu dengan banyak bangsa, di antaranya Palestina, Iran, Suriah, Mesir, Irak, India, Pakistan, Banglades, Inggris. Mungkin sebagian pertemuan itu akan saya ceritakan di sini.

Kali ini saya bertemu dengan ulama Iran. Saya sebenarnya tidak sengaja bertemu dengannya. Saya menyapa salah seorang di antara kerumunan mereka. Saya mengatakan permisi bahwa saya ada di sekitar mereka. Ternyata salah seorang dari mereka mendekati saya. Lalu saya pun menyapanya. Mungkin dia ulama Iran. Mungkin juga mazhabnya Syiah. Biasanya ulama Syiah mengenakan jubah sufi khas para mullah. Namun ulama ini tidak mengenakan pakaian itu. Ia memakai kemeja biasa saja.

Saya memang mengetahui tentang konfrontasi AS dengan Iran. Bertahun-tahun AS mengembargo Iran gara-gara AS hendak melarang program listrik nuklir Iran. Iran mengadapi ketidakadilan itu dan melawannya bertahun-tahun. Sampai berulang kali berganti presiden. Presiden, ulama, dan rakyat Iran kompak melawan AS.

Terakhir, Iran diancam Trump akan diperangi seperti Suriah, Libya, Irak, dan negara-negara lain. Ancaman itu juga berupa hinaan di depan publik kepada Presiden Hasan Rouhani. Sekembali Rouhani dari pertemuan dengan Trump, Jenderan Qosim Sulaimani berpidato dan menerima ancaman dan tantangan perang Trump. The Shadow General ini mengancam akan menghancurkan fasilitas AS di seluruh dunia, termasuk mengacaukan kiriman minyak di Selat Hormus.

Saya sebenarnya tidak banyak paham bahasa Persia. Namun ia menjelaskan sesuatu tentang agama, kebaikan, keimanan, maslahat bagi seluruh umat yang bersumber dari Nabi saw.

Menurut saya, tak ada salahnya berteman dengan orang Syiah dan orang Iran. Sahabat akan mau berkorban demi menjaga persahabatannya. Sahabat juga rela menolong temannya yang terancam orang jahat. Indonesia mungkin menolong Iran dan sebaliknya Iran oun mungkin menolong Indonesia.

Hari-Hari Ziarah Haji (21)

Wukuf di Arafah

Wukuf di Arafah berarti diam di Arafah. Padang Arafah sekarang sudah banyak tenda dan pohon. Sebagian batang pohon itu masih kecil seukuran ibu jari kaki, atau 3/4 pergelangan manusia. Sebagian lagi sudah besar, batangnya sebesar paha manusia sehingga cukup rindang untuk menyejukkan suasana Arafah. Konon pohon yang ditanam di Arafah adalah Pohon Imba dari Nusa Tenggara Barat atau Pohon Soekarno (?). Ada lagi pohon yang berbuah coklat sebesar seperempat kelereng yang disebut Pohon Suharto (?). Saya tidak memetik buahnya karena akan terkena dam (hukuman) memotong seekor domba. Tanahnya pun bukan lagi pasir, melainkan tanah yang diimpor dari Indonesia (?) sehingga bisa ditanami.

Saya melihat ada seseorang menabur tanah tepat di bawah pohon di Padang Arafah. Tanah itu dibawanya dari Indonesia. Katanya, tanah itu untuk menolong pohon Soekarno agar bisa tumbuh di sini. Menurut seorang teman, salah satu pelanggaran berat lalu lintas adalah menabrak pohon. Hukumannya berat. Jauh lebih berat daripada menabrak trotoar, tiang listrik, atau fasilitas publik lainnya. Katanya, hukumannya bisa lima tahun penjara. Orang itu juga mengaku menabur tanah Indonesia di taman kota Mekah yang berpohon.

Memang negeri Mekah adalah negeri batu. Gunung yang ada di sekitar Mekah adalah gunung batu. Di setiap penjuru warga melihat gunung batu. Itu bukan gunung tanah seperti di Indonesia. Gunung tanah biasanya menyimpan air. Lalu pohon pun bisa bertahan hidup meski tidak disirami dalam waktu beberapa bulan. Gunung batu di Mekah benar-benar tidak ada tumbuhan atau pohon di atasnya. Namun dugaan saya, kian hari Mekah kian hijau dengan pepohonan dan tumbuhan.

Menurut pembimbing, ibadah haji itu dari batu ke batu. Kabah adalah batu. Hijir Ismail adalah batu. Makom Ibrahim adalah batu. Bukit Safa dan Marwah juga batu. Padang Arafah juga batu. Jumrah juga melempar batu dengan batu. Namun kini Arafah lebih asri dengan pohon dan taman. Seorang teman sangat terkesan dengan taman yang sudah asri dan hijau. Rumputnya hijau, batang pohonnya sudah besar, nyaman untuk duduk karena sudah disediakan tempat duduk di sana.

Kami tiba di Arafah pada tanggal 8 Dzulhijah bada duhur. Tenda sangat panas. Katanya Arafah sudah dikapling-kapling. Bahkan sebagian kaplingnya ada yang asri dengan taman dan kursi plastik putih. Bila pepohonannya besar dan rindang, tempat itu nyaman diduduki siang atau sore hari. Namun bila pohon-pohon di sekitarnya masih kecil, tempat itu nyaman diduduki malam hari, misalnya selepas tahajud. Pekerjaan selingan untuk wukuf di Arafah adalah menyiram pohon. Di Arafah sudah ada pipa, keran, dan selang. Kami cuma merebut pekerjaan para petugas dalam menyiram pohon.

Pekerjaan utama di Arafah adalah beribadah, zikir, tafakur, berdoa, baca Quran, baca doa Arafah. Pekerjaan lain juga harus diniatkan ibadah seperti makan, bahkan buang air, dan bersuci.

Pekerjaan lain di Arafah adalah mengeksplorasi kawasan. Saya juga mengeksplorasi kawasan Arafah ini dari kemungkinan bertemu dengan bangsa-bangsa lain. Jemaah Indonesia ada sekitar 220 ribu orang dan saya tidak melihat bangsa lain. Hanya bus jemaah negara lain yang saya lihat. Kebetulan jemaah Iran barusan lewat. Namun tendanya entah di mana. Ada banyak pekerja negro di sini yang bekerja siang malam: mengatur keairan, listrik, tenda, kipas tenda, sampah, penyediaan es batu untuk mendinginkan jemaah, masak masakan katering Indonesia, dan sebagainya. Ada dapur umum di sini. Selain itu ada pula pekerja dari etnis Arab. Kelihatan juga ada bos pengelola kapling Arafah melihat-lihat “usaha pelayanan tahunannya”. Ia menyapa kami dengan asalamualaikum. Namun ia tidak menggunakan kain ihram seperti kami. Saya jawab waalaikumsalam, haji. Warga sekitar Mekah menjadi haji saat mereka menjadi remaja. Pemerintah Saudi juga menebar petugas keamanan semacam satpam, asgar, dan petugas lain.

Konon salah satu ujian terberat di Arafah adalah giliran penggunaan WC. Biasanya yang kebelet ingin buang air kecil atau besar yang menjadi masalah antrian. Apalagi ada jemaah yang gedor-gedor pintu meski orang baru buka celana di WC. Saya jadi ingat bagaimana tertibnya antrian WC di Jepang. Orang Jepang juga menghargai orang tua dan orang yang terburu-buru.

Kami tiba waktu bada duhur. Tenda seperti oven yang sangat panas. Orang di dalamnya seperti mandi sauna, berkeringat. Mungkin itu baik untuk membakar lemak tubuh. Kami makan siang dan salat jama duhur dan asar. Setelah itu saya berkeliaran di sekitar Arafah untuk mencari udara dingin sambil mencari bangsa lain untuk disapa. Kadang-kadang saya duduk berteduh di pinggir tenda, di bawah pohon, di dekat pipa yang sedang diperbaiki pekerja negro, pulang pergi ke WC untuk mengguyur kepala. Namun saya tidak melihat bangsa lain di sektor ini. Di Mekah saya mudah bertemu bangsa-bangsa lain.

Menurut kabar, jaringan telepon dan internet juga sulit di sini.

Malam ini turun hujan selama sekitar setengah atau satu jam. Begitu saya keluar, tanah tidak ada yang becek. Biasa saja seperti tak ada hujan sebelumnya. Lalu malam ini juga angin sangat kencang sehingga debu masuk ke tenda dan mengotori rambut dan pakaian kami. Anehnya, tidak ada bau keringat. Malam ini juga terjadi mati lampu di tenda kami dan mungkin sebagian tenda lain. Untung ada lampu emergensi sehingga keadaan tidak gelap gulita. Lampu gang atau lampu jalan pun masih menyala sehingga malam serasa di kota. Kami bermalam di sini pada untuk hari Arafah tanggal 9 Dzulhijah besok.

Esok hari adalah hari Arafah. Akan ada khutbah Arafah pada waktu duhur. Setelah itu kami akan dinaikkan ke bus bergiliran untuk menuju Muzdalifah dan Mina. Kami berangkat bergiliran untuk mencegah lalu lintas menjadi macet. Jutaan jemaah bergerak dari Mekah menuju Arafah, lalu Muzdalifah, lalu Mina.

Saat jumrah adalah saat yang kerap terjadi insiden. Jemaah Iran sekaligus jadi korban pada insiden pada tahun itu. Jemaah Iran menuntut pemerintah Saudi menyerahkan penyelenggaraan haji pada masyarakat internasional. Jemaah Iran pun menuntut agar CCTV dipublikasikan agar para haji tahu penyebab insiden haji tersebut. Menurut Iran, Saudi menyebar isu bahwa jemaah Iran tidak tertib yang menyebabkan jatuhnya korban jemaah haji. Iran menduga keras adanya keterlibatan pihak Saudi yang membuat jemaah hajinya syahid demi kepentingan AS dan Zionis. Mayat para korban jemaah haji Iran disambut denga duka cita upacara kenegaraan yang dipimpin langsung oleh Sayid Ali Khamenei. Silakan cek beritanya di sini.

Hari-Hari Ziarah Haji (20)

Sanitasi di Armeina, Musolifa, Mizuno

*Cerita fiktif ini didasari keyakinan bahwa walau dikemukakan fakta sulitnya Armeina, Musolifa, Mizuno, jihad, perang, … umat tidak akan kurang niatnya untuk beribadah dan menempuh keridoan Allah swt. Yang penting adalah kesiapan dalam beribadah. Terutama kesiapan mental dalam menghadapi kesulitannya, ujiannya, atau kesabarannya. Bagi pemerintah (Indonesia dan pemerintah kota setempat) mestinya tulisan ini menjadi patokan untuk menambah fasilitas kemudahan bagi jemaah.

Di Mizuno saya mengeluh demam. Keluhan ini mungkin hanya saya sendiri karena saya yang agak demam pasca nafar awal (melempar setan). Padahal akan ada tiga hari nafar setelah hari ini. Mestinya demam ini karena saya kurang minum. Saya kurang minum karena khawatir buang air kecil. Ngantri untuk ke kamar kecil terutama di Mizuno luar biasa padatnya. Antrian WC di Armeina dan Musolifa justru tidak terlalu panjang.

Menurut petugas, penyebab antian yang luar biasa itu adalah WC maktab kami dipakai oleh dua maktab sekaligus sehingga kepadatannya luar biasa tinggi. WC maktab 54 digunakan pula oleh warga maktab tetangga. Ketua kelompok memutuskan untuk mempercepat kepulangan dari kemah Mizuno ke hotel mengingat resiko jemaah jatuh sakit yang tinggi jika bertahan di Mizuno. Resiko sakit bisa terjadi karena warga kesulitan buang air besar dan buang air kecil.

Karena sakit, saya pun tidak mengeksplorasi wilayah Mizuno ini dan WC lainnya. Namun saat saya agak sembuh, saya mengeksplorasi kawasan sekitar yang dibatasi jalan raya. Ternyata penggunaan semua WC kawasan ini harus mengantri. Saya tidak sempat menyeberang ke kemah seberang jalan untuk melihat keadaan sanitasinya. Namun kawasan kami yang kurang lebih sekian ratus meter persegi semuanya padat dan harus mengantri untuk ke WC. Anehnya, di seberang jalan ada jemaah yang menjemur pakaian di pagar. Sempat-sempatnya mereka mencuci baju, padahal WC maktab ngantri. Mungkin mereka punya semacam keran taman yang digunakan untuk mencuci baju.

Pada kepadatan tertinggi, untuk buang air kecil antrian bisa sampai lima orang. Itu juga hanya lima karena sudah mentok ke dinding keran wudu. Antrian terpadat untuk mandi dan buang air besar adalah sampai sepuluh orang. Itu juga jalanan digunakan untuk mengantri dan antrian mentok dari pintu WC sampai dinding tenda. WC lelaki digunakan pula oleh perempuan yang notabene perempuan cenderung lama di kamar mandi karena harus merapikan jilbab. Tak mungkin perempuan yang mandi keluar WC tanpa merapikan jilbab.

Mungkin sebagian warga terganggu kebiasaan mandinya sejak pergi ke Mizuno. Itu disebabkan WC di Armeina, Musolifa, Mizuno adalah WC umum, bukan WC kamar hotel. Namun WC di Mizuno saat itu jauh lebih buruk daripada di Armeina. Rasio WC dengan warga juga terlalu besar. Rasio WC di Mizuno jauh lebih buruk daripada di Armeina. Biasanya jemaah menganggap kesulitan ini sebagai ujian. Tentu saja jika warga menyadarinya sebagai ujian, mereka harus lulus dari ujian itu dengan baik. Ujian kesabaran ada di mana-mana. Manusia hanya harus terbiasa dengan keadaan itu dan berusaha mencapai perubahan yang lebih baik.

Karena warga kesulitan buang air dan mandi, potensi sakit jadi meningkat seperti yang saya alami. Pola hidup di hotel berbeda dengan di kemah Armeina, Musolifa, Mizuno. Di Armeina dua hari, di Musolifah semalam, di Mizuno satu atau dua malam. Entah berapa orang dari warga jemaah kami yang tidak mandi beberapa hari. Namun hal ini tidak mengurangi keinginan warga untuk beribadah ke luar negeri untuk ke dua atau ke sekian kalinya.

Ada warga yang ingin afdal dengan wudu di keran air. Sementara warga lain memilih wudu dengan air botol mineral. Ada pula yang memilih wudu hanafiah, syiah, dan tayamum. Botol air mineral pun berserakan di WC buang air kecil lelaki karena ada kalanya pipa rusak dan tidak bisa digunakan. Warga bersuci dari hadas kecil dengan air botol mineral. Saya jadi teringat ringannya wudu untuk mazhab syiah karena cukup mengusap kepala dan kaki. Yang wajib dibasuh hanya muka dan tangan masing-masing dua kali. Sebagian warga mungkin tetap ingin berwudu di WC umum. Untuk berwudu di Mizuno, saya tak pernah lagi pergi ke WC. Saya langsung wudu dengan air botol mineral.

Ada warga yang menyarankan buang air kecil di kantong plastik atau di botol air mineral. Itu sangat merepotkan. Di mana seseorang bisa pipis ke dalam botol? Di jalan atau di tenda? Bagaimana perempuan bisa pipis di kantong plastik? Alhamdulillah, saya tidak melakukannya. Ketika antrian padat, saya pulang dulu ke tenda dan berharap antrian agak sepi. Saya beberapa kali melakukan itu.

Mestinya pelayanan WC di Mizuno ditambah dengan beberapa mobil WC di sepanjang jalan. Pemerintah bisa menambah enam atau tujuh mobil WC di jalan. Tentu penambahan ini akan sangat membantu jemaah. Lalu resiko sakit juga bisa ditekan. Bila pemerintah daerah tidak bisa menyediakan mobil WC, pemerintah pusat di Indonesia mestinya bisa menyediakan mobil WC itu.

Saya sebenarnya sudah agak baikan untuk nafar ula, wusto, akobah. Saya sudah merasa agak sehat. Namun warga melarang saya memaksakan diri untuk mencegah jatuh sakit yang lebih parah. Saya pun beristirahat dan mewakilkan (badal) nafar kepada warga lain.

Memang tanpa Armeina, Musolifa, Mizuno tidaklah sah jemaah beribadah. Di Armeina ada pepohonan dan taman meski tenda hanya dilengkapi kipas. Di Mizuno, tidak ada pepohonan. WC di Mizuno buruk meski tenda dilengkapi AC.

Kemah di Mizuno jauh lebih baik daripada di Armeina. Kemah di Mizuno mempunyai instalasi pendingin AC sehingga nyaman untuk siang hari yang panas. Instalasi AC membuat kemah Mizuno cenderung permanen. Jemaah menjadi nyaman sekalipun tidur di lantai. Kemah di Armeina cenderung bukan permanen. Pendingin di Armeina hanya kipas besar dengan semburan percikan air. Jemaah yang dekat tentu kena cipratan air namun jemaah yang jauh dari kipas tidak merasa dingin. Mereka tetap merasa semacam di dalam oven. Suhu di bawah pohon besar acap lebih nyaman daripada di tenda Armeina. Jadi kemah Mizuno jauh lebih baik daripada kemah di Armeina.

Namun WC di Mizuno jauh lebih buruk daripada WC di Armeina. Mungkin itu karena rasio WC dengan warga terlalu besar. Akibatnya, jemaah harus mengantri untuk masuk WC. Antiran hampir sepanjang hari dan malam. Antrian terpendek adalah jam tidur yaitu bada isya pukul 20.30. Dua jam setelah isya diperkirakan WC mulai sepi. Namun tetap saja ada antrian.

Menurut teman, Armeina, Musolifa, Mizuno hanya digunakan pada musim ibadah tahunan mulai 7 sampai 15 di bulan itu. Sisanya, sepanjang tahun kawasan itu sepi dan tidak dihuni manusia. Meski demikian, kepadatan saat musim ibadah tahunan di tempat itu sangatlah tinggi. Jutaan jemaah dari seluruh dunia tumplek di Armeina, Musolifa, Mizuno. Kepadatan seperti itu mesti diimbangi dengan banyaknya WC. Kalau perlu pemerintah menyediakan mobil WC. Bila pemerintah daerah tidak melakukan, pemerintah pusat Indonesia harus menyediakan mobil WC tersebut.

Di tenda ada kakek-kakek yang ingin pulang. Miungkin dia pikun atau gejala serangan panas (heat stroke). Seharusnya ia disuruh minum dam disemprot air mukanya. Ternyata ketika dia diajak ngobrol, bercanda, diajak berjual beli, ditawari asesoris jam dan belanjaan lainnya, dia bisa tertawa-tawa. Ia harus dimanusiakan dan diperlakukan sewajarnya. Keluarganya pun ada yang mendampingi sehingga orang tua itu mendapatkan kasih sayang, perawatan, dan pengawasan yang cukup.

Menuliskan paragraf di bawah ini adalah dilema bagi saya. Di satu sisi saya ingin menutupi keburukan manusia, di sisi lain saya harus memperbaiki perilaku buruk manusia yang sama sekali tidak Islami. Jepang jauh lebih bersih meski bukan orang Islam. Bali mungkin lebih bersih meski bukan komunitas Islam. Jepang juga sangat baik dalam sanitasi. Bagaimana mungkin khilafah imam zaman bisa terwujud bila perilaku jemaah saat beribadah buruk.

Di Mizuno perilaku buruk orang Indonesia terlihat. Ini berarti saya tidak pernah melihat tenda negara lain dan saya tidak melihat perilakunya. Saya melihat ada orang sikat gigi di atas tempat sampah, sikat gigi di jalanan, kencing di sudut tenda orang lain di dekat WC, meludah di sudut dalam tenda, meludah di depan pintu tenda, membuang botol siraman kencing di WC tempat kencing sehingga ratusan botol kosong tertimbun di sana, menjemur pakaian di pagar. Memang aneh juga ada yang sempat mencuci pakaian. Dugaan saya, maktab itu tidak terlalu mengantri atau ada keran pancuran khusus untuk mencuci baju.

Konon kemah Mizuno adalah tempat dekat kerajaan setan yang dilempar jumrah itu. Oleh karena itu wajar saja jika kebersihan warga parah. Warga sangat jorok dan tidak Islami sama sekali.

Namun di sela buruknya kebiasaan jemaah, ada pula perilaku baiknya. Ketika sedang mengantri, muncul seseorang dengan kursi roda. Ia memelas setengah memerintah untuk meminta didahulukan. Ia mengisyaratkan bahwa “kerannya sudah dol.” Warga berkata bahwa pintu manapun yang terbuka boleh ia masuki. Dia masuk begitu salah satu dari pintu WC itu terbuka. Jemaah memang cukup baik untuk masalah ini. Namun, konon warga Jepang jauh lebih baik.

Seorang teman tafakur, rasanya di Mizuno itu seperti ayam negeri di dalam kandang. Pemilik ayam memberi makan, ayam berkotek berebut makan. Lalu ayam tumbuh dan menunggu ditawar bandar dan siap dipotong. Oleh karena itu pemilik ayam tafakur bahwa jamaah Mizuno itu seperti ayam negeri di dalam kandangnya. Ternak ayamnya ditawar murah oleh bandar, lalu pemilik ternak ayam berkata bahwa dia kurang modal untuk pakan ayam.