Drama Anak-anak PENDETA BUHAIRA

PENDETA BUHAIRA

Drama Iswara

Tokoh

Pendeta Buhaira

Abu Thalib

Muhammad (wajahnya tertutup kain)

Pedagang Pekerja Kabilah Abu Thalib

SINOPSIS

Muhammad adalah seseorang yang dipelihara oleh Abu Thalib. Ayah Muhammad meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan. Ibu Muhammad pun meninggal ketika Muhammad berumur empat tahun. Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib hingga umur sembilan tahun. Setelah kakeknya meninggal, Muhammad diasuh oleh Abu Thalib. Abu Thalib sangat mencintai Muhammad melebihi cintanya kepada anak-anaknya. Suatu hari Abu Thalib mengajak Muhammad untuk berdagang ke negeri Syam (Syiria). Karena cintanya kepada Muhammad, Abu Thalib hendak mengajak Muhammad untuk berdagang ke negeri syam. Muhammad setuju pada ajakan pamannya itu. Berangkatlah mereka menuju negeri Syam. Di tengah perjalanan mereka sampai ke sebuah tempat. Di tempat itu terdapat seorang pendeta yang bernama Pendeta Buhaira.

BABAK I

ADEGAN ABU THALIB MENYONGSONG TAHUN KEPERGIAN KE NEGERI SYAM UNTUK BERDAGANG. ABU THALIB HENDAK MENGAJAK MUHAMMAD.

ABU THALIB: Tahun ini kita akan berangkat ke Syam untuk berdagang. Tahun ini adalah tahun yang baik untuk kita pergi berdagang ke negeri Syam. Wahai, betapa bahagianya aku menyongsong tahun ini. Tahun ini pula, putraku, Muhammad telah beranjak remaja. Kesempurnaannya sebagai manusia makin nyata. Kepandaiannya begitu sempurna. Akhlaknya tak ada yang menyamainya. Rupanya begitu tampan. Aku ingin mengajak putraku ini pergi ke negeri Syam.

SEORANG KHADAM MASUK.

KHADAM: Assalamualaikum.

ABU THALIB: Waalaikum salam. Khadam, tolong panggilkan putraku Muhammad.

KHADAM: Baik, Tuan.

MUHAMMAD MUNCUL.

MUHAMMAD: Assalamualaikum, Paman.

ABU THALIB: Waalaikum salam, putraku Muhammad.

Putraku, saat ini adalah dimulainya masa berdagang di tahun ini. Tahun ini aku akan berdagang ke negeri syam. Aku tak akan berdagang tanpa restu darimu, Putraku. Setelah engkau tinggal bersamaku, setelah kakekmu Abdul Muthalib wafat, aku tak mampu pergi jauh darimu, putraku. Karena itu, putraku, katakanlah kepadaku, baikkah bila aku pergi berdagang ke negeri Syam tahun ini?

MUHAMMAD: Paman, mengapa engkau meminta pertimbanganku? Bukankah segala yang ada padaku seluruhnya ada di tanganmu? Paman, seluruh jiwa dan hidup Muhammad ada di tanganmu. Engkaulah pelindung dan pemelihara Muhammad setelah ayahmu, yaitu kakekku, Abdul Muthalib wafat. Engkau adalah ayah bagiku seperti Abdul Muthalib laksana ayah bagiku. Karena itu, aku tak pantas memberi pertimbangan kepadamu, Paman.

ABU THALIB: Janganlah berkata begitu, putraku. Hatimu yang lembut itu tentu mengetahui siapa diriku dan siapa dirimu. Engkau mengetahui bahwa aku adalah pemimpin umat ini setelah kakekmu, Abdul Muthalib, wafat. Namun aku adalah pecahan cahaya kakekmu agar aku dapat memeliharamu. Aku ditunjuk oleh Allah swt untuk memeliharamu sebagaimana kakekmu ditunjuk oleh Allah swt untuk memeliharamu. Dalam pandangan kami, engkau mempunyai kedudukan yang lebih mulia daripada kami untuk meluruskan dan melanjutkan risalah Ibrahim, yaitu agama Islam, agama yang diridai oleh Allah swt. Engkau akan menjadi salah satu ulil azmi yang dimuliakan Allah swt seperti nabi Ibrahim dan Isa as.

MUHAMMAD: (TERSENYUM) Jika engkau meminta pertimbangan kepadaku ihwal kepergianmu ke Syam, aku akan mengatakan bahwa kepergian ke negeri Syam adalah baik. Sekalipun engkau nanti akan mengurungkannya, kepergianmu ke negeri Syam adalah baik.

ABU THALIB: Aku bersyukur atas jawabanmu itu, putraku. Namun, engkau tentu tahu, tak mungkin aku pergi sementara aku harus meninggalkanmu jauh dari pengawasanku. Karena itu, bersediakah kau menemaniku, pergi berdagang ke negeri Syam.

MUHAMMAD: Aku merasa terhormat bila Paman mengajakku pergi berdagang ke negeri Syam. Aku akan belajar berdagang ke negeri Syam bila Paman mengajakku.

ABU THALIB: Jangan katakan kau akan belajar denganku, putraku Muhammad. Engkau adalah putraku yang tak lagi perlu aku ajari. Engkau adalah putraku yang tak lagi perlu belajar segala bahasa dan tata krama. Engkau adalah putraku yang paling pandai menggembala dan bercocok tanam. Engkau adalah putraku yang paling pandai membaca dan menulis. Karena itu engkau adalah putraku yang ummi yaitu weruh sadurung winarah. Engkau mengerti segalanya tanpa harus diajari. Engkau ummi seperti para nabi ummi lainnya. Engkau mengerti tanpa harus diajari.

MUHAMMAD: Paman, engkau jauh mengetahui aku daripada sahabat-sahabatmu mengetahui aku. Engkau seperti kakekku Abdul Muthalib yang lebih mengetahui aku daripada sahabat-sahabatnya mengetahui aku. Paman, engkau pun jauh mengetahui siapa sebenarnya dirimu daripada sahabat-sahabatmu. Hal itu seperti kakekku Abdul Muthalib yang lebih mengetahui dirinya daripada sahabat-sahabatnya.

ABU THALIB: Putraku, cintaku, bersiap-siaplah. Dalam beberapa hari ini kita akan pergi ke negeri Syam.

BABAK II

ADEGAN ABU THALIB MENYIAPKAN BARANG DAGANGAN DALAM KAFILAH. KAFILAH ABU THALIB BERANGKAT. BERIRINGAN. UNTA MENGANGKUT BARANG-BARANG DAGANGAN.

ADEGAN PENDETA BUHAIRA MENUDUNGI MATANYA DARI SILAU, MELIHAT KABILAH ABU THALIB YANG BERJALAN DI TENGAH TERIKNYA PADANG SAHARA.

PB: Aku melihat sebuah kabilah yang berjalan di tengah teriknya padang Sahara. Debu yang mengepul menunjukkan banyaknya jumlah orang yang ada dalam kabilah itu. Anehnya, kabilah ini selalu dinaungi awan.

PENDETA BUHAIRA EXIT.

ADEGAN KABILAH ABU THALIB SAMPAI DI TEMPAT TINGGAL PENDETA BUHAIRA.

PENDETA BUHAIRA MEMANGGIL SALAH SEORANG DARI KAFILAH ABU THALIB.

PB: (MELAMBAI) Ke marilah. (SESEORANG DI KAFILAH MENDEKAT KEPADA PB)

ORANG: Ada apa, Tuan?

PB: Kalian dari mana?

ORANG: Kami dari Mekah, Tuan.

PB: Siapa pemimpin kalian?

ORANG: Pemimpin kabilah kami adalah Abu Thalib, Tuan.

PB: Coba panggil ke mari.

ORANG TADI BERLALU. ABU THALIB DATANG BERSAMA MUHAMMAD. PB MEMPERHATIKAN MUHAMMAD DAN MERASA SENANG KEPADANYA.

PB: Salam bagimu, Abu Thalib, saudagar Mekah.

ABU THALIB: Salam juga bagimu, Tuan.

PB: Perkenalkan diriku. Namaku Buhaira. Aku adalah seorang pendeta di tempat ini. Orang-orang memanggilku Pendeta Buhaira. Aku ingin bertanya kepadamu ihwal beberapa hal.

AT: Perkenalkan diriku. Namaku Abu Thalib. Aku adalah putra Abdul Muthalib, penjaga Kabah. Aku melanjutkan tugas ayahku sebagai penjaga Kabah. Aku adalah seorang musafir yang akan berdagang ke negeri Syam. Mudah-mudahan Allah swt dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda.

PB: Aku ingin bertanya kepadamu ihwal beberapa hal. Tetapi begitu saya melihat anak ini (MENUNJUK MUHAMMAD), aku jadi ingin tahu tentang anak ini. Tuan Abu Thalib, siapakah anak ini?

ABU THALIB: (MEMANDANG KEPADA MUHAMMAD DENGAN RASA CINTA DAN BANGGA) Dia adalah putraku, Tuan. Aku bangga mempunyai putra seperti dia. Dia adalah putraku yang paling aku cintai.

PB: (TERLIHAT KECEWA) Tidak mungkin. Tidak mungkin anak ini putramu. Anak ini pasti anak orang lain.

AT: (AKHIRNYA MENGAKUI) Memang benar, Tuan. Dia sebenarnya bukan putraku. Dia adalah putra saudaraku, Abdullah yang meninggal saat ia masih dalam kandungan. Ibunya pun, yaitu Aminah, meninggal ketika ia berumur empat tahun. Setelah ibunya meninggal ia dalam asuhan ayahku, kakek anak ini, yaitu Abdul Muthalib. Setelah ayahku, Abdul Muthalib, wafat; aku mendapatkan kehormatan untuk melindungi dan membesarkannya. Aku mencintai dia melebihi cintaku kepada putra-putraku sendiri.

PB: Aku mengetahui bahwa Abdul Muthalib merupakan penjaga Kabah. Dia juga penjaga agama Ibrahim yang lurus. Berbahagialah engkau karena engkau membesarkan anak ini. Pada saat ini aku wasiatkan kepadamu agar menjaga anak ini. Ikutilah segala yang diinginkan atau diperintahkan olehnya karena segala perintahnya menuju pada kebaikan. Aku bersaksi akan kebenaran putramu ini. Sesungguhnya aku adalah salah seorang yang mengikuti dia.

AT: Aku akan mengingat wasiatmu itu, Tuan. Tidak mungkin aku menolak keinginan atau perintah anak ini karena anak ini adalah petunjuk bagi manusia untuk mencapai Tuhannya. Aku pernah mendengar ayahku, Abdul Muthalib berkata bahwa anak ini kelak akan menjadi seorang nabi. Anak ini merupakan buah cintaku. Kakek anak ini telah mengetahui jauh sebelum anak ini lahir. Anak ini bagiku adalah segala-galanya di dunia dan akhirat. Aku akan menjadi pembelanya dan aku akan mengikutinya. Tak mungkin aku ingkar kepadanya. Mudah-mudahan putra-putraku pun kelak akan menjadi pengikutnya yang setia.

PB: Sesungguhnya aku sejak melihat kabilah kalian dari jauh, aku melihat sejumlah keanehan yaitu kabilah kalian selalu dinaungi oleh awan. Aku mengetahui dari kitab-kitabku yang terdahulu bahwa nabi akhir zaman akan dinaungi oleh awan. Para nabi merupakan makhluk yang dicintai oleh Allah swt sehingga segala yang diperintahkannya pasti tidak akan dikabulkan oleh Allah swt. Segala perintah para nabi pasti tidak bertentangan dengan perintah Allah swt. Lebih lanjut , para nabi kekasih Allah itu mampu memahami segala bahasa alam, dari kalangan, jin, manusia, tumbuhan bahkan benda-benda mati seperti awan.

AT: Demikianlah, Tuan. Selama perjalanan kami dengan anak ini kami selalu dihinggapi oleh sejumlah keajaiban. Sejujurnya, selama aku memelihara anak ini, aku tak pernah mendapatkan kesenangan dari Allah swt, keridaan Allah swt seperti yang aku dapatkan selama bersama anak ini. Aku tak pernah mendapatkan kesulitan selama aku bertugas sebagai pemeliharannya. Oleh karena itu aku tidak akan melepaskan anak ini dengan mengkhianatinya atau membuatnya berduka.

PB: Aku akan ceritakan lagi lebih lanjut, Tuan, bahwa nabi besar di akhir zaman telah ada tanda-tandanya dalam kitab-kitab kami. Di antara tanda-tandanya adalah ayahnya hamba tuhan, dan ibunya bernama damai.

AT: Ayah anak ini adalah Abdullah. Kata Abdullah, dalam bahasa kami, berarti hamba tuhan. Ibu anak ini bernama Aminah. Kata Aminah, dalam bahasa kami, berarti damai.

PB: Dia pun akan lahir dalam keadaan yatim seperti yang telah Tuan sampaikan tadi.

AT: Benar, Tuan.

PB: Dia pun akan mendapatkan perawatan dan pemeliharaan dari kakek dan pamannya.

AT: Kakeknya, Abu Thalib telah merawatnya. Kini aku, pamannya pun tengah merawatnya.

PB: Dia pun seorang dari kalangan pedangang yang pandai berkuda dan bermain pedang.

AT: Mudah-mudahan aku menjadi pedagang yang dirahmati Allah swt.

PB: Semoga kesejahteraan meliputimu, Tuan, bersama pemeliharaan Tuan terhadap anak ini.

AT: Insya Allah. Semoga Tuhan meridai.

PB: aku memiliki wasiat terakhir yang mesti engkau perhatikan, Tuan.

AT: Aku bersedia mendengarkan wasiatmu, Tuan.

PB: Aku berwasiat kepadamu agar menjaga anak ini dari musuh-musuh Allah. Akan ada orang-orang yang hendak memushi anak ini karena tidak mau mengikuti ketetapan Allah swt. Mereka ingkar karena kesombongan mereka. Karena itu, Tuan, aku berwasiat kepadamu agar menjaga anak ini dari pembuhunan yang akan dilakukan oleh musuh-musuhnya yaitu musuh-musuh Allah swt.

AT: Aku telah mendengarkan wasiatmu, Tuan. Aku berjanji di hadapan Allah swt, aku akan menjaga anak ini dari musuh-musuhnya, dari golongan jin maupun manusia.

PB: Aku telah terpuaskan berjumpa kalian dan berjumpa anak yang mulia ini. Aku beriman kepada sebagaimana kalian kepada anak ini. Kemudian, sudilah kiranya Tuan bermalam di tempatku yang buruk ini sebelum melanjutkan perjalanan Tuan ke negeri Syam.

AT: Aku merasa terhormat sekali dapat bertemu Tuan. Terima kasih atas segala kebaikan Tuan. Semoga Allah swt membalas segala kebaikan Tuan.

BABAK III

ADEGAN ABU THALIB MERENUNG DI MALAM HARI.

ABU THALIB: (SOLILOKUI) Putraku Muhammad ternyata telah mendapatkan pengikut dari orang-orang yang kuat dan berpengetahuan sebelum dia diangkat menjadi nabi dan rasul. Putraku Muhammad ternyata telah mendapatkan pengikut dari orang-orang yang berpengetahuan setelah aku dan ayahku meyakini akan jadinya anakku ini sebagai nabi.

Betapa aku merasa cemas kini karena Pendeta Buhaira mewasiatkan kepadaku agar aku menjaga putraku, Muhammad, dari ancaman pembunuh-pembunuhnya. Tentu aku akan menjaga  putraku, Muhammad, dari ancaman pembunuhan. Demi nyawaku dan demi nyawa ayah ibuku, aku akan menjaga  putraku, Muhammad, dari ancaman pembunuhan.

TANPA DIKETAHUI ABU THALIB, MUHAMMAD MENDEKATI ABU THALIB. MUHAMMAD REMAJA WAJAHNYA TERTUTUP KAIN.

MUHAMMAD: Paman, pelindungku yang kusayangi, sedang apakah, Paman? Adakah yang Paman risaukan?

AT: (PERLAHAN BERBALIK DAN MENYONGSONG SUARA YANG DIKENAL DAN DICINTAINYA) Putraku, Muhammad, engkau mengetahui ada sesuatu yang aku risaukan. Kemarilah, Putraku. (MUHAMMAD MENDEKAT) Hari ini kita telah bertemu dengan Pendeta Buhaira. Beliau telah menunjukkan sesuatu yang telah engkau ketahui dan telah engkau emban dalam kehidupanmu. Beliau mewasiatkan agar aku menjaga engkau dari ancaman-ancaman manusia yang hendak mencelakakan engkau.

M: Aku mengetahui berita itu. Pendeta Buhaira telah menyampaikannya kepadamu, Paman.

AT: Demikianlah, Putraku. Aku kini tengah mempertimbangkan pesan dan wasiatnya itu. Kini aku akan bertanya dan meminta pertimbangan kepadamu, Putraku. Aku mempertimbangkan agar aku tidak melanjutkan pergi ke negeri Syam tahun ini untuk berdagang. Hal itu disebabkan oleh upaya penjagaan dan pengawasan terhadap keselamatanmu, Putraku. Juga berkenaan dengan ucapan Pendeta Buhaira. Bagaimana pertimbanganmu, Putraku?

M: Aku akan mengikuti kehendakmu, Paman. Lakukanlah sekiranya engkau cenderung terhadapnya. Aku akan mengikutimu bila engkau memutuskan untuk pulang dan tidak jadi pergi berdagang ke negeri Syam.

AT: Putraku yang kukasihi, kita telah memutuskan untuk tidak melanjutkan pergi berdagang ke negeri Syam tahun ini.

BABAK IV

ESOK HARINYA. ADEGAN ABU THALIB BERBICARA KEPADA KABILAHNYA.

AT: Wahai kabilahku, aku memutuskan untuk kembali ke mekah. Kalian adalah kabilahku dan aku telah mengambil keputusan kepada kalian. Aku memutuskan tidak akan melanjutkan berdagang ke negeri Syam tahun ini. Kepergianku kali ini adalah untuk bertemu dengan Pendeta Buhaira dan menyaksikan keimanannya kepada Allah swt dan nabi akhir zaman. Peristiwa itu pun bukanlah peristiwa yang remeh di mata Allah swt.

Maka barangsiapa di antara kalian ada yang hendak melanjutkan berdagang ke negeri syam, cobalah untuk menentukanlah pemimpin di antara kalian yang aku ketahui dan diridai Allah swt. Ketika pemimpin itu telah aku ridai, berangkatlah, dan berhati-hatilah di jalan. Bersiagalah karena kurangnya kesiagaan akan memancing orang-orang jahat, penyamun, maupun para pembunuh untuk merongrong kalian.

KABILAH: Kami akan mengikutimu, Abu Thalib. Bila engkau tidak pergi ke negeri Syam tahun ini, maka kami pun tak akan pergi ke negeri Syam tahun ini.

AT: Semoga Allah meridai kita semua.

TAMAT

27 November 2009