Hari-Hari Ziarah Haji (44)

“Dosa-Dosa” Organisasi Intoleran

Berikut ini adalah “dosa-dosa” organisasi intoleran menurut pengalaman saya. Mudah-mudahan ini tidak menjadi dosa saya atau dosa muslim seluruhnya. Islam seharusnya tidak dikotori dengan macam-macam dosa intoleran itu karena sebenarnya dosa ini dilakukan oleh sebagian kelompok Islam saja. Namun “dosa” sebagian kelompok Islam ini berpotensi merusak Islam seluruhnya. Di antara “dosa” kelompok intoleran itu adalah

1. mengkafirkan muslim yang berbeda pilihan calon gubernur atau calon presiden

2. mengkafirkan muslim yang melakukan ziarah kubur

3. melakukan serangan (fisik atau pendapat) terhadap muslim lain yang berbeda orientasi politik

4. memaksakan bendera hitam dan putih sebagai bendera muslim, negara muslim; tidak mengakui bendera merah putih

5. memaksakan konsep negara khilafah dan mentogutkan NKRI

6. memaksakan konsep asuransi sebagai haram padahal sebagian ulama membolehkan asuransi

7. mengkafirkan mazhab, sekte, kelompok lain yang di luar kelompoknya

8. merasa pendapat kelompoknya selalu benar secara mutlak (maksum) dan menolak secara mutlak pendapat kelompok lain

9. memprovokasi kelompok lain sebagai penghuni neraka dan hanya dia dan kelompoknya yang mengklaim masuk surga

10. mentogutkan simbol-simbol NKRI seperti Presiden SBY, Garuda Pancasila, bendera merah putih, pemerintahan NKRI

11. mentogutkan demokrasi karena merasa bahwa sistem pemilihan yang diakui Islam hanyalah musyawarah (seperti pemilihah Khulafa Rosyidun yang empat)

12. mentogutkan Pancasila, UUD 1945, undang-undang NKRI serta memprovokasi pendapat bahwa pelaksana UUD 1945 sebagai pelaksana togut

13. memprovokasi (berteriak-teriak kepada) muslim lain yang tawasul, tahlil, qunut, muludan, barzanji, salawatan sebagai bidah, sesat

14. mendukung ISIS dan menggalang dukungan (berupa orang atau dana) kepada ISIS

15. memprovokasi muslim yang bertaklid sebagai sesat dan memaksa muslim untuk berijtihad dalam masalah fikih. Ittiba juga bukan membuat fatwa baru

16. “ulama” kelompok intoleran memprovokasi kelompoknya untuk memusuhi mazhab atau kelompok lain

17. memprovokasi muslim yang berbeda fikih untuk mengikuti orientasi fikihnya

18. menyerang muslim yang tidak berpuasa di bulan Ramadan, menyerang warung yang buka di bulan Ramadan; padahal Rasulullah tidak menyerang muslim yang tidak berpuasa di bulan Ramadan seperti itu

19. memaksakan ucapan selamat natal sebagai bidah padahal banyak muslim yang mengucapkannya seperti Anies Baswedan di DKI Jakarta, Prabowo Subianto di saat Capres 2019, Erdogan di Turki, atau Ali Khamenei di Iran

Hari-Hari Ziarah Haji (10)

Berpindah Mazhab dalam Islam.

Syaikh Mahmud Syaltut, seorang mufti (pemberi fatwa) dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir dalam fatwanya membolehkan berpindah mazhab. Beliau juga membolehkan seorang muslim mengikuti mazhab Syiah itsna asyariyah (Syiah 12 imam). Mazhab Syiah diakui oleh Syaikh Mahmud Syaltut. Selain fatwa Syaikh Mahmud Syaltut, mazhab-mazhab juga ada dalam Deklarasi Amman, mazhab Syiah Itsna Asyariah diakui dan boleh diikuti oleh seorang muslim. Seorang muslim pun boleh berpindah dari satu mazhab ke mazhab lainnya yang diakui di dalam Islam.

Dengan begitu seseorang bebas berpindah mazhab sesuai dengan kebenaran yang diyakininya. Mungkin ia tidak boleh berpindah mazhab hanya karena suatu mazhab itu ringan atau mudah. Ia hanya bisa mengikuti suatu mazhab bila mazhab itu benar sesuai keyakinannya.

Di Mekah dan Madinah ini banyak sekali muslim dengan berbagai mazhabnya. Tak ada satu pun atau jarang sekali orang yang mempermasalahkan mazhab lain. Orang juga tidak mempermasalahkan mazhab syiah. Jarang ada orang yang mempermasalahkan irsal, niat, basmalah sir, atau perbedaan fikih lainnya.

Seandainya Wahabi adalah mazhab, maka seorang muslim dapat mengikuti mazhab Wahabi. Bila Syiah adalah sebuah mazhab, maka seeorang muslim dapat nengikuti nazhab Syiah. Seorang muslim dapat berpindah dari mazhab Wahabi ke mazhab Syiah, atau sebaliknya. Kepindahannya itu harus didasarkan pada keyakinan akan kebenaran mazhab yang diikutinya, bukan alasan kemudahan atau keringanan belaka.

Sebagian ulama di Indonesia mengatakan bahwa mazhab Syiah itu di luar Islam, misalnya Athian Ali Dai. Sebagian ulama lainnya mengakui Syiah sebagai mazhab misalnya Quraish Shihab, Said Aqil Shiradj, Gus Dur, Muhammad Natsir. Analogi mereka yang mengatakan Syiah di luar Islam adalah bahwa Syiah tidak mengakui Rukun Iman dan Rukun Islam. Syiah menganggap bahwa Rukun Iman dan Rukun Islam adalah hasil rumusan ulama teologi Asyariyah.

Ada pula yang mengatakan (menuduh) bahwa Syiah punya kitab suci selain Quran. Namun klaim ini tidak bisa dibuktikan oleh penuduh. Quran di Iran sama seperti Quran mushaf Utsmani. Dulu ketika Ali bin Abi Thalib ditanya tentang mushaf Utsman, Ali mengatakan cukup.

Anehnya Syiah Itsna Asariyah tidak menganggap mazhab-mazhab Sunni (Syafii, Maliki, Hambali, Hanafi) sebagai di luar Islam. Para imam Sunni (Syafii, Malik, Hambal, Abu Hanifah) merupakan murid langsung atau tidak langsung dari imam Syiah (Imam Jafar Shodiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain Asyahid bin Ali bin Abi Thalib). Sekalipun Syiah meyakini 12 imam, namun muslim yang tidak mengetahui atau tidak meyakini 12 imam tetap dianggap muslim oleh Syiah Itsna Asyariah. Hal ini terbukti di Mekah dan Madinah, Sunni Syii berbaur tanpa saling mempertanyakan akidah (usuludin) atau fikih (furuudin).

Saya melihat bahwa orang Syiah semacam terancam baik oleh mazhab Wahabi maupun oleh mazhab Sunni lainnya. Hal itu terlihat ketika jemaah haji Iran menjadi korban insiden di terowongan Mina. Pihak Saudi mengatakan bahwa jemaah Iran tidak disiplin dan menyebabkan terjadinya insiden. Iran pun diancam tidak diberi kuota haji. Iran marah dengan mengatakan pemerintahan Saudi tidak becus menyelenggarakan ibadah haji yang menyebabkan jatuhnya korban dari jemaah haji Iran. Iran merekomendasikan penelenggaraan ibadah haji dikelola oleh badan internasional. Iran juga menuntut dibuka rekaman CCTV berkaitan dengan tuduhan insiden itu. Pihak Saudi menolak tuntutan Iran. Demikianlah, jemaah Iran merasa terancam dalam ibadah haji. Keamanan jemaah mereka tidak terjamin. Saya melihat kegetiran di wajah mereka.

Perdebatan akidah dan fiqh menyebabkan perbedaan mazhab. Dalam akidah mazhab Sunni ada yang berpendapat bahwa Allah swt mempunyai wajah, mempunyai tangan, duduk di atas arasy, turun dari arasy, tidak boleh memikirkan zat Allah swt. Ada pula yang meyakini keterbatasan Nabi saw dalam kemaksuman seperti keliru dalam penyerbukan kurma, atau lupa dalam salat. Masalah akidah juga diperdebatkan di dalam Islam. Namun selama seseorang mengakui dua kalimat syahadat, seseorang tak boleh dikeluarkan dari Islam.

Seseorang masuk Islam karena dua kalimat syahadat.

Hari-Hari Ziarah Haji (4)

Meminta Tip di Indonesia, Arab, dan Jepang

Mungkin ini yang kerap terjadi saat haji. Jemaah haji Indonesia biasanya “murah hati” dengan memberi sedekah kepada orang di sekitarnya. Saya sering melihat jemaah di kloter kami yang memberi sedekah kepada tukang sapu di jalanan, petugas kebersihan (cleaning service) di hotel, dan sebagainya.

Saya pernah mendengar cerita gilanya sopir bus di Arab yang mengantar jemaah dari Mekah ke Madinah atau sebaliknya. Di tengah perjalanan, di padang pasir yang panas, ia menghentikan busnya, menepi, mematikan mesin, dan tidur di situ juga. Pimpinan jemaah segera bertindak mengumpulkan uang satu realan dari jemaah. Ia lalu membangunkan sopir dan menyuruhnya meneruskan perjalanan. Sopir bus ketika melihat uang disodorkan kepadanya langsung bangun, menerima uang, dan melanjutkan perjalanan.

Cerita lainnya adalah sopir taksi yang mengantar kami ke tempat miqot untuk unrah lalu kembali ke Masjidil Haram. Setelah tawar-menawar, diseoakatilah 50 real. Ketika sampai di Tanim, ternyata diminta 50 real per orang. Semuanya 6 orang totalnya 300 real.

Saya punya pengalaman dengan petugas kebersihan hotel yang bukan kebetulan adalah orang Bangladesh. Ia terang-terangan mengisyaratkan minta uang kepada warga dari setiap kamar yang dibersihkannya. Ia menggunakan bahasa isyarat karena dia tidak menggunakan bahasa Arab, Inggris, atau Indonesia. Anehnya ketika ada kamar yang tidak memberi tip, tidak ada pelayanan kebersihan seperti mengganti sprei atau memvakum lantai kamar. Mungkin ia menduga bahwa jemaah ini dari kampung semua dan tidak bisa komplain kepada manajemen hotel. Padahal kalau ada di antara kami yang komplain ke hotel, mungkin ia bisa dipecat (?) atau mungkin juga hotel tidak akan memberi hukuman yang berarti.

Saya juga punya pengalaman dengan sopir bus yang terang-terangan minta uang lima real dengan alasan untuk makan. Ia meminta dengan wajah memelas. Sangat kontras dengan badannya yang besar, gemuk, dan kumis janggut tipis khas orang Timur Tengah.

Di satu sisi saya bersyukur juga karena wajah saya mungkin masih dipercaya untuk dimintai sedekah. Namun di sisi lain saya prihatin. Sebagian orang yang tidak siap bersedekah mungkin akan malu karena tidak memberi uang tip, sedekah tadi. Pada umumnya orang Arab tidak menganggap jemaah Indonesia bakhil. Justru jemaah Indonesia cenderung dianggap murah hati. Saking murah hatinya jemaah Indonesia sampai dimintai dan tidak dibersihkan kamarnya berhari-hari.

Keadaan yang berbeda adalah keadaan di Jepang. Di Jepang, memberi tip adalah penghinaan. Bila gaji orang Jepang kecil, mereka juga enggan menerima tip (sedekah). Tentu orang Jepang juga menerima hadiah yang berupa penghormatan kepada orang yang diberinya.

Di Jepang orang saling menghormati profesi-profesi. Memang di Jepang juga sisi materialis ada. Filsafat mengatakan bahwa orang punya tentu lebih utama daripada orang tak punya. Tetapi orang Jepang umumnya tidak peduli. Mereka berpakaian rapi, bekerja, dan mendapat uang. Mereka tahu bahwa pendapatan orang berbeda-beda. Namun mereka tidak peduli dan saling menghormati orang lain dengan besar-kecil pendapatannya.

Di Indonesia acap orang kaya melecehkan orang tidak kaya. Orang tak punya acap merendahkan diri. Orang punya acap menyembunyikan kekayaannya tetapi bersuara paling keras. Seseorang berlagak jadi bos bila mentraktir orang lain. Di Jepang bahkan perempuan tidak selamanya harus ditraktir laki-laki bahkan saat pacaran. Orang tak punya acap merendahkan diri sambil mencari kesempatan meminta tip atau pemberian.

Orang Jepang yang menghargai, low profile, tidak suka tip, merupakan bagian dari sikap yang menarik untuk ditiru. Berbeda dengan di Indonesia, Arab. Selain itu, orang Bangladesh, India, Pakistan acap kali tidak malu meminta. Bahkan dia pun berani tidak mengerjakan kebersihan kamar hotel ketika tidak diberi tip. Saya jadi ingat pada masa rezim Orba (Pak Harto) petugas pemerintahan mulai dari RT, RW, petugas desa, kelurahan, kecamatan, dinas, kabupaten, pemerintahan, sekokah, perguruan tinggi, … acap kali tak mau bekerja kecuali telah diberi tip (amplop). Untuk kenaikan pangkat sekian amplopnya. Kalau orang tidak pandai memberi tip tentu kenaikan pangkatnya terhambat. Untuk mengurus kependudukan (KTP, kartu keluarga, surat keterangan) juga harus pakai tip. Akibatnya korupsi terjadi di banyak tempat.

Salah satu orang yang membasmi pungli adalah Ahok ketika menjadi gubernur DKI. Videonya bertebaran di youtube. Ahok juga menghukum petugas yang malas bekerja. Namun Ahok kalah pilkada konon karena isu sara (suku, agama, ras, antargolongan). Golongan partai mengisyukannya dengan isu sara tersebut. Akhirnya Anies-Sandi menang pilkada DKI.