Home » Posts tagged 'membaca'

Tag Archives: membaca

Masalah Pengajaran Novel (Sastra) di Sekolah

Saya mempunyai seorang guru bernama Profesor JS Badudu almarhum. Beliau adalah salah seorang pakar bahasa Indonesia yang sangat terkemuka di Indonesia. Melalui beliau saya memperoleh informasi tentang kesusastraan. Suatu hari Beliau berkata bahwa beliau membaca novel Belenggu (1940). Beliau mengatakan bahwa novel itu luar biasa indah, kosakatanya gilang-gemilang. Saya terkejut mendengar pernyataan beliau. Saya pernah membaca novel Belenggu, namun kesan saya biasa-biasa saja, tidak istimewa. Informasi dari Prof. JS Badudu sangat berharga bagi saya. Saya pun membaca literatur tentang novel Belenggu. Ternyata novel ini juga merupakan terobosan pada masanya, tema yang diusung baru dan menjadi tren pada masanya. Tema Belenggu terkait dengan profesionalisme (dokter), kemerdekaan pekerjaan, dan kehidupan masyarakat modern di negara merdeka. Tema itu menjadi tema yang baru pada masa itu sehingga sejumlah film pada masa itu pun terpengaruh untuk menayangkan tema-tema yang sama.

Pada saat membaca novel Belenggu, saya tidak melihat keindahannya. Tema kemerdekaan semacam itu pun sudah lama lewat. Mungkin karena saya tidak pernah diajari sebelumnya tentang keindahan novel Belenggu. Sampai saat Profesor Badudu mengatakan bahwa novel Belenggu adalah sebuah novel yang luar biasa indah, kata-katanya gilang-gemilang.

Novel Habiburrahman El Shirazy berjudul Ayat-Ayat Cinta (2004) merupakan novel yang menjadi tren dan temanya diikuti dan ditiru oleh novelis pengikutnya. Novel ini pun dinilai orang sebagai novel yang indah. Novel ini menjadi puncak penjualan (best seller) pada masanya. Oleh karena itu, tidak terlalu salah bila sebagian kritikus mengatakan bahwa novel Ayat-Ayat Cinta merupakan salah satu puncak kesusastraan Indonesia pada masanya.

Pada kesempatan lain saya juga pernah mendengar guru saya, Profesor Yus Rusyana, berkomentar tentang novel Saman karya Ayu Utami(1998) Beliau mengatakan bahwa novel itu bukanlah novel yang bagus karena itu kita tidak perlu terpengaruh oleh propaganda orang lain yang mengatakan bahwa novel itu bagus meski novel itu merupakan novel pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta. Tema novel ini cukup vulgar untuk kalangan umum di Indonesia. Namun inti tema novel ini adalah perjuangan untuk memperoleh hak-hak dengan bantuan LSM yang dibumbui perilaku seksual menyimpang (disorientasi seksual) seorang perempuan seperti mencintai pastor, perilaku seks bebas, pacaran berat, dan semacamnya.

Pengajaran novel mesti disampaikan di sekolah-sekolah. Guru-guru mesti menyampaikan novel-novel yang pernah mereka baca untuk merangsang minat siswanya membaca karya yang sama. Siswa-siswa bisa belajar menyukai novel berdasarkan apresiasi guru-guru mereka. Siswa-siswa bisa belajar menyukai novel yang disukai guru mereka Karena guru menyukai suatu novel, siswa-siswa juga bisa menyukai novel itu. Sebaliknya bila guru-guru tidak menyukai novel itu, siswa juga bisa meniru ketidaksukaan guru. Guru bisa saja tidak suka suatu novel dengan berbagai alasan misalnya karena temanya buruk, isinya menyampaikan suatu keburukan, isinya merupakan propaganda kemaksiatan, atau karena guru memang tidak suka membaca (novel).

Kasus yang terjadi pada masa sekarang adalah pengajaran novel sangat kurang. Bahkan di tingkat sekolah dasar tidak ada novel yang diajarkan. Taufik Ismail berkampanye tentamg masalah ini sejak sekitar 1998. Menurutnya siswa-siswa di Indonesia sepanjang pelajarannya di SD, SMP, dan SMA sama sekali tidak pernah membaca satu novel pun. Tak ada satu pun yang mereka baca selama di sekolah atau nol novel yang dibaca siswa di sekolah. Hal ini sangat berbeda dengan situasi di luar negeri.

Menurut saya pengajaran novel atau cerpen sangat penting untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa. Siswa bisa berbahasa yang baik dan benar karena mendengarkan tuturan-tuturan yang baik atau membaca (menonton) tuturan-tuturan yang baik. Kemampuan berbahasa yang baik dan benar sangat penting disaksikan siswa-siswa kita. Kemampuan itu diperoleh dengan mendengarkan dan membaca tuturan yang formal, standar, atau baku.

Snipet Orok Tutunjuk

Budak teh ti orok keneh resep tutunjuk. Sigana bongan kolotna hayang purah tutunjuk. Ayeuna budakna teu eleh resep tutunjuk. Ari budakna tutunjuk, kolotna sok nempo nunjuk kana naon, nunjuk kanu naon. Bisi eta tutunjuk teh mere pituduh.