Home » Posts tagged 'toleransi'

Tag Archives: toleransi

Islam Bukan Hanya Fikih dan Memaksakan Fikih

Sebenarnya kajian fikih kelompok-kelompok Islam itu sangat bagus selama tidak mengurusi kelompok lain. Kajian fikih bidah itu sangat bagus selama tidak memancing pertengkaran dengan kelompok lain. Kalau sudah bertengkar, babak belurlah umat ini. Musuh yang sebenarnya justru tertawa dengan pertengkaran internal umat Islam. Mereka bahkan mengompori agar pertengkaran jadi lebih berkobar. Seolah-olah diadu domba seperti ISIS pada perang Suriah. Katanya ISIS itu Islam, namun ISIS diperalat (proxy) Israel untuk membunuhi umat Islam di Suriah.

Bangsa lain sudah mendarat di bulan, mendarat planet lain, membuat baterai, membuat sepeda listrik, ponsel, aplikasi baidu, namun bangsa ini dengan dalih memurnikan akidah Islam menyerang kelompok Islam lain, menganggap kelompok lain merusak Islam. Memang memurnikan akidah itu penting, namun merasa maksum hingga menyerang sesama muslim itulah yang jadi bermasalah.

Kelompok semacam NU itu cenderung mengurusi internal umatnya. NU memberikan fatwa larangan (haram) pada MLM sementara ada komunitas Islam lain yang membolehkannya. Alih-alih memaksakan fatwa ini pada kelompok lain, NU melaksanakan kewajiban (larangan) itu secara pribadi. Mereka tidak pantas mengurusi kelompok lain meski berani berbeda pendapat dengan kelompok yang membolehkan MLM. NU melihat bahwa banyak yang ikut MLM bertahun-tahun sampai jual tanah dan rumah, akhirnya malah keluar MLM tanpa beroleh laba perdagangan. Sebut saja MLM yang ada: MLM keperluan sehari-hari (sabun, odol), MLM pulsa, bahkan MLM madu propolis, atau obat-obatan.

Sebaliknya, beberapa kelompok lain justru mengurusi kelompok lain. Asyura mendapat pelarangan. Orang berkhutbah atau berceramah di mimbar tentang bidah tawasul, khilafiah tahlilan, yasinan, ziarah kubur, qunut, solawatan, marhabanan, 23 rakaat tarawih, zahar niat, zahar zikir, bersyair di corong masjid (marhabanan, ya lal wathan, din as salam, solawat kafi, sabyanan), Muludan (Rabiul Awal), Rajaban, Nisfu Syaban, Asyura (Safar), Rebo Wekasan, Arbain, …. Orang luar membidahkan NU di depan orang NU. Kelompok ini alih-alih mengatur komunitasnya, mereka menjelek-jelekkan atau memaksa kelompok lain seperti dirinya. Akibatnya muslim bertengkar dengan muslim lain karena yang satu menyerang, yang lain membela diri.

Ada orang yang meminta maaf kepada jamaah kelompok lain dan menyalahkan amalannya, “Maaf, ya, nisfu Syaban itu hadisnya dlaif …, maaf ya, Muludan itu bidah …, maaf ya, mengucapkan selamat natal itu bidah …, tahun baruan itu bidah …, valentinan itu haram …, Asyura dan Arbain itu bukan tradisi milik Syiah saja, ahlul bait Nabi saw itu milik semua muslim.” Jangan sampai seseorang menganggap dirinya sebagai guru maksum bagi lawan bicaranya.

Bahkan tradisi membidahkan ini tiap tahun diselenggarakan. Masuk bulan Muharam, tradisi Asyura diharamkan. Masuk bulan Safar tradisi Rebo Wekasan diharamkan. Masuk bulan Syaban, tradisi Nisfu Syaban diharamkan. Masuk Rajab, tradisi Rajaban diharamkan. Masuk bulan Februari, valentin diharamkan. Masuk bulan Desember, ucapan selamat Natal, tahun baruan, niup terompet diharamkan. Tiap tahun bertengkar tentang pertengkaran yang sama dengan tahun lalu. Kalau tidak ketemu orangnya, mereka menyebarkan isyu bidah di medsos. Capek, deh.

Apakah saat ini ada kelompok Islam yang lebih banyak mengurusi diri sendiri, kelompok sendiri? Adakah kelompok Islam yang mengurusi masalah fikih halal/haram, sunnah/bidah?

Bahkan urusan pilihan demokrasi dan pilihan orientasi politik pun difatwakan. Sekelompok orang mengurusi masalah khilafiah ini. Analogi yang kurang tepat adalah mirip ormas melabel sertifikat halal untuk kulkas atau cat tembok.

Sebenarnya Islam lebih daripada mengurusi fikih meskipun memang fikih itu penting. Urusan penting lain adalah akidah dan akhlak. Di samping itu, jelas fatwa fikih (akidah dan akhlak) itu berbeda-beda. Ada istifta atau meminta fatwa lalu keluar fatwanya. Dulu juga Buya Hamka oleh Pak Harto diminta fatwa mengikuti ritual Natalan atau mengucapkan selamat Natal. Buya Hamka mengeluarkan fatwa haram. Apakah Pak Harto senang mengikuti fatwa Buya Hamka? Buya Hamka akhirnya keluar dari jabatan ketua MUI. Meski begitu kemampuan Buya Hamka tidak hilang. Buya Hamka hanya dipinggirkan saja.

Para muqolid (orang yang bertaklid pada fatwa) harus sadar bahwa fatwa itu hanya untuk mengikat dirinya sendiri. Bukan dipaksakan kepada orang lain. Tak usah repot mengurusi orang lain (kelompok lain) atau memaksa orang lain ikut suatu fatwa. Tak bisa memaksa orang sama dengannya. Bahkan Nabi saw pun yang maksum diprotes sahabatnya. Apakah Nabi saw memaksakan kehendaknya atau memaksakan fatwanya? Mungkinkah sahabat lebih pintar daripada Nabi saw dan pemikiran sahabat akan diterima Tuhan dibanding Nabi saw? Tidak juga.

Apakah ada kelompok yang bahkan tidak membahas akidah kecuali sebagai bagian dari fikih? Apakah ada kelompok orang yang tidak bisa membedakan akidah dan fikih? Apakah ada kelompok orang yang menyatakan bahwa ziarah kubur dan tahlilan adalah akidah? Apakah ada yang menyatakan bahwa menangisi wafatnya kerabat, perbedaan qunut, zahar niat, zahar basmalah, menggerakkan telunjuk tasyahud, tahlil, tawasul, mulud, solawat adalah pembahasan akidah? Jangan sampai bingung yang memasukkan fikih ke dalam akidah.

Apakah kelompok tersebut salah mengidentifikasi fikih sebagai akidah? Sesuatu yang sebenarnya fikih digeser (atau tidak sengaja tergeser) ke masalah akidah. Mereka menduga bahwa masalah ziarah adalah masalah akidah. Masalah akidah sebenarnya seperti ideologi. Akidah bermuara pada dua kalimat syahadat. Maka seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah seorang muslim. Adapun pandangan tentang sifat 20 Tuhan itu masalah akidah khas Asyariyah Maturudiyah. Keragaman pandangan tentang kemaksuman Rasulullah itu adalah keragaman akidah dalam Islam. Ada kelompok yang menyatakan (naudzubillah) Nabi saw lupa dalam salatnya, diberi masukan teks azan, terlambat salat subuh, bermuka masam, salah dalam penyerbukan, tertarik pada istri anak angkatnya. Jadi pengertian maksum berbeda-beda dalam “akidah” kelompok-kelompok Islam.

Jika dilihat, mazhab akidah dalam Islam pun tidak hanya satu. Ahlusunnah mempunyai sejumlah mazhab akidah seperti Asyariyah, Maturidiyah, Muktazilah, Wahabi, Khawarij, Itsna Asyariyah. Syiah juga punya sejumlah mazhab akidah seperti Itsna Asyariyah, Zaidiah, Ismailiyah.

Memang ada yang memberikan fatwa bahwa jika seorang muslim mengingkari Muhammad saw sebagai nabi, dia keluar dari Islam. Dia melanggar akidah Islam. Tetapi tidak semua dosa besar mengakibatkan seseorang keluar dari Islam. Meninggalkan salat, berzina, mencuri, membunuh meski dosa besar tidak selamanya mengakibatkan pelakunya keluar dari Islam.

Perkara orang ini munafik atau ingkar (kafir) pada masalah akidah, itu adalah masalah lain.

Apakah ada yang murtad namun merahasiakan kemurtadannya kepada muslim lain? Apakah ada yang hendak merongrong Islam dari dalam? Apakah ada yang ingin Islam semau gue? Apakah ada yang merusak Islam? Apakah ada yang mengklaim Islam dari sumber tertentu (jalur sahabat atau ahlul bait Nabi saw) namun kegiatannya bidah dan merusak Islam?

Mungkin ada kelompok yang, alih-alih mengatur jamaahnya untuk mengetatkan fikihnya, mereka juga mengatur jamaah lain dan memaksa jamaah lain seperti fikih dirinya. Contohya masalah tahlil, jumlah rakaat tarawih yang sebenarnya masalah fikih. Tahlilan atau haul diperingati oleh NU. Demikian pula dengan Asyura dan Arbain (40 hari syahadah Imam Husain bin Ali). Seseorang bisa mendengar ceramah Asyura dan Arbain dari berbagai kelompok muslim: Buya Yahya (Albahjah, Cirebon, https://youtu.be/g57u-VDQiT0, https://youtu.be/g57u-VDQiT0), Habib Riziek Shihab (https://youtu.be/_6mvjEZkltA), Gus Baha NU (https://youtu.be/Kel88-MLeyw), Gus Muwafiq NU (https://youtu.be/pfedGlUjOE8), Kyai Said Aqil Siroj NU (https://youtu.be/bW-S9ch8Slk), Habib Hasan bin Ismail Al Muhdor (https://youtu.be/eAuHN9iILf0), Habib Muhammad bin Alwi (Syiah, https://youtu.be/pFdnNdpDHW0), Habib Musa Kazhim (Syiah, https://youtu.be/a_vWjvEl5OE), Rahmat Baequni (https://youtu.be/MMUW_VGmjJU). Asyura bukan milik Syiah semata. Ahlul bait juga bukan milik Syiah semata. Duka untuk Ahlul Bait Nabi saw tidak hanya dialami Sunni dan Syiah, bahkan semua manusia. Tidak hanya muslimin.

Jangan sampai ada kelompok yang berupaya membubarkan kelompok lain dengan dalih meluruskan akidah. Orang bisa berduka dan tahlilan karena kematian kerabat. Yang menyelenggarakan majlis duka juga tidak terlarang dan tidak mengganggu akidah. Apakah ada kelompok yang bersikeras mengatakan bahwa majlis duka, haul, atau tahlilan merusak akidah? Apakah ada kelompok yang cenderung mengatakan tahlilan, solawatan, muludan, tawasulan, qunut, ziarah sebagai ritual yang merusak akidah? NU mempunyai tradisi yang kuat. Kelompok lain malah menyerang NU sebagai perusak akidah, di luar Islam atau kutub terjauh dari Islam. Padahal khilafiah punya keterbatasan ketika kelompok ini tidak mengklaim maksum atau semaksum Imam Mahdi.

Mungkin kelompok ini keliru dalam memahami perbedaan fikih (yang mereka sebut akidah).

Dikatakan bahwa manusia itu musuh kebodohannya. Dia benci dengan kebodohannya. Dia membenci kebodohannya. Namun jangan sampai karena bloon (atau dungu menurut terminologi Rocky Gerung), ia menyerang atau membungkam kelompok lain agar tumpas lalu dirinya jadi terlihat pandai.

Jika suatu person mengklaim maksum, patutkah ia memaksakan fatwanya kepada kelompok lain? Padahal Nabi saw yang maksum pun tidak memaksakan kepada sahabat-sahabat terdekatnya. Tadi juga ada gambaran riwayat protes sahabat kepada Nabi saw. Berarti protes kepada kelompok yang suka membidahkan juga diperbolehkan.

Apa Itu Pintar, Pandai, Cerdas, Cerdik

Sebagian pakar mendefinisikan pintar, pandai, cerdas, cerdik sebagai sinonim. Tentu ada perbedaan khususnya namun prinsipnya sama.

Pintar, pandai, cerdas, cerdik itu didefinisikan sebagai memahami tanda.

Kepintaran, kepandaian, kecerdasan, kecerdikan itu mengandalkan pengetahuan (ilmu) dan logika. Jika dia melihat mendung maka ia memahami mendung itu sebagai tanda dari hujan. Penguasaan banyak bidang didasarkan pada banyaknya ilmu. Jika ia punya ilmu tentang angka, is berpotensi memecahkan masalah tentang angka.

Kebenaran bisa direnungkan. Hal ysng mudah tak perlu diperhitungkan lagi.

Orang-orang pandai itu akan disiplin dan teratur namun juga berpotensi kreatif. Orang pandai juga bisa berpikir panjang atau pendek.

Mengizinkan Orang untuk Berbeda Mazhab

Seseorang dikatakan muslim bila dia bersyahadat. Titik.

Seseorang dikatakan muslim bila dia bersyahadat. Titik. Seeorang yang mengakui kewajiban salat namun tidak melaksanakannya tidaklah membuat dia keluar dari Islam. Seorang muslim yang berzina, minum khamr, atau membunuh tidak serta merta keluar dari Islam. Ada fatwa yang mendasari hukum tentang kondisi seseorang keluar dari Islam.

Dalam berhaji juga mazhab berbeda-beda. Sungguhpun demikian ada peristiwa yang dialami seorang jemaah haji ditegur orang lain. Dia katakan cara berpakaian ihram teman Anda salah. Kondisi haji, orang yang tidak dikenal memperbaiki syariat orang lain. Di satu sisi, ada yang menganggapnya sebagai kasih sayang, persahabatan, persaudaraan; namun di sisi lain, potensi konflik mazhab bisa terjadi.

Mazhab (sekte, aliran, golongan, kelompok) sudah tidak bisa dipungkiri lagi keberadaannya. Mungkin mazhsb ini sampai 73 golongan. Mazhab satu berbeda dengan yang lain. Contoh perbedaan mazhab adalah sebagai berikut. Ada yang niatnya siri, ada yang zahar. Ada yang basmalah siri, ada yang zahar. Ada yang qunut, ada yang tidak. Ada yang tarawih 11 rakaat, ada yang 23 rakaat. Ada yang telunjuknya diam, ada yang bergerak-gerak. Ada yang ziarah kubur, ada yang tidak. Ada yang tahlil, ada yang tidak. Ada yang muludan, ada yang tidak. Ada yang tawasulan, ada yang tidak. Ada yang solawatan, ada yang tidak. Ada yang marhabanan, ada yang tidak.

Selain fikih (furu, cabang), perbedaan mazhab juga disertai perbedaan pandangan akidah. Banyak ulama ahli kalam berbeda pendapat tentang masalah akidah. Setidaknya menurut sebagian ulama, akidah meliputi ketuhanan dan kenabian. Karena itu seorang menjadi muslim hanya karena dia telah bersyahadat yaitu dia mengakui Tuhan tunggal dan beriman kepada Muhammad (meyakini utusannya).

Contoh perbedaan akidah tentang ketuhanan di antaranya, ada sebagian muslim yang meyakini Tuhan itu berwajah, bertangan, bersinggasana di atas arasy, turun dari arasy seperti turun meniti tangga, sifat Tuhan (wujud, qidam, baqo, …), dan sebagainya. Sebagian muslim lain meyakini bahwa istilah wajah, tangan, arasy adalah simbol atau kias pada kekuasaan atau sesuatu.

Contoh perbedaan akidah tentang kenabian di antaranya, ada sebagian muslim yang meyakini nabi maksum meski melakukan kesalahan, Nabi bermuka masam ketika menghadapi orang buta, Nabi lupa dalam salatnya, nabi minta nasihat sahabat terkait teks azan, nabi salah dalam penyerbukan kurma, Nabi tersihir, Nabi tertarik kepada istri anak angkatnya, Nabi tak tahu hukum lalu menunggu wahyu. Mazhab yang diyakini mayoritas (?) muslim meyakini bahwa Nabi maksum dan tak melakukan kekeliruan, pembesar Quraisy bermuka masam ketika orang buta datang, Nabi tak pernah lupa dalam salatnya, Nabi mendapat wahyu terkait teks azan, Nabi paham dalam penyerbukan kurma, Nabi tak pernah tersihir, Nabi tidak tertarik kepada istri anak angkatnya sampai mereka bercerai, Nabi tahu hukum ketika ditanya hukum oleh sahabat, semua ucapan Nabi adalah wahyu, semua perbuatan Nabi adalah wahyu. Wama yantiku anil hawa, in huwa illa wahyu yuha.

Masalah akidah lain di antaranya keyakinan pada rukun Iman dan rukun Islam. Rukun iman dan rukun Islam memang bersumber dari sabda Rasulullah. Namun penyebutan Rukun Iman dan Rukun Islam sebagai bagian dari akidah adalah rumusan ulama Asyariyah Maturidiyah. Ulama Syiah Itsna Asy’ariyah pun merumuskan usuludinnya yang berbeda dengan Asyariyah, Maturidiyah, Muktazilah, Murjiah, Itsna As’ariyah, dan sebagainya. Jadi rukun Iman dan rukun Islam juga tak jadi akidah mutlak.

Melihat perbedaan itu, sungguh sepele bila ada perbedaan fatwa ihwal boleh tidaknya mencoblos kontestan pemilu atau pilkada, fatwa tentang fikih, fatwa wahabi (?) tentang larangan membakar bendera HTI/ISIS/tauhid, fatwa larangan mencoblos pendukung Cina (?), larangan mencoblos pelanggar janji (?), fatwa HTI tentang larangan berdemokrasi, fatwa HTI (?) tentang togutnya presiden, fatwa HTI (?) tentang togutnya simbol negara seperti bendera merah putih atau Garuda Pancasila, fatwa HTI tentang larangan menghormat bendera merah putih, atau beragam fatwa aneh lain di tahun demokrasi. Fatwa bisa berbeda, namun umat tidak boleh dipaksa ikut pada suatu fatwa sebab umat berhak mengikuti fatwa yang lain.

Jangan sampai menjadi keledai yang bisanya menyalahkan mazhab lain, bahkan mengkafirkan mazhab lain. Hanya gara-gara beda pilihan presiden, atau orientasi politik lalu dianggap kafir, musrik, murtad, ahli nar, dan sebagainya.

Satu fatwa setara dengan fatwa lainnya. Bila ada fatwa yang melarang berdemokrasi, maka fatwa yang membolehkannya pun setara. Seseorang bebas melilih fatwa berdasarkan mazhabnya. Fatwa tidak bisa lebih tinggi karena dipaksakan kepada pemeluknya, atau karena pemberi fatwanya galak dan melotot demi yang dianggapnya (so called) Islam lurus atau murni. Seorang ulama tak bisa mengklaim dirinya murni 100% karena dia tidak maksum. Buktinya adalah fatwanya berbeda dengan ulama lain. Bila ia mengklaim maksum, barulah ia bisa mengklaim fatwanya murni dan dia bisa menjamin seseorang masuk surga, orang yang mengikuti fatwanya berpotensi masuk surga. Orang yang mengikuti Rasulullah 100% pasti masuk surga karena Rasulullah maksum. Namun interpretasi dari Rasulullah tidak dijamin masuk surga karena ulama yang menginterpretasi tidak maksum.

Bila seseorang muslim berbeda dengan muslim lain pada tataran akidah ataupun fikih, maka orang itu tetap muslim. Bekalnya hanya syahadat. Dengan syahadat seseorang diakui sebagai muslim yang hak, harta, darah, dan kehormatannya wajib dijaga. Apakah syahadat harus disaksikan orang lain? Seseorang yang nonmuslim akan menjadi muslim dengan mengakui dua kalimat syahadat.

Oleh karena itu, izinkan seseorang yang ingin berbeda mazhab, berbeda fikih, dan mungkin akidah (sebenarnya tak perlu izin orang lain). Sama seperti orang lain membiarkan kita berbeda mazhab. Kapanpun dia berpindah mazhab, tak perlu diumumkan dan tak perlu diketahui orang lain.

Agama mengajari manusia tentang perundungan?

Fenomena cyberbullying (istilah pada video berikut) terjadi pada Anies dan Jokowi.

Tidak hanya itu, cyberbullying juga terjadi di antara para pengikutnya, bahkan sesama saudara (contohnya IKBKK).

Perundungan tidak hanya terjadi di kelas, bahkan di pekerjaan, dan di lingkungan.

Bagaimanakah manusia menyambut masa depan?

https://youtu.be/2Ga_QQdyv6M

Agama mengajari manusia tentang perundungan?

Ketika para nabi menyampaikan sesuatu dengan lembut, mereka dirundung. Ketika Anies atau Jokowi mengatakan sesuatu dengan lembut, mereka dirundung (di-bully). Bahkan ada yang mengancam bunuh atas nama agama.

Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan solusi critical thinking pada objek fakta atau opini. Memang sejak SD, pelajaran tentang fakta dan opini sudah diajarkan. Namun sebagian orang terpengaruh pada perundungan itu, lalu malah terdistorsi orientasi baiknya. Manusia jadi buruk gara-gara dirundung, dimaki, dihina. Padahal rundungan itu jika tidak dilawan akan kembali kepada si perundungnya. Menteri Nasiem juga mengalami perundungan bahkan di Amerika dan Indonesia. Seorang ysng sadar dengan perundungan tidak perlu marah atau kecewa dengan tingkah manusia yang dianggapnya merugikan orang lain (?).

Nabi Isa as pernah berjalan melewati sekelompok orang. Lalu orang-orang itu merundung, memaki beliau as dengan kata-kata yang kotor. Nabi Isa as malah mengucapkan kata-kata baik kepada mereka dan mendoakan mereka. Sahabat beliau as bertanya, mengapa beluau as membalas mereka dengan kata-kata baik dan lembut? Nabi Isa as memgatakan bahwa manusia mengeluatkan apa yang ada di dalam jiwanya. Jika jiwanya kotor maka kotoranlah yang keluar darinya (dari mulut, pena, atau papan tiknya).

Mungkin saja ada orang-orang yang berani mati membela Anies atau Jokowi. Raja Angga Karna juga berani mati demi Pangeran Duryudana atau menerima kekalahan dari Arjuna. Bahkan meski tahu bahwa Duryudana adalah pihak yang salah dan memerang Arjuna berarti memerang kebenaran serta memerang adiknya sendiri.

Krisna pernah mengemukakan masalah ini kepada Karna. Apakah Karna begitu berutang kepada Duryudana sehingga meskipun Duryudana bersalah, Karna tetap membelanya? Apakah bila Duryudana menyeret Karna ke neraka, Karna akan menurutinya? Karna memilih mengikuti Duryudana, mengikuti kehendak Duryudana memerangi Pandawa. Problem ini juga bukan hanya Karna. Yang terseret Duryudana ke neraka juga Bisma, Dorna, Aswatama, Kripa, para raja dan satria sekutunya serta pasukan pendukungnya.

Salah satu misteri dari Baratayuda adalah Krisna menyerahkan pasukan Narayaninya menjadi pasukan pendukung Duryudana. Namun tak mungkin seorang yang maksum melakukan kesalahan semacsm itu. Mungkinkah pasukan Narayani diganti dengan pasukan lain? Mungkinkah pasukan Narayani sebelum pertempuran beralih pihak menjadi pendukung Pandawa yang Krisna ada di dalamnya.

Logika Politik Awam



Logika politik awam adalah seseorang yang tidak menyukai Jokowi dan mencoblos oponennya. Kemudian ketika oponen Jokowi itu kalah, dia tidak bisa menerima kekalahan itu. Dalam demokrasi Indonesia alih-alih menerima kekalahan, mereka menjelek-jelekkan lawan politiknya. Bukan kebetulan jika pilihan masyarakat adalah Jokowi atau oponennya. Orang yang mencoblos SBY juga mungkin banyak mengkritik SBY. Bahkan bisa dikatakan parah seandainya SBY melakukan tindak korupsi semacam isu migas atau Hambalang. Warga tidak seharusnya merundung (bully) SBY tetapi warga bisa mengkritiknya dengan wajar. Mungkin hanya kadrun eks-HTI yang mengatakan SBY, Jokowi, dan pejabat RI lainnya sebagai togut. Pada masa sekarang juga, di era Jokowi sejak tahun 2014 hingga 2019, masyarakat melihat isu-isu yang sangat buruk bagi presiden tersebar seperti isu PKI, Syiah, komunis, Cina, antek asing dan aseng, kerempeng, tukang kayu, gubernur terbodoh di dunia, gabener, Petruk dados ratu, cebong, kampret, bani togog, kadrun … segala ujaran yang tidak pantas digunakan untuk seseorang. Sekalipun warga juga mengkritik SBY, sebagian warga itu tidak bisa menerima SBY dikatakan sebagai togut. Kelompok itu kini tidak bisa menerima Jokowi walaupun tidak (terang-terangan) mengatakan Jokowi sebagai togut.

Perbedaan orientasi politik itu biasa namun mengatakan seseorang yang tidak pada tempatnya itu adalah fitnah atau ghibah.

Orang sekarang cenderung menyalahkan. Jokowi dikatakan mengkriminal ulama-ulama namun menutup mata alasan orang itu dikriminal, misalnya orang itu mengancam atau menghina presiden (lambang negara). Menghina atau mengancam membunuh presiden adalah tindakan kriminal. Polisi tak perlu menunggu delik aduan dan langsung bisa menciduk pelakunya.

Menghina raja di Saudi itu terancam hukuman berat. Menghina raja melalui medsos atau mrngatakan hal yang buruk tentang raja di Thailand atau Kaisar di Jepang juga terancam hukuman berat. Anda mau tinggal di Indonesia yang rakyatnya bebas menghina presiden? Dulu pada masa Pak Harto, jangan diharap menghina presiden akan dibiarkan. Yang paling parah adalah diculik, dipetrus (penembak misterius), atau dikarungi (dimasukkan karung dalam keadaan mati). Sekarang ada orang gila yang mabok lalu membunuh ulama-ulama NU dan merusak fasilitas umum.

Asal tahu saja bahwa yang menceploskan para penghina Jokowi itu bukan Jokowi melainkan pendukung-pendukung Jokowi demikian pula yang menceploskan penghina Anies bukanlah Anies Baswedan melainkan pendukung-pendukung Anies. Itu legal dan sudah ada dalam undang-undang.