Anak Hiperaktif di SD dan Penanganannya

Ini adalah bagian dari pengalaman anak-anak di sekolah dasar. Ada kasus seorang anak yang sangat bermasalah. Anak ini adalah anak yang hiperaktif. Dalam bahasa yang lebih lugas dikatakan sebagai anak yang nakal. Seseorang bisa mengenal anak semacam ini karena ada tanda-tandanya. Lebih lanjut anak-anak nakal tersebut berpotensi untuk menjadi buruk dan jahat. Jika didiamkan kenakalan ini bisa terbawa hingga dewasa.

Continue reading →

Umur Belajar Mengenal Huruf dan Menggoreskan Pensil

Salah satu pembahasan penting dari pembelajaran membaca permulaan adalah mengubah keyakinan bahwa siswa anak-anak harus matang terlebih dahulu untuk belajar sesuatu. Ada kalanya orang tua menganggap anak-anak belum matang untuk belajar membaca atau menulis permulaan. Ada orang tua yang tidak pernah mengajarkan huruf-huruf kepada anak-anaknya. Ada orang tua yang tidak pernah mengajarkan memegang pensil kepada anak-anaknya. Ada orang tua yang tak pernah meminjamkan ponsel kepada anak-anaknyanya meskipun ponsel itu bisa digunakan untuk tujuan-tujuan pelajaran. Continue reading →

Peran Strategis Organisasi Kemasyarakatan Islam dalam Kehidupan Berbangsa

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang besar. Sebagian masyarakat Indonesia mempunyai kecenderungan NU baik secara organisasional maupun kultural.

PMII adalah anak dari organisasi NU. NU juga mempunyai banyak anak cabang untuk menampung kreativitas anggotanya seperti partai PKB, Ansor, Koperasi, dsb.

Silaturahmi dengan organisasi lain harus dilakulan seperti dengan NU, Muhammadiyah, Persis, bahkan LDII, atau FPI. Silaturahmi ini dilakukan untuk mencegah insiden yang bisa terjadi seperri insiden peringatan hari lahir (harlah) NU di Yogya. Yogya memang kota bersejarah Muhammadiyah, namun NU juga tidak kurang besar di sana. Bahkan Sultan mempunyai acara Suroan, dan tradisi lain yang notabeme sejalan dengan tradisi NU. Continue reading →

Sucpdi Peminta-Minta

#sucpdi

Ada dua orang peminta-minta berjalan berkeliling. Pemandangan yang tidak asing dilihat mata di perkotaan. Kita tidak kenal siapa dia, dari mana. Mereka berdua sepertinya suami istri atau bersaudara. Yang lelaki matanya terpejam digandeng oleh yang perempuan. Mereka lewat di depanku di warung sate, persis saat saya mau makan. Saat ini sekitar pukul 17.

Aku memberi mereka recehan 2000 perak. Jelas tidak cukup untuk apapun. Untuk makan tidal cukup. Untuk ongkos tidak cukup. Hanya sekedar menyumbang receh. Tetapi begitulah peminta-minta di sini, cuma dapat recehan. Sama seperti pengamen dapat recehan. Namun konon baik pengamen maupun peminta-minta bisa mengumpulkan puluhan ribu tiap harinya. Mungkin melebihi penghasilan yang bekerja. Kuli bangunan sekurangnya dapat 100 ribu usai kerja dari pagi sampai sore. Seniman hajat dapat 100 ribu setelah kerja bermusik seharian. Warung bala-bala atau tahu isi jika dapat keuntungan bruto 50–100 ribu sehari saja sudah pantas bersyukur. Warung bakso yang semangkoknya 10 ribu pantas bersyukur bila ada 50 pelanggan setiap harinya. Keberkahan memenuhi keluarga saat roda ekonomi berputar.

Tulisan ini akan difokuskan pada recehan. Recehan yang kuberikan itu sebenarnya tidak pantas. Tidak cukup untuk apapun. Semestinya kita tanyakan apa yang dia butuhkan. Kalau dia butuh makan, kita beri dia makan. Kalau dia butuh ongkos, kita beri dia ongkos. Kalau dia perlu pekerjaan, mungkin kita bisa memberi dia pekerjaan, misalnya memelihara domba atau sapi. Pekerjaan apapun bisa diberikan asal upahnya pantas. Upah pekerjaan tidak sesedikit upah pengamis. Jika pengemis lapar, memberinya makan di warteg adalah suatu kemewahan atau suatu yang biasa? Apakah dikatakan sedikit memberi sedekah makan nasi warteg yang harga seporsinya 15 ribu? Apakah sedikit memberi upah gratis 15 ribu? Tidak.

Level prminta-minta adalah 1000–2000 rupiah per sekali transaksi. Sepuluh kali transaksi ia sudah bisa pulang. Kadang-kadang orang tidak mau sedekah di pagi hari dengan alasan barang dagangan belum laku dan si pedagang belum punya laba. Sedekah di sore hari pun acap kali tidak diberikan karena si peminta-minta dianggap sudah cukup banyak memperoleh uang. Sayangnya ada anak-anak peminta-minta yang tak tahu makna uang yang sebenarnya. Lebih parah lagi sejumlah anak dieksploitasi orang tua untuk kepentingan orang tua. Bahkan orang tua dan anak-anaknya meminta-minta dengan daerah operasi yang berbeda.

Level pedagang harian adalah yang pendapatannya 20, 50, 100 ribu per hari. Pedagang ini seperti pedagang tahu isi, pedagang bakso.

Level pedagang musiman dan pencitraan adalah pedagang besar, grosiran, kontraktor atau proyekan. Ketika panen, uang terkumpul banyak dari pembeli (bandar). Dia pun bisa memperoleh laba sampingan lainnya. Panen kambing, sapi, atau kerbau bisa terjadi di musim rayagung.

Kejujuran dalam bekerja merupakan salah satu kunci keberhasilan. Allah swt memberkahi seseorang yang pulang ke rumahnya dalam keadaan capek karena mencari nafkah. Seseorang harus yakin bahwa kerjanya akan memberi nafkah. Seseorang harus yakin bahwa kejujuran membawa berkah baginya. Seeeorang yang tidak jujur akan kehilangan hartanya di dunia ataupun akhirat. Seseorang bisa kehilangan harta berupa kehilangan mata di akhirat karena tidak jujur pada diri sendiri.

Macetnya ekonomi masyarakat disebabkan investor atau pekerja menipu rekan kerjanya. Seseorang yang kerja di toko menipu pemilik toko. Seseorang pekerja menipu temannya sendiri. Atasan menipu dan menindas bawahan. Atasan tidak kasih sayang terhadap bawahannya. Pegawai ternak menipu investor ternak.

Imam Hasan konon ditugasi oleh ayahnya untuk menjamu orang-orang yang membutuhkan sehingga rumahnya seperti restoran tempat orang lapar makan atau penginapan tempat musafir tinggal.

Seorang tamu Imam Hasan membawa makanan untuk dibawanya pulang. Imam Hasan bertanya, mengapa engkau bawa pulang? Engkau bisa datang lagi esok hari ke sini jika lapar.

Orang ini menjawab bahwa ia ingin memberi seorang tua yang tinggal di pinggir kota. Imam Hasan bertanya cir-cirinya dan orang ini membenarkan. Lalu Imam Hasan menangis dan berkata, “Ketahuilah bahwa orang yang engkau sebutkan tadi adalah ayahku, Ali bin Abi Thalib. Ia berada di pinggir kota dan bekerja keras di kebun untuk membiayai semua makanan yang ada di sini.

Apakah ini cukup pantas untuk cerita #sucpdi atau apakah kita tidak lupa bahagia?

Cerita SPION

#sucpdi

Spion menjadi bukti bahwa orang Indonesia ganteng-ganteng. Bahkan saya melihat seorang yang tampangnya seperti ikan lohan juga melintir spion motor orang lain demi (me)ngaca.

Seharusnya orang-orang tahu bahwa fungsi spion itu bukan buat mengaca. Tetapi di negeri ini aturan itu diubah. Spion sepertinya tidak begitu penting. Yang lebih penting adalah mengaca biar tampang tidak terlihat memalukan.

Orang juga mengaca di kaca mobil orang lain atau di spion mobil orang lain. Catatan, dia harus yakin bahwa di dalam mobil itu tidak ada orang. Kalau ada orang, mungkin orang di dalam mobil itu akan ketawa atau mencibir orang yang mengaca, “Udah nggak apa-apa. Kamu sudah berusaha ganteng. Jangan kapok ya.”

Akhirnya saya juga mencoba mengaca di spion orang lain. Saya parkir lalu turun dari motor. Sambil menunduk saya memelintir spion motor di samping saya dan mengaca. Spion tak perlu dikembalikan ke posisi semula. Saya merasa masyarakat tak marah spionnya diplintir seperti itu. Itu biasa. Justru sangat aneh bila orang marah untuk urusan itu. Namun ngaca di spion orang juga perlu trik yang meyakinkan sehingga tidak menarik perhatian orang.

Tidak semua orang suka tampang kita atau melihat kita mengaca. Sama jijiknya seperti seseorang memijat jerawat di depan orang lain. Belum lagi bila yang punya motor ada di sekitar. Dia akan ngomong apa? “Udah nggak apa-apa. Kamu sudah berusaha ganteng. Jangan kapok ya.”

Spion sepertinya tidak banyak digunakan dalam berlalu-lintas. Jadi biasa saja. Tak perlu marah. Setiap orang mesti biasa memelintir spion motor tetangganya.

Jangan lupa bahagia.

#sucpdi