Home » Posts tagged 'ziarah' (Page 10)

Tag Archives: ziarah

Hari-Hari Ziarah Haji (7)

Cerita 4

A: Oom, kenapa kamu amalan fikinya, salat dan bacaannya beda denganku?

B: Mengapa harus sama? Apa kamu guruku?

Tamat

Pembahasan
Sebagian (atau kebanyakan?) orang Indonesia ingin orang lain sama fikih furunya. Padahal ia bukan guru, bukan mujtahid, bukan mufti.

Saya juga melihat beberapa kali orang India, Bangladesh, atau Pakistan (maaf) menyuruh orang lain, memperbaiki (gerakan) ibadah orang lain. Mungkin ia berpikir bahwa ia memurnikan agama, ia mensucikan agama. Padahal seorang marja pun tidak boleh bertindak memperbaiki orang yang bukan di bawah kuasanya.

Muslim beribadah sesuai Quran, hadis. Kita sebahai muslim merasa yakin bahwa fatwa ulama bersumber dari Quran dan hadis. Ulama dari MUI, ulama NU, ulama Muhammadiyah, dan lain-lain akan merujuk pada Quran dan hadis saat membuat fatwa.

Namun mengapa fatwa bisa berbeda-beda? Mengapa fatwa NU, Muhammadiyah, MUI berbeda-beda tentang suatu masalah? Mengapa tidak sama?

Itulah realitas ulama. Kenyataannya ulama tidak sepakat tentang suatu masalah. NU fatwanya A, Muhammadiyah fatwanya B, dan seterusnya.

Mungkinkah dipaksakan sama? Mungkin tetapi sulit. Buya Hamka ketika menjabat sebagai pimpinan MUI diminta fatwa oleh Presiden Soeharto tentang bolehnya mengucapkan srlamat natal. Setelah Buya Hamka pelajari, dikekuarkanlah fatwanya yaitu tidak boleh mengucapkan selamat natal. Konon Pak Harto mendesak agar dikeluarkan fatwa yang berbeda. Buya Hamka mengatakan bahwa sekali fatwa dikeluarkan, tak boleh dicabut lagi. Tekanan Pak Harto kepada MUI mendorong Buya Hamka mengundurkan diri dari MUI.

Mazhab-mazhab dalam Islam pun berbeda-beda fatwanya. Mereka pun tidak bisa diseragamkan.

Fatwa tidak seragam karena ulama tidak maksum. Seandainya ulama maksum, tentu hanya ada satu fatwa yang keluar. Umat tidak akan bingung dengan perbedaan fatwa. Siapakah yang maksum pada masa sekarang? Konon Imam Mahdi maksum. Kemaksuman ini tetiwayatkan dalam dalil nakli dan akli. Dalil naklinya yaitu hadis yang menyebutkan bahwa sifat Imam Mahdi seperti sifat Nabi Muhammad saw. Dalil aklinya juga bersumber dari hadis tentang perintah Nabi Muhammad saw agar umat taat kepada Imam Mahdi. Akal mengatakan bahwa perintah taat kepada orang yang tidak maksum bukanlah taat secara mutlak. Oleh karena perintah Nabi Muhammad tanpa kecuali, berarti perintahnya mutlak dan ketaatan manusia juga harus kepada sosok yang maksum.

Realitas ketaatan kita kepada fatwa ulama merupakan contoh ketaatan kita kepada orang yang tidak maksum. Tidak mutlak. Bukti dari ketidakmaksuman adalah fatwa para ulama yang berbeda-beda.

Umat pun tidak boleh menutup kemungkinan kebenaran dari fatwa ulama lain. Umat harus toleran pada perbedaan fatwa, misalnya fatwa tentang khilafah, demokrasi, nonmuslim menjadi gubernur, MLM, asuransi, salat, waktu puasa, dan sebagainya.

Hari-Hari Ziarah Haji (4)

Meminta Tip di Indonesia, Arab, dan Jepang

Mungkin ini yang kerap terjadi saat haji. Jemaah haji Indonesia biasanya “murah hati” dengan memberi sedekah kepada orang di sekitarnya. Saya sering melihat jemaah di kloter kami yang memberi sedekah kepada tukang sapu di jalanan, petugas kebersihan (cleaning service) di hotel, dan sebagainya.

Saya pernah mendengar cerita gilanya sopir bus di Arab yang mengantar jemaah dari Mekah ke Madinah atau sebaliknya. Di tengah perjalanan, di padang pasir yang panas, ia menghentikan busnya, menepi, mematikan mesin, dan tidur di situ juga. Pimpinan jemaah segera bertindak mengumpulkan uang satu realan dari jemaah. Ia lalu membangunkan sopir dan menyuruhnya meneruskan perjalanan. Sopir bus ketika melihat uang disodorkan kepadanya langsung bangun, menerima uang, dan melanjutkan perjalanan.

Cerita lainnya adalah sopir taksi yang mengantar kami ke tempat miqot untuk unrah lalu kembali ke Masjidil Haram. Setelah tawar-menawar, diseoakatilah 50 real. Ketika sampai di Tanim, ternyata diminta 50 real per orang. Semuanya 6 orang totalnya 300 real.

Saya punya pengalaman dengan petugas kebersihan hotel yang bukan kebetulan adalah orang Bangladesh. Ia terang-terangan mengisyaratkan minta uang kepada warga dari setiap kamar yang dibersihkannya. Ia menggunakan bahasa isyarat karena dia tidak menggunakan bahasa Arab, Inggris, atau Indonesia. Anehnya ketika ada kamar yang tidak memberi tip, tidak ada pelayanan kebersihan seperti mengganti sprei atau memvakum lantai kamar. Mungkin ia menduga bahwa jemaah ini dari kampung semua dan tidak bisa komplain kepada manajemen hotel. Padahal kalau ada di antara kami yang komplain ke hotel, mungkin ia bisa dipecat (?) atau mungkin juga hotel tidak akan memberi hukuman yang berarti.

Saya juga punya pengalaman dengan sopir bus yang terang-terangan minta uang lima real dengan alasan untuk makan. Ia meminta dengan wajah memelas. Sangat kontras dengan badannya yang besar, gemuk, dan kumis janggut tipis khas orang Timur Tengah.

Di satu sisi saya bersyukur juga karena wajah saya mungkin masih dipercaya untuk dimintai sedekah. Namun di sisi lain saya prihatin. Sebagian orang yang tidak siap bersedekah mungkin akan malu karena tidak memberi uang tip, sedekah tadi. Pada umumnya orang Arab tidak menganggap jemaah Indonesia bakhil. Justru jemaah Indonesia cenderung dianggap murah hati. Saking murah hatinya jemaah Indonesia sampai dimintai dan tidak dibersihkan kamarnya berhari-hari.

Keadaan yang berbeda adalah keadaan di Jepang. Di Jepang, memberi tip adalah penghinaan. Bila gaji orang Jepang kecil, mereka juga enggan menerima tip (sedekah). Tentu orang Jepang juga menerima hadiah yang berupa penghormatan kepada orang yang diberinya.

Di Jepang orang saling menghormati profesi-profesi. Memang di Jepang juga sisi materialis ada. Filsafat mengatakan bahwa orang punya tentu lebih utama daripada orang tak punya. Tetapi orang Jepang umumnya tidak peduli. Mereka berpakaian rapi, bekerja, dan mendapat uang. Mereka tahu bahwa pendapatan orang berbeda-beda. Namun mereka tidak peduli dan saling menghormati orang lain dengan besar-kecil pendapatannya.

Di Indonesia acap orang kaya melecehkan orang tidak kaya. Orang tak punya acap merendahkan diri. Orang punya acap menyembunyikan kekayaannya tetapi bersuara paling keras. Seseorang berlagak jadi bos bila mentraktir orang lain. Di Jepang bahkan perempuan tidak selamanya harus ditraktir laki-laki bahkan saat pacaran. Orang tak punya acap merendahkan diri sambil mencari kesempatan meminta tip atau pemberian.

Orang Jepang yang menghargai, low profile, tidak suka tip, merupakan bagian dari sikap yang menarik untuk ditiru. Berbeda dengan di Indonesia, Arab. Selain itu, orang Bangladesh, India, Pakistan acap kali tidak malu meminta. Bahkan dia pun berani tidak mengerjakan kebersihan kamar hotel ketika tidak diberi tip. Saya jadi ingat pada masa rezim Orba (Pak Harto) petugas pemerintahan mulai dari RT, RW, petugas desa, kelurahan, kecamatan, dinas, kabupaten, pemerintahan, sekokah, perguruan tinggi, … acap kali tak mau bekerja kecuali telah diberi tip (amplop). Untuk kenaikan pangkat sekian amplopnya. Kalau orang tidak pandai memberi tip tentu kenaikan pangkatnya terhambat. Untuk mengurus kependudukan (KTP, kartu keluarga, surat keterangan) juga harus pakai tip. Akibatnya korupsi terjadi di banyak tempat.

Salah satu orang yang membasmi pungli adalah Ahok ketika menjadi gubernur DKI. Videonya bertebaran di youtube. Ahok juga menghukum petugas yang malas bekerja. Namun Ahok kalah pilkada konon karena isu sara (suku, agama, ras, antargolongan). Golongan partai mengisyukannya dengan isu sara tersebut. Akhirnya Anies-Sandi menang pilkada DKI.